You are here Artikel Pendidikan SEJARAH LOKAL
  • slide1.png
  • slide2.jpg

SEJARAH LOKAL

E-mail Print PDF

Sejarah Lokal (Perspektif Pengajaran Sejarah)

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan sukur kehadirat  Allah SWT dan Junjungan Nabi Muhammad SAW  yang telah memberikan rahmat dan juga hidayahnya sehingga penulis dapat menyusun buku/diktat Sejarah Lokal (Perspektif Pengajaran Sejarah)”.

Diktat ini penulis sajikan dengan beberapa pertimbangan : Pertama: mengingat belum banyak literatur ”pengatar ilmu sejarah dan metodelogi sejarah” bahkan bisa dikatakan masih terbatas baik yang tersedia dalam pasaran (Toko buku) maupun persediaan di beberapa perpustakaan sedangkan peminatnya semakin banyak.; Kedua : guna membantu kelacaran kuliah dan referensi bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan  Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, program pendidikan sejarah pada khususnya, dan mempersiapkan kader guru bidang studi sejarah yang profesional. Ketiga : dengan  mempelajari  ”ilmu sejarah (suatu pengatar dan metodelogi” ini bagi para pembacanya diharapkan  dapat semakin luas wawasanya sehingga memahami sejarah yang benar-benar terjadi dan sejarah sebagai ilmu dan ke Empat : diktat ini sebagai realisasi yang diamanatkan oleh undang-undang dasar 1945 yaitu untuk mencerdaskan bangsa Indonesia ini hanya sebagian kecil dari tanggung jawab dan tugas kita.

 

Dalam menyusun buku ini penulis tidaklah beranggapan tulisan ini adalah yang terbaik, tetapi masih banyak yang perlu disempurnakan. Menyadari karena banyak kekurangan baik mengenai materi dan cakupannya maupun cara penyajiannya. Oleh sebab itu, penulis sangatlah membutukkan kritik serta saran-saran dari siapapun yang mempunyai tujuan memperbaiki atau menyempurnakan isi buku/diktat ini dengan senang hati.

Akhirnya penulis menyampaikan rasa terimahkasih kepada Rektor UNTAG Bapak Sugihartoyo, SH , Dekan FKIP Untag Ibu Dra. Triana Kartika Santi, M.H dan Ketua Jurusan P.IPS Bapak Drs. Waris Leluhur, Rekan-rekan Dosen FKIP UNTAG. Bapak  dan Ibu Dosen Universitas Negeri Jember (UNEJ), Bapak Sukirman dan Ibu Siti Aisyah dan adikku Agus Febrianto dan Nurlaila dan Sri Suci Dewi Wulandari S.Pd yang telah banyak memberikan sumbangan pemikirannya dan yang terakhir teman-teman yang tentunya tidak saya sebutkan satu persatu.

Terimahkasih.

 



LEMBAR PENGESAHAN

1. Mata Kuliah                                    : SEJARAH LOKAL

2. Bidang Kegiatan                            : Buku Ajar

3. Bidang Ilmu                                  : Pendidikan Sejarah

4.  Peneliti

Nama Lengkap dan Gelar                  : Miskawi, S.Pd

NIDN                                             : 0710058501

Jabatan                                         :Wakil Dekan I FKIP

Fakultas/Prodi                                 : KIP/Pend. Sejarah

Alamat dan No. HP                         : Kabat – Banyuwangi (HP. 08179689368)

Dekan FKIP

Totok Hari Prasetiyo, M.Pd

 

Penulis

MISKAWI, S.Pd

 

BAB I

SEJARAH LOKAL

  1. 1. Latar Belakang Sejarah Lokal
  2. I. LPTK (FKIP)

Latar belakang sejarah lokal dalam kurikulum perguruan tinggi Sejarah lokal dimaksudkan untuk mengembangkan kurikulum terkait dengan pendidikan dan pengajaran. Hal ini berhubungan dengan kurikulum muatan lokal yang berhubungan  dengan muatan lokal (mulok) hal ini agar anak didik dapat budayanya sendiri.

  • Sejarah Lokal Kontemporer: Urgensinya Sebagai Muatan Lokal di Sekolah-Sekolah Lanjutan. Penyempurnaan kurikulum pengajaran sejarah harus menempatkan sejarah lokal sebagai muatan lokal. Hal ini untuk menghindarkan mahamahasiswa tercabut dari akar sosio-kulturalnya. Materi sejarah lokal yang paling dekat dengan kondisi psikologis mahasiswa adalah sejarah kontemporer. Kedudukan sejarah lokal kontemporer sangat urgen dalam pengajaran sejarah. Dengan materi sejarah lokal kontemporer, diharapkan ada kesinambungan dalam menyemangati mahasiswa agar dapat merasa bahwa diri dan lingkungannya merupakan bagian dari kehidupan yang lebih luas yakni negara kesatuan Republik Indonesia.
  • Kurikulum Muatan Lokal (Berwawasan Lokal Berstandar Nasional. Perkembangan kurikulum sejarah nasional dan umum tidak dapat terlepas dari faktor eksternal dan internal. Isu global yang bersamaan dengan kemajuan teknologi informasi serta otonomi daerah mempengaruhi perkembangan kurikulum sejarah. Kurikulum nasional yang disusun antara lain berdasarkan kompetensi dasar, yang berwujud dalam bentuk Standar Internasional, akan memberikan peluang luas kepada daerah untuk mengembangkan muatan lokal dalam pembelajaran sejarah, sesuai dengan kondisi serta ciri khas geo-eko-sosio-kultural serta historis masing-masing daerah. Dalam mengembangkan kurikulum sejarah muatan lokal dapat dikemas dalam wadah sejarah lokal sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri atau dapat pula dengan cara menjabarkan dan menambah bahan kajian dari GBPP mata pelajaran sejarah. Untuk dapat mengembangkan muatan sejarah lokal dengan baik perlu kiranya tetap menggunakan pendekatan-pendekatan yang berlaku dalam sejarah nasional yaitu faktual, prosesual, pemecahan masalah, dan tematis. Pendekatan yang terakhir ini (tematis) memerlukan pengembangan sejarah tematis (sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah perkebunan, sejarah peradaban, dan sebagainya), yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Selain memperhatikan pendekatan-pendekatan tersebut kiranya perlu pula mencermati arah materi sejarh yang bersifat Indonesia sentris, arah gerak sejarah Bangsa Indonesia yang semula ditentukan oleh kaum elit/penguasa, menuju ke gerak sejarah yang tidak hanya ditentukan oleh kaum penguasa, tetapi oleh rakyat Indonesia. Dalam menghadapi tantangan pembelajaran sejarah yang demikian ini peran guru sejarah benar-benar menentukan baik sebagai pelaksana kurikulum maupun sebagai pengembang kurikulum sejarah.

 

Deskrpsi Matakuliah ini mengkaji karangka study sejarah lokal, sumber-sumber sejarah lokal, penelitian sejarah lokal serta berbagai peristiwa sejarah pada tingkat lokal yang belum terwadai dalam sejarah nasional.

Kompetensi dalam mata kuliah ini yaitu Memahami sejarah lokal; karangka studi sejarah lokal (klasifikasi dan pengertian special, berbagai pengertian lokal); sejarah Indonesia dan sejarah nasional Indonesia; sejarah regional; tradisi lisan; penelitian dan penulisan sejarah lokal; sejarah lokal dalam pengajaran lokal.

Materi yang akan dikaji yaitu: Batasan dan ruang lingkup sejarah lokal; hubungan sejarah lokal dengan sejarah nasional; obyek-obyek kajian sejarah lokal; hubungan sejarah lokal dan sejarah lisan; sumber-sumber sejarah lokal; metodologi penelitian sejarah lokal; historigrafi sejarah lokal, rancangan penelitian sejarah lokal; pengajaran lokal.

 

Jadi Tujuan Kurikuler mata kuliah Sejarah Lokal :

  1. Memberikan pengetahuan dasar pada mahamahasiswa tentang sejarah lokal yang meliputi aspek – aspek seperti :Pengertian sejarah lokal, arti penting kajian sejarah lokal dalam rangka studi sejarah, metodologi dasar sejarah lokal, hubungan sejarah lokal dengan sejarah nasional, masalah sumber sejarah lokal kususnya yang menyangkut tradisi lisan dan historiografi tradisonal, hubungan sejarah lokal dengan disiplin–disiplin studi sejarah lainya dan beberapa aspek lainya.
  2. Mengembangkan ketrampilan elementer para mahamahasiswa dalam melaksanakan penelitian serta penulisan sejarah lokal
  3. Memberi bekal pada mahamahasiswa untuk mampu memanfaatkan metodologi serta materi sejarah lokal dalam mengemabangkan strategi pengajaran sejarah yang diasuhnya apabila kelak nanti menjadi guru sejarah.

II. Ilmu murni (sastra)

  1. Sejarah lokal untuk pengembangan teori
  2. Untuk mengungkapkan atau penggalian fakta-fakta sejarah
  3. Untuk pendalaman ilmu dan untuk rekontruksi sejarah lokal

 

III. Latar belakang sejarah lokal berdasarkan kondisi geografis Indonesia

  1. Terkait dengan letak wilayah Indonesia
  2. Sifat kebhinekaan Indonesia
  3. kondisi sosial indonesia

Sejarah Lokal Perlu Dilestarikan, Sejarah lokal adalah sejarah dengan lingkup atau batasan tertentu menurut geografi. Bisa sejarah Provinsi, kabupaten atau sejarah desa yang memiliki keunikan dan memberi kearifan kepada masyarakat.

 

IV. menumbuhkan kesadaran sejarah

 

Kesadaran sejarah sebagai suatu idiom sesungguhnya istilah yang dapat dikatakan masih asing bagi masyarakat pada umumnya. Akan tetapi, dikalangan tertentu, istilah lebih akrab adanya. Kalangan tertentu dimaksud antara lain : ilmuan sejarah, peneliti sejarah, pendidik sejaarh, pemerhati sejarah dan kebudayaan atau para praktisi sejarah, para birokrat atau pejabat yang karena tugas dan tanggung jawabnya, mereka bersentuhan langsung dengan masalah sejarah dan kebudayaan ( daerah ) hingga mereka ini terbiasa dengan bukan saja istilah kesadaran sejarah melainkan dalam hal yang lebih luas lagi, yaitu mengupayakan pelestarian sejarah dan kebudayaan.

Diantara mereka tentunya dapat di harap sesuatu pengertian tentang kesadaran sejarah. Akan tetapi, penulis pikir dan ini adalah benar, terutama bagi masyarakat umum, tidak semua diantara kita dapat dengan tepat memberi formulasi terminologis tentang kesadaran sejarah, bahkan dikalangan sebagai mana telah disebutkan diatas, juga tidak seluruhnya dapat dengan tepat dan benar memberi pengertian tentang kesadaran sejarah.

Kita perlu memahami kesedaran sejarah terlebih dahulu sebab adalah sulit jika tidak dikatakan mustahil melakukan pembinaan kesadaran sejarah, padahal secara esensial  tidak diketahui apa yang akan di bina, dan mengapa mesti membina kesadaran sejarah.

Bagaimanapun juga  memahami kesadaran sejarah niscaya bermula dari pemahaman tentang sejarah itu sendiri.jadi, secara terbalik bisa dilukiskan begini; kesadaran sejarah suatu bangsa, masyarakat hanya mungkin timbul oleh karena adanya sejarah atau peristiwa sejarah yang telah dialami oleh masyarakat dan bangsa bersangkutan. Kesadaran tentang sejarah pada sejarah masyarakat itu sendiri.

Sejarah dalam kerangka kilmuan (ilmu sejarah) memiliki watak tridimensional, yaitu kesinambungan antara hari kemarin, hari sekarang, dan hari depan. Tidak dapat di sangkal bahwa tekanan penyelidikan sejarah adalah “the past” atau hari kemarin. Akan tetapi, ini bukan berarti menafikan pentingnya mempertautkan hari kemarin dengan hari sekarang dan hari depan. Ketiga komponen waktu tersebut bertaut erat, tidak terpisah dan tidak bisa di pisahkan antara satu dengan yang lain.

Masa lampau adalah bijakan bagi kehadiran masa kini dan masa kini adalah kerangka pematangan menuju masa depan. Serta masa depan adalah sesuatu yang belum, namun pasti akan terwujud. Atas dasar pemikiran ini, sejarah dapat dipahami sebagai masa lampau yang belum berakhir, belum selesai. Sepintas tampaknya pemikiran ini lebih menekankan pada dimensi kelampauan. Akan tetapi, secara implisit yang lebih menyemangati kontinuitas tridimensional waktu, dengan perhatian yang besar pada masa depan. Oleh sebab itu, pemahaman sejarah, pendidikan sejarah yang hanya menitikberatkan pada statistik peristiwa masa lampau, sebenarnya hanya akan memasung kedewasaan kesadaran tentang sejarah.

Ini perlu di garis bawahai lebih awal, sebab dalam beberapa hal pengertian tentang kesadaran sejarah bertaut erat dengan peristiwa sejarah, fakta sejrah. Hal ini tampak pula dari pandangan Ismail yang berpen dapat bahwa, “Kesadaran sejarah memang harus di mulai dengan mengetahui fakta-fakta sejarah. Malahan adakalnya harus pula pandai menghafalkan kronologi tahun-tahun kejadian dalam sejarah itu, Plus pengetahuan dengan sebab musababnya antara fakta-fakta itu” (Anhar Gonggong (editor), 1990:27).

Dalam batas-batas tertentu, pembinaan kesadaran sejarah yang mula-mula harus bertumpu pada pengetahuan tentang fakta sejarah, mengandung kebenaran yang dapat di pertanggungjawabkan. Akan tetapi, fakta sejarah belum cukup, dan ini diakui pula oleh Ismail.

Apabila fakta sejarah menjadi barometer utama membina kesadaran sejarah, secara tegas saya mengajak kita sekalian untuk meragukan intensitas kesadaran sejarah yang telah kita semaikan selama ini di dalam sanubari masing masing sebab hanyabila fakta sejarah yang menjadi ukuran dalam kesadaran sejarah, niscahya banyak di antara kita yang di katagorikan tidak atau kurang memiliki kesadaran sejarah.

Argumentasi sederhana, fakta sejarah berhubungan dengan pristiwa sejarah. Nah, berapa besar pengetahuan kita tentang pristiwa sejarah daerah. Umpamanya : seberapa besar masyarakat pada suatu daerah mengetahui fakta atau peristiwa sejarah yang ada di daerahnya.

Jadi. Kalau fakta sejarah merupakan pintu masuk paling awal untuk memupuk kesadaran sejarah suatu masyarakat, dan berdasarkan kenyataan yang hampir dapat dipastikan berlaku untuk umum tentang keringnya pengetahuan fakta sejarah yang dimiliki oleh masyarakat, sudah dapat diprediksikan masyarakat yang senantiasa berada diluar kamar kesadarn sejarah.

Tentunya, fakta sejarah dan seperti sudah disinggung diatas bukan merupakan unsur satu – satunya dalam membina kesadaran sejarah. Yang terpenting mengapresiasi secara cerdas kausalitas peristiwa dalam konteks kekinian untuk tujuan yang lebih kedepan, mak hakikatnya kita telah berupaya memaksimalkan kesadaran sejarah.

Yang terpenting mengapresiasi secara cerdas kausalitas peristiwa dalam konteks kekinian untuk tujuan yang lebih kedepan maka hakikatnya kita telah berupaya memaksimalkan kesadaran sejarah. Tetapi,bagaimanapun juga pristiwa sejarah tetap harus menjadi elemen yang perlu di perhatikan dalam pembinaan kesadaran sejarah khususnya di daerah mengingat masihsangat banyak pristiwa sejarah didaerah yang belum tergali secara optimal terlebih lagi belum banyak ditekuni oleh masyarakat, bahkan ada kesan bahwa terjadi semacam gerakan untuk menjauh dari ingatan masa lampau.

Apa yang didiskusikan di atas pada hakikatnya memercikan sebuah keyakinan mendasar bahwa kesadaran sejarah tidak sematamata terkontak dalam pengetahuan tentang fakta sejarah melainkan lebih dari fakta sejarah.Lebih dari fakta sejarah berarti selain fakta sejarah, kesadaran mencerminkan pula; pertama kausalitas fakta, kedua munculnya logika dari kausalitas itu dan ketiga, adanya sikap kearifan yang tinggi.

Dengan demikian kesadaran sejarah tidak lain sikap mental, jiwa pemikiran yang dapat membawa untuk tetap berada dalam rotasi sejarah. Artinya, dengan adanya kesadaran sejarah, kita seharusnya menjadi semakin arif dan bijak sana dalam memaknai kehidupan ini. Ini lah esensi dariungkapan yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam menghadapi segenap peristiwa sejarah, yang terpenting bukanlah “bagaimana belajar sejarah, melainkan bagaimana belajar dari sejarah”. Prinsip pertama akan membawa kita pada setumpuk data tentang peristiwa masa lampau, sedangkan prinsip kedua akan mengisi jiwa kita dengan sikap yang lebih arif dan bijaksana, sebagaimana inti dari kesadaran sejarah.

Sejauh ini telah dibahas  dan dipahami serba sedikit tentang kesadaran sejarah,meskipun tampaknya pemahaman di atas terkesan agak filsofis. Namun baiklah,diuraikan mengapa kesadaran sejarah perlu dibina khususnya di kalangan generasi muda. Pendeknya dibutuhkan untuk membuat masyarakat lebih arif dan bijaksana dalam melakoni masa  yang belum pasti, paling tidak kesadaran sejarah akan mengantarkan kita untuk tidak akan berbuat salah untuk kesalahan yang sama dimasa yang akan datang.

 

 

V. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi

Yang mana berorentasi pada segi ekonomis dan sangat lemah pada sesi moralitas sosial Dalam pembangunan nasional dalam era globalisasi perlu kesadaran sejarah karena:

  1. Untuk kesadaran dan persatuan
  2. Stabilitas nasional
  3. Nasionalisme

 

2. Tujuan Mata Kuliah Sejarah Lokal:

secara umum;

  1. program pemerintah (depdikbud) dalam melaksanakan kurikulum mulok, mulai dari SD sampai PT.
  2. wawasan luas dan menyeluruh kepada mahamahasiswa tentang sejarah lokal di Indonesia.

Secara khusus;

  1. pengertian tentang sejarah lokal
  2. Batasan dan ruang lingkup sejarah lokal;
  3. hubungan sejarah lokal dengan sejarah nasional;
  4. obyek-obyek kajian sejarah lokal;
  5. hubungan sejarah lokal dan sejarah lisan;
  6. sumber-sumber sejarah lokal;
  7. mengembangkan keterampilan elementur:  untuk penelitian , historigrafi sejarah lokal, dan rancangan penelitian sejarah lokal; pengajaran local sekaligus untuk memanfaatkan metodologi sejarah lokal dalam mengembangkan strategi belajar mengajar

 

 

3. Batasan Pengertian  Dan Ruang Lingkup Sejarah Lokal

Sebelum menjelaskan apa arti sebenarnya sejarah local dan apa yang menjadi ruang lingkupnya, maka sebagai pemulah pembaca akan diperkenalkan terlebih dahulu apa sebenarnya konsep dasar sejarah tersebut. Dengan pertimbangan agar seorang sejarawan atau pecinta sejarah mmiliki dasar hakikat mengenai sejarah itu sendiri. Perlu kita ketahui bersama bahwaTidak semua peristiwa sejarah bisa dikatakan sebuah kejadian sejarah, jadi kejadian sejarah bisa dikatakan sejarah apabila terdapat pelaku (manusia), terdapat perubahan, Partikular, unique event, enmaliq dan semua realitas peristiwa yang terjadi tersebut telah sirna namun nilai dan maknanya dapat dikenali dikemudian hari.

Dalam memberikan arti tentang sejarah tidaklah mudah, untuk itu mengetahui kajian ilmu sejarah apalagi pemula khususnya mahamahasiswa atau peminat sejarah dianjurkan terlebih dahulu paham dan mengerti hakikat dari sejarah itu sendiri.

Perlu diketahui bahwa sejarah itu sendiri banyak ragamnya, sehingga selaku pemula dituntut untuk mengetahui terminologi dalam sejarah atau tiga konsep dasar dalam sejarah yaitu:

1)      Sejarah sebagai cerita yaitu peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Sebgai peristiwa sejarah itu tidak pernah terulang kembali.

2)      Sejarah sebagai kisah, yaitu tidak lain kisah dari peristiwa sejarah. Menurut GJ. Rainer bahwa  peristiwa sejarah kurang lebih sebuah cerita yang disusun oleh sejarawan.

3)      Sejarah sebagai ilmu, yaitu suatu disiplin ilmu atau cabang  pengetahuan yang berusaha menentukan dan mewariskan pengetahuan mengenai masa lampau kehidupan masyarakat.

 

Mengenai pengertian sejarah lokal, Kelihatanya sampai sekarang belum ada rumusan yang memuaskan tentang apa Sejarah lokal , Menurut : H.P.R. Finberg (Sejarawan Inggris) Bukunya Lokal History, Obyektive And Pursuit tidak ada yang mengemukakan yang lebih eksplisit.  Namun demikian disini bisa mencoba memulai dengan rumusan sederhana , yaitu: Sejarah lokal bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penulisan sejarah dalam lingkup yang terbatas pada lokalitas tertentu, jadi terbatas lingkup terutama dikaitkan dengan dengan unsur wilayah.

Menurut Taufik Abdullah sejarah lokal adalah suatu peristiwa yang terjadi di tingkat lokal yang batasannya dibuat atas kesepakatan atau perjanjian oleh penulis sejarah. Batasan lokal ini menyangkut aspek geografis yang berupa tempat tinggal suku bangsa, suatu kota, atau desa (Abdullah, 1982).

Ahli lain mengatakan bahwa sejarah lokal adalah bidang sejarah yang bersifat geografis yang mendasarkan kepada unit kecil seperti daerah, kampung, komunitas atau kelompok masyarakat tertentu (Abdullah, 1994: 52). suatu peristiwa yang terjadi di daerah yang merupakan imbas atau latar terjadinya peristiwa nasional.

Sebaliknya, Wasino (2009: 2) mengatakan bahwa sejarah lokal adalah sejarah yang posisinya kewilayahannya di bawah sejarah nasional. Sejarah baru muncul setelah adanya kesadaran adanya sejarah nasional. Namun demikian bukan berarti semua sejarah lokal harus memiliki keterkaitan dengan sejarah nasional. Sejarah lokal bisa mencakup peristiwa-peristiwa yang memiliki keterkaitan dengan sejarah nasional dan peristiwa-peristiwa khas lokal yang tidak berhubungan dengan peristiwa yang lebih luas seperti nasional, regional, atau internasional.

Di Indonesia disamping istilah sejarah lokal, dikenal juga dengan istilah daerah. Sehingga istilah sejarah lokal dan sejarah daerah digunakan seringkali berganti-ganti tampa  penjelasan yang tegas. Lokal dan daerah secara harfiah  memiliki arti yang sama, tetapi dalam kajian sejarah banyak digunakan istilah lokal. Dengan pertimbangan daerah selalu berkonotasi politis (adanya stratifikasi pusat dan daerah: DATI I dan II) sehingga lebih digunakan bahasa lokal karena lebih netral dan tidak brkonotasi politis. Sedangkan pengertian regional dan nasional. Regional secara internasional Negara yang berada dalam lingkup regional disebut lokal. Contoh asia tenggara: Indonesia, Vietnam,dll. Dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah lokal adalah bidang kajian mengenai masa lalu dari suatu kelompok atau masyarakat yang mendiami unit wilayah yang terbatas.

Dari beberapa batasan ini bisa disimpulkan bahwa ruang lingkup sejarah lokal atas dasar jalan pikiran Jordan ialah keseluruhan lingkungan yang bisa berupa kesatuan wilayah seperti Desa, Kecamatan, Kabupaten, Kota Kecil dll, kesatuan wilayah itu beserta unsur-unsur institusi sosial dan budaya yang berada disuatu lingkungan itu seperti : Keluarga, pola pemukiman, mobilityas prnduduk, kegotong royongan, pasar, tehnologi pertanian , lembaga pemerintahan setempat, perkumpulan kesenian, monumen dll.

Seperti disebutkan diatas bahwa Sejarah Lokal ditentukan Scope areal, juga segi Perspektif waktu, misal  Sejarah Blambangan pada zaman VOC, Sejarah Madiun pasca Perjanjian Giyanti, dsb. Selain luas Areal dan waktu, didalam approach sejarah lokal dapat ditentukan tema (Segi Permasalahanya) atau aspek-aspeknya seperti Aspek Politik, Sosial Ekonomi, Kultural, Militer, religius atau yang lain.

Disamping pendekatan luas areal dan waktu serta tema dengan aspek-aspeknya didalam penganalisaanya para penulis hendaknya melakukan pendekatan multidimensional,  bila kita menginginkan hasil tulisan tersebut akan bisa mengungkap diberbagai aspek hal ini telah dirintis oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, tercermin dalam karya-karyanya. Misal pembicaraan tentang Infrastruktur masyarakat Indonesia secara langsung menyangkut approach multidimensional, sebab untuk mengungkapkan infrastruktul itu kita tidak cukup menggunakan metode Diskriptif yang lazim dipakai dalam sejarah konvensional, melainkan perlu memakai analisa strukturil Untuk mencakup suatu kehidupan histories yang bersegi banyak perlu diadakan analisa multidimensional yang mampu mengungkapkan faktor-faktor  atau unsur-unsur  Ekonomis, Sosial, politik, Religius, dsb.

4. Arti Penting Kajian Sejarah Lokal, Yaitu:

  1. memperluas dan memperkaya sejarah nasional
  2. memperdalam pengetahuan kita tentang sejarah lokal
  3. memperdalam kesadaran sejarah
  4. mengenal sejarah lokal seluruh Indonesia secara lebih baik dan bermakna
  5. sebagai bahan koreksi tehadap generalisasi sejarah indonsia yang sudah ada.
  6. meningkatkan pengertian  antar kelompok etnis di Indonesia.

 

Dalam membicarakan arti penting dari setudi Sejarah lokal, dalam lingkungan suatu bangsa seperti Indonesia yang menekankan pada penanaman “Nations Caracteristic Buillding “, perumpamaan yang dikemukakan oleh Sejawan Inggris Finberg bahwa lingkungan keluarga, lingkungan komunitas, lingkungan  nasional dan lingkungan supranasional tak ubahnya seperti sebagai serangkaian lingkaran konsetris , masing-masing perlu dikaji dengan mengacu pada lingkaran yang ada diluarnya, tanpa harus diartikan bahwa yang berada dilingkaran yang paling dalam adalah kurang sempurna. Atau dalam lingkungan berbangsa seperti bangsa Indonesia sangat menekankan pada arti pentingnya persatuan

 

Ungkapan tersebut diatas ini bisa diartikan bahwa untuk mengetahui kesatuan yang lebih besar, bagi yang lebih kecil itupun harus dimengerti dengan baik. seperti dikemukakan oleh Sartono Kartodirdjo : seringkali hal-hal yang ada ditingkat nasional baru bisa dimengerti dengan baik, apabila kita mengerti dengan baik pula perkembangan ditingkat lokal . hal ditingkat luas itu biasanya hanya memberikan gambaran dari  pola-pola serta masalah-masalah umumnya, sedangkan masalah yang lebih kongkrit dan mendetail baru bisa diketahui melalui gambaran sejarah lokal. Jalan pikiran seperti ini kemudian menumbuhkan aliran yang disebut “ The New Social History “ atau  “ The Bottom Up History “ .

Secara lebih menyeluruh arti penting  kajian sejarah lokal ditemukan oleh sejarawan LB.Lapian yang pokok-pokoknya sebagai berikut:

  1. Pertama, bahwa pengembangan penulisan sejarah yang bersifat Nasional seperti sekarang ini sering memberi makna bagi orang-orang tertentu, juga kurang dihayati dengan baik karena kurangnya pengetahuan detail tentang latar belakang dari peristiwa-peristiwa yang hanya digambarkan dalam konteks yang sangat umum, atau peristiwa-peristiwa detail itu memang sama sekali tidak pernah diketahui sehingga ada bagian-Bagiam Sejarah Daerah Kita Kita Sendiri Yang Luput  dari perhatian masyarakat pembaca sejarah.
  2. untuk bisa mengadakan koreksi terhadap generalisasi yang sering dibuat penulisan sejarah Nasional, sebagai Ilustrasi Lapian antara lain :

Masalah Generalisasi yang menyangkut periodisasi sejarah Indonesia yang sering diberi istilah Jaman Hindu, menurut Lapian  daerah Sangir, Talaud, Sewu dan Rote dan ada pula daerah yang sampai sekarang masih berpegang pada Hinduisme seperti Bali Lombok.

Masalah Generalisasi tentang dualisme perkembangan tehnologi di Indonesia  dengan membuat pembedaan antara tehnologi tradisional yang padat karya dan tehnologi modern yang padat modal yang dianggap tidak bisa diterapkan diseluruh Indonesia, terutama didaerah luar jawa.

Akirnya Lapian menekankan kepentingan yang lain dari penulisan sejarah lokal yaitu: memperluas pandangan tentang Dunia Indonesia, maksudnya adalah: untuk meningkatkan saling pengertian diantara  kelompok-kelompok etnis di Indonesia dengan jalan meningkatkan pengetahuan kesejarahan dari masing-masing kelompok terhadap kelompok yang lain , Contoh : Kita lupa misalnya sementara Belanda di jawa masih mengahadapi Invasi Jepang , di Gorontalo, di Aceh telah berkibar Dwiwarna kita, di Tarakan dan Minahasa penduduk telah disuruh menyanyi lagu kebangsaan Nipon. Sementara pemuda-pemuda kita berbaris sebagai pasukan Seinendan atau Heiho,dan yang lain menjalankan Romusya, Bendera Belanda masih berkibar di Meraoke.

Pada waktu kemerdekaan  diproklamasikan 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta Jayapura pada waktu itu bernama Hollandia bersama Biak , Morotai dan Kalimantan Timur sudah diduduki Tentara Sekutu. Hal- hal seperti ini sering tidak terekam dalam sejarah makro, sehingga bisa terjadi masing-masing kelompok masyarakat kita berpikir yang kurang tepat terhadap perkembangan sejarah di bagian-bagian lain di Indonesia.yang selanjutnya bisa menumbuhkan Visi-visi sejarah yang kurang wajar diatara sesama anggota bangsa Indonesia.

 

BAB II.

KEDUDUKAN DAN FUNGSI SERTA HUBUNGANYA TENTANG SEJARAH LOKAL DENGAN SEJARAH NASIONAL

 

Hubungan dan kedudukan sajarah lokal dan sejarah Nasional

Dalam setudi sejarah salah satu masalah yang dihadapi oleh sejarawan ialah penentuan kesatuan kerangka peristiwa yang terjadi pusat perhatianya dalam melihat proses persambungan peristiwa – peristiwa. Dalam hubungan ini dikenal dengan istilah unit-unit sejarah.

Memang tugas sejarawan  mempelajari peristiwa-peristiwa sebagai hasil aktivitas manusia yang lampau. Tentu saja peristiwa hasil kegiatan manusia bukan dari segi banyaknya, dan boleh dikatakan diluar kemampuan sejarawan untuk menanganinya, maka sejarawan perlu menentukan batasan-batasan yang akan membatasi ruang lingkup kegiatanya, pembatasan itu antara lain bertolak dari tingkat signifikasinya dari peristiwa dalam konteks tertentu, dengan dasar ini sejarawan membedakan antara yang disebut“ Kejadian biasa “ dan “ Kejadian Istimewa”  atau antara Kejadian “ Non Historis “ (Untuk yang istimewa.) dalam hubungan kategori ini , sejarawan terutama akan tertarik dan membatasi diri untuk berurusan hanya dengan kejadian-kejadian yang dimasukanya dalam katagori istimewa (Signifikan) salah satu cara lain yang bisa dijadikan dasar katagorisasi peristiwa sejarah yaitu melihat peristiwa dalam rangka apa yang disebut sebagai “Unit Sejarah “ (Unit History)

Dijelaskan oleh Sartono Kartodirdjo, Unit sejarah mengandung pengertian : suatu bagian dari pengetahuan sejarah yang satu katagori serta bidang yang dapat dipahami (Intelligible Field) . Unit itu juga merupakan satu kompleks problem-problem, tema-tema, dan topik-topik yang semuanya ditempatkan dalam pasangan waktu (Time Setting)

Yang penting dalam katagori peristiwa sejarah seperti ini ialah adanya kerangka yang mewujudkan kesatuan yang didalamnya mengandung pola-pola dari fakta-fakta yang berada dlam satu kerangka tersebut. Juga didalamnya mengandung aspek kesatuan temporal(waktu) serta kesatuan Spacial (Ruang/tempat) dari rangkaian peristiwanya.

Aspek kesatuan temporal antara lain menyangkut babakan waktu atau periodisasi yang didasarkan atas kreteria tertentubergantung pada pada kreteria kontinuitas maupun diskontinuitas suatu perkembangan sejarah. Dengan mana rentangan waktu perkembangan itu hendak dimasukan dalam urutan perkembangan histories tertentu.

Aspek kesatuan Spacial dari unti historis ini terutama batas kompleksnya peristiwa sejarahyang bervariasi dengan skop sangat luas sampai unit yang terbatas , yang menjadi masalah disini kreteria yang digunakan untuk membuat batasan itu. Ada yang menggunakan aspek kehidupan politik, Ekonomi, serta sosio budaya, tetapi perlu disadari batas politis bersifat lebih dinamis yaitu berkembang lebih cepat, yang lebih bersifat statis adalah kategori sosio cultural

Dengan Demikian Unit –unit histori itu terwujud dari berbagai kategori yang menyebabbkan adanya variasi lingkup sejarah dari yang melebar/meluas sampai dengan yang menyempit terbatas. Lingkup histories yang meluas itu sering disebut dimensi Makro, atau sejarah makro. sedangkan lingkup yang menyempit  terbatas disebut dimensi mikro atau sejarah mikro.

 

  • Sejarah Nasional sebagai Unit Historis

Yang dimaksud Unit histories disini ialah suatu bagian dari pengetahuan sejarah yang merupakan satu kategori serta satu bidang yang dapat dipahami (Itelligible Field) jadi penulisan sejarah tidak hanya pengumpulan fakta serta urut-urutanya, tetapi kesemuanya disusun menurut pola-pola yang mendasari serta kerangka yang mencakup sebagai satu kesatuan, unit-unit atau kategori-kategori histories itu tidak hanya mencakup persamaan-persamaan tetapi juga keanekaragaman, tidak hanya kontinuitas tetapi juga diskontinuitas kesemuanya mewujudkan kompoleksitas histories.

Kiranya cukuplah disini  ditegaskan bahwa :

  1. Pembagian waktu dari sejarah Nasional berpangkal pada pengakuan adanya diskontinuitas  antara periode – periode sebagai unit waktu
  2. Unit waktu sebagai kategori ditentukan menurut kreteria tertentu
  3. Periodisasi yang baik tidak melupakan bahwa proses histories selalu bersegi banyak dan disamping diskontinuitas dalam satu bidang terdapat kontinuitas dalam bidang lain.
  4. Setiap periodisasi bersifat relatif
  5. perlu dipikirkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh periodisasi yang berlaku bagi semua bagian dari sejarah Nasional. Disini pembicaraan menyangkut aspek special dari scop sejarah Nasional

jadi hubungan dan kedudukan sejarah local dengan sejarah nasional adalah sebagai dimensi unit mikro dari dimensi unit makro, sehingga kedudukannya tidak bisa dipisahkan dan strategis dalam penulisan sejarah nasional, demikian hubungan erat antara dimensi makro dan mikro atau peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat local, sebenarnya hanya bisa dimengerti dengan baik apabila dihubungkan dengan sejarah nasional.

Jadi dengan demikian walaupun menunjukkan bahwa mskipun sejarah nasional dan sejarah local memiliki kategori unit histories sendiri-sendiri, tetapi tidak bisa dipungkiri adanya keterkaitan  antara peristiwa-peristiwa dalam konteks nasional daan konteks local.

Keterkaitan sejarah nasional dengan sejarah local tentu saja bukan harus diartikan bahwa sejarah nasional itu sendiri adalah semata-mata gabungan  dari sejarah-sejarah tingkat local. Sebab masing-masing lokalitas mempunyai keunikan tersendiri masing-masing lokalitas.

 

 

 

Sejarah lokal

 

 

 

 

Sejarah Nasional

Keterangan:

  • sejarah makro/nasional lebih bersifat umum seperti sejarah dunia, asia dll. Yang berkenaan dengan local dibatai dengan kebudayaan, sebab sejarah local mengacu kepada lokalitas yang terbatas pada lingkungan kecil yang tidak lepas dari lingkungan yang lebih luas.
  • Sejarah mikro/local bersifat sempit.

 

Penulisan Sejarah Di Indonesia

Untuk memahami historiografi Indonesia, terlebih dahulu  yang harus dipelajari  jenis dari historigrafi Indonesia. Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa Penulisan sejarah (historiografi) di Indonesia umumnya sebuah historiografi Indonesia terutama dibagi atas dua historiografi besar yaitu, historiografi tradisional dan historiografi Indonesia modern, tetapi juga tidak bisa dilepaskan bahwa sebelum muncul historiografi Indonesia Modern  terdapat sebab-akibat yaitu diawali masa historiografi kolonial. Jadi dalam perkembangan historiografi Indonesia digolongkan kedalam tiga tahapan perkembangan yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi modern Indonesia. Dan setiap historiografi tersebut masing-masing memililiki ciri-ciri yang berbeda dan jenis yang dihasilkanpun berbeda.

 

 

2.2.1 Historiografi Tradisional

Historiografi tradisional merupakan penulisan sejarah  yang berdasarkan tradisi  suatu etnis  atau masyarakat setempat. Tentunya hasil penulisan sejarah  yang ditinggalkan, penulisannya  yang digarap secara tradisional (tidak menggunakan keilmuan  analitis dan kritis modern).

Historiografi tradisional adalah tradisi penulisan sejarah yang berlaku pada masa setelah masyarakat Indonesia mengenal tulisan, baik pada Zaman Hindu-Budha maupun pada Zaman Islam. pada abad 4 M sampai abad 17 M.

Perkembangan historiografi di indonesia dimulai pada zaman kerajaan yang dipelopori oleh empu prapanca yang menulis kitab Negarakertagama. Pada zaman ini yang menjadi penulis sejarah adalah para pujangga-pujangga yang bertujuan untuk memuji dan mengkultuskan Raja sebagai pusat kosmik, dan lebih kepada konsep Istana-sentris.


Adapun ciri-ciri historiografi tradisional yaitu:

  1. Penulisannya bersifat istana sentris yaitu berpusat pada keinginan dan kepentingan raja. Berisi masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa. Menyangkut raja dan kehidupan istana.
  2. Memiliki subjektifitas yang tinggi sebab penulis hanya mencatat peristiwa penting di kerajaan dan permintaan sang raja.
  3. Etnosentris, Penulisan selalu bersifat kedaerahan, Hanya terpaut pada suku bangsa tertentu. Dan sangaty berpusat pada kedaerahan
  4. Bersifat melegitimasi (melegalkan/mensahkan) suatu kekuasaan sehingga seringkali anakronitis (tidak cocok)
  5. Supranatural,  Dalam hal ini kekuatan kekuatan gaib yang tidak bias diterima dengan akal sehat sering terdapat di dalamnya
  6. Kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam genealogi (silsilah) tetapi lemah dalam hal kronologi dan detil-detil biografis.
  7. Pada umumnya tidak disusun secara ilmiah tetapi sering kali data-datanya bercampur dengan unsur mitos dan realitas (penuh dengan unsur mitos).
  8. Sumber-sumber datanya sulit untuk ditelusuri kembali bahkan terkadang mustahil untuk dibuktikan.
  9. Dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat dimana naskah tersebut ditulis sehingga merupakan hasil kebudayaan suatu masyarakat.
  10. Cenderung menampilkan unsur politik semata untuk menujukkan kejayaan dan kekuasaan sang raja.
    1. anonim (umumnya pengarangnya tidak jelas)
    2. bentuk dari Historiografi tradisional: Babad Tanah Jawi, Babad Kraton,  Babad Diponegoro, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Silsilah Raja Perak, Hikayat Tanah Hitu, Kronik Banjarmasin, dsb.

 

 

Ditinjau dari unsur-unsur yang terdapat didalam berbagai historiografi tradisional antara lain:

  1. genealogi, berfungsi sebagai faktor  legitimasi dan awal semua penulisan sejarah tradisional.
  2. asal usul rajakula yang mistis dan legendaris
  3. mitodologi melayu polinesia: perkawinan dengan bidaddari atau orang suci
  4. legenda pembuangan anak
  5. legenda permulaan kerajaan

dilihat dari segi pemegang peran, tertutup tokoh pemegang peran tersebut juga memiliki pula  riwayat yang sama:

  1. kelahiran diliputi misteri
  2. sering diketahui ibunya dan bukan ayahnya
  3. terjadi supernatural pada saat kelahiran
  4. tokoh yang bersangkutan  sejak bayi telah mengeluarkan cahaya dalam perkembangannya dianggap sebagai wahyu atau pulung.
  5. memiliki karisma atau wibawa yang khas, sehingga mampu menarik pihak lain sebagai berikut.

Historiografi tradisional dapat dibagi menjadi tiga bentuk:

  1. 1. Historiografi Tradisional Kuno

Ciri-ciri historiografi tradisional kuno sebgai berikut

  1. Merupakan hasil terjemahan kebudayaan Hindu, misalnya sebagai dampak  penyebaran agama hindu budha dari India  yang sampai ke Indonesia berakibat juga dengan munculnya pengaruh pada hasil-hasil kebudayaan hal ini tampak terlihat adanya kitab-kitab dari India  yang diterjemahkan dalam bahasa setempat misalnya  kitab ramayana dan mahabara. Ramayana merupakan  sebuak kitab yang ditulis  oleh walmiki.
  2. Bersifat Religiomagis, karya-karya historiografi didominasi oleh unsur kepercayaan.  Hal ini dimaksudkan dalam rangka penyebaran agama. Contoh historiografinya adalah Aji saka, bubuksa dan sutasoma.
  3. Bersifat karatonsentris. Karaton dijadikan sebagai pusat segala kegiatan  masyarakat. contoh hal ini terlihat dalam kitab negarakertagama yang isinya menceritakan  kerajaan Singasari pada masa pemerintahan  Ken Arok sampai pemerintahan Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit.
  4. Untuk menaikkan martabat kasta brahmana, misalnya terdapat dalam kitab calon arang dan ajisaka.
  5. 2. historiografi tradisional tengah

Ciri-ciri historiografi tradisional misalnya terdapat terdalam  Kidung pararaton, sundayana, pamancangan dan panji. Ciri-ciri kidung antara lain:

  1. peristiwanya terjadi di luar keraton
  2. bersifat etnosentris
  3. bersifat naratif konsepsional
  4. bersifat nonofficial
  1. 3. historiografi tradisional baru

Historiografi tradisional baru biasanya  berupa babad, kronik dan hikayat. Ciri-ciri historiografi tradisional baru antara lain:

  1. unsur-unsur bergaya islam jawa
  2. bersifat kronologi
  3. bersifat etnosentris
  4. bersifat feodalistik

Banyak sejarawan yang awalnya sampai tahun 1960-an tidak mau menggunakan naskah-naskah tersebut sebagai sumber atau referensi karya ilmiah. Akan tetapi, pada perkembangannya karena melalui berbagai penelitian membuktikan bahwa bayak hal yang ditulis dalam naskah tradisional tersebut dapat terungkap pula dalam sumber-sumber sejarah yang lain maka mereka mulai menganggap bahwa naskah/ historiografi tradisional tersebut dapat pula dijadikan sumber atau acuan sejarah.

 

 

2.2.2 Historiografi Kolonial

Ada pada abad 17-abad 20 M. Historiografi kolonial merupakan historiografi warisan kolonial dan penulisannya digunakan untuk kepentingan penjajah. Ciri-cirinya:

  1. Tujuannya untuk memperkuat kekuasaan mereka di Indonesia. Jadi disusun untuk membenarkan penguasaan bangsa mereka terhadap bangsa pribumi (Indonesia). Sehingga untuk kepentingan tersebut mereka melupakan pertimbangan ilmiah.
  2. Selain itu semuanya didominasi untuk tindakan dan politik kolonial.
  3. Historiografi kolonial hanya mengungkapkan mengenai orang-orang Belanda dan peristiwa di negeri Belanda serta mengagung-agungkan peran orang Belanda sedangkan orang-orang Indonesia hanya dijadikan sebagai objek.
  4. Historiografi kolonial memandang peristiwa menggunakan sudut pandang kolonial. Sifat historiografi kolonial eropasentris.
  5. Ditujukan untuk melemahkan semanangat para pejuang atau rakyat Indonesia.

Sumber-sumber  historiografi kolonial berasal dari dokumen-dokumen VOC, Geewoon Archief dan Gehem Achief, Wilde Vaart; catatan pelayaran orang orang belanda di perairan, Koloniale Verslagen laporan tahunan pemerintah belanda.

Seperti contohya: Orang Belanda menyebut ”pemberontakan” bagi setiap perlawanan yang dilakukan oleh daerah untuk melawan kekuasaan Belanda/ kekuasaan asing yang menduduki tanah airnya. Oleh Belanda itu dianggap sebagai ”perlawanan terhadap kekuasaannya yang sah sebagai pemilik Indonesia”. Seperti Perlawanan yang dilakukan oleh Diponegoro, Belanda menganggap itu sebagai ”Pemberontakan Diponegoro”.

Telah ada upaya untuk melakukan kritik terhadap beberapa tulisan orang Belanda seperti tulisan Geschiedenis van Nederlandsche-Indie (Sejarah Hindia Belanda) oleh Stapel yang dikritik J.C van Leur. Salah satu ungkapannya”jangan melihat kehidupan masyarakat hanya dari atas geladak kapal saja”, artinya jangan menuliskan masyarakat Hindia hanya dari sudut penguasa saja dengan mengabaikan sumber-sumber pribumi sehingga peranan pribumi tidak nampak sementara yang ada hanyalah aktivitas bangsa Belanda di Hindia

Tetapi justru pendapat Stapel yang tenar di kalangan masyarakat Indonesia, salah satu pendapatnya yang masih dipercaya dan melekat dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia adalah bahwa bangsa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun (1595-1545). Hal ini berarti bahwa bangsa Indonesia dijajah sejak tahun 1595 sewaktu Cornelis de Houtman berangkat dari negeri Belanda untuk mencari pulau penghasil rempah-rempah di dunia Timur. Dia sampai di Indonesia tahun 1596. Indonesia masih mengalami kekuasaan VOC (1602-1619), Inggris (1811-1816), Van den Bosh (1816-1830), Penghapusan Tanam Paksa(1830-1870), Liberalisme (1870-1900), Politik Etis (1900-1922), Sistem Administrasi Belanda (1922-1942), Jepang (1942-1945).

Historiografi kolonial ini  bersamaan dengan berakhirnya historiografi tradisional. Karena pada saat itu Indonesia sedang  sedang di kuasai oleh kolonialis Belanda.  Pada saat Indonesia dibawah pemerintahan kolonial, penulisan sejarah digunakan  untuk kepentingan penjajah.  Sejarah yang ditulis  pada saat itu tentang peristiwa  dinegeri Belanda  dan Indonesia disini hanya sebagai  bagaian dari ekspansi  bangsa Belanda. Jadi orang belanda yang ditonjolkan sehingga penulisannya pun menggunakan eropasentris/nerlandosentris.

Bagi para sejarawan Indonesia, pengetahuan tentang bahasa Belanda dan sumber-sumber Belanda mutlak diperlukan. Hampir semua dokumen resmi dan sebagian besar memoar pribadi serta gambaran mengenai negeri ini, yang muncul selama lima puluh tahun terakhir, tertulis dalam bahasa tersebut. Tanpa itu, penelitian mengenai aspek mana pun dari sejarah Indonesia mustahil dilakukan. Namun dilihat sepintas lalu, sebagian besar sumber-sumber Belanda mungkin tampak tidak penting kaitannya dengan sejarah Indonesia. Seorang sejarawan Indonesia berhak bertanya: apa peduliku pada berita-berita yang dicatat oleh suatu bangsa lain selain bangsa Indonesia? Laporan-laporan resmi Belanda pasti melukiskan kehidupan serta tindakan orang Belanda, dan bukan orang Indonesia. Laporan itu ditulis dengan sudut pandang Eropa, bukan Asia.

Semua itu merupakan keberatan yang meyakinkan, namun jawabannya dapat ditemukan. Pertama-tama, seluruh sumber Belanda saja, yang bersifat naskah dalam tulisan tangan maupun cetakan harus ditekankan artinya. Berjilid-jilid buku bersampul kulit dari berita-berita VOC yang dijajarkan dalam almari arsip negara di den haag saja sudah berjumlah lebih dari dua belas ribu buah. Berita-berita dari pengganti kompeni, yaitu pemerintah Hindia-Belanda—sebagian dari antaranya sudah berjilid, sebagian lainnya masih dalam berkas-berkasnya yang asli—sepuluh kali lebih banyak dari jumlah itu. Tentu sangat ganjil bila himpunan yang begitu banyak tidak mengandung penjelasan tentang sekurang-kurangnya beberapa hal yang bersifat non-eropa.

Kedua, para pegawai Belanda di Indonesia sejak masa yang paling awal, mempunyai banyak kepentingan dan tanggung jawab di luar kegiatan-kegiatan perdagangan dan tata usaha sehari-hari. Pada abad ke-17, ketika ketidaktahuan Eropa tentang asia, para pegawai VOC harus menyiapkan laporan-laporan yang teliti mengenai keadaan di Indonesia, bagi para tuannya di Belanda dengan sedikit gambaran tentang keadaan Indonesia, sehingga keputusan yang diambil di Belanda mempunyai dasar yang lebih kokoh daripada dugaan semata.

Kemudian, ketika pemerintah Hindia Belanda memerintah di seluruh Indonesia, para pegawainya diharuskan memberikan laporan tentang seluruh negeri dan setiap rincian tentang hukum dan kebiasaan setempat yang menarik perhatiannya. Sekali lagi, tujuannya adalah agar kebijakan pemerintah dapat disesuaikan dengan tuntutan tampat dan waktu. Umumnya tugas itu dilaksanakan secara lebih cakap oleh para pegawai Belanda di timur daripada para pegawai kolonial mana pun.

Sampai kini, kita hanya mampu meninjau sumber-sumber untuk sejarah Indonesia sebagaimana yang sampai kepada kita dari zaman kompeni Hindia Timur Belanda. Pada akhir abad ke-18 kompeni mundur dengan cepat. Kompeni tidak berhasil mengatasi pukulan-pukulan di bidang keuangan yang dideritanya selama perang Inggris-Belanda pada tahun 1780-1784. Pada tahun 1796 para direkturnya terpaksa menyerahkan kekuasaan mereka kepada sebuah panitia yang dibentuk oleh kaum revolusioner pro-Perancis, yang telah merebut kekuasaan di negeri Belanda pada tahun sebelum itu, dan pada tanggal 31 desember 1799 kompeni dibubarkan.

Dalam jangka waktu enam belas tahun setelah itu, bangsa Perancis dan Inggris menguasai harta milik Belanda di Indonesia. Sampai tahun 1811 bangsa Belanda secara nominal masih memerintah Indonesia, tetapi penguasa yang sebenarnya dari kepulauan Hindia dan juga negeri Belanda sendiri adalah Napoleon. Pada bulan september tahun 1811, jawa jatuh ke tangan Inggris sampai tahun 1816, dimana seluruh bekas milik Belanda di kepulauan tersebut dikembalikan kepada Belanda, sesuai dengan konvensi London. ”Pemerintah Hindia Belanda” dilantik di Batavia pada 19 Agustus 1816, dan tetap memegang kekuasaan Belanda di Indonesia sampai saat mereka diusir Jepang pada tahun 1942.

Pemerintah baru itu membawa ke Indonesia suatu jenis tata pemerintahan yang lain dari semua jenis tata pemerintahan yang pernah ada di negeri ini sebelumnya. Kompeni Hindia Timur merupakan perusahaan dagang yang mengejar laba, yang hanya memikirkan transaksi jual beli dengan mengesampingkan apa saja. Kompeni tidak memiliki misi budaya, tidak berhasrat melakukan campur tangan dalam tata cara hidup rakyat yang diajak berniaga.

Sumber-sumber non-pemerintah memiliki keadaan yang sama. Sejak abad ke-17 dan ke-18, hanya sedikit bahan yang selamat, kecuali dokumen-dokumen kompeni Hindia Timur, karena kompeni adalah satu-satunya organisasi Belanda yang aktif di wilayah itu. Tetapi pada abad ke-19 dan abad ke-20 muncul semua jenis badan hukum non-pemerintah: perusahaan dagang, serikat buruh, partai politik, bank, perusahaan asuransi, maskapai pelayaran, perusahaan tambang, kantor impor dan ekspor, sekolah, perkumpulan missionaris, dan sebagainya. Bagian terbesar diantaranya adalah organisasi orang Belanda, atau setidaknya yang menggunakan bahasa Belanda. Semuanya mempunyai hubungan erat dengan hal ihwal Indonesia, dan laporan-laporan mereka harus dianggap sebagai bahan-bahan sumber Belanda asli untuk sejarah Indonesia.

 

2.2.3 Historiografi Nasional/ Modern

Ciri-ciri penulisan historiografi nasional atau Indonesia, antara lain:

  1. bersifat Indonesia sentries
  2. telah digunakan metode penelitian sejarah
  3. bersifat diakronis (adanya pembabakan sejarah/singkronis)
  4. adanya kronologis

Menjelang kemerdekaan Indonesia pada masa kemerdekaan telah muncul karya karya yang berisi perlawanan terhadap pemerintah colonial yang di lakukan oleh pahlawan nasional, Secara umum tulisan ini merupakan ekspresi dan semangat nasionalistis yang berkobar kobar. Periode ini disebut sebagai periode post Revolusi atau Historiografi pada masa Pasaca Proklamasi. Tokoh tokoh nasional menjadi symbol kenasionalan dan memberi identitas bagi bangsa Indonesia, Jenis sejarah semacam ini perlu di hargai sebagai fungsi sosiopolitik, yaitu membangkitkan semangat nasional

Penulisan sejarah pada masa pasca kemerdekaan didominasi oleh penulisan mengenai peristiwa-peristiwa yang masih hangat waktu itu, yaitu mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa ini penulisan sejarah meliputi beberapa peristiwa penting, misalnya proklamasi kemerdekaan Indonesia dan pembentukan pemerintahan Republik Indonesia. Kejadian-kejadian sekitar proklamasi kemerdekaan Indonesia yang meliputi sebab-sebab serta akibatnya bagi bangsa ini merupakan sorotan utama para penulis sejarah.

Pada masa ini mulai muncul lagi penulisan sejarah yang Indonesia sentris yang artinya penulisan sejarah yang mengutamakan atau mempunyai sudut pandang dari Indonesia sendiri. Pada masa sebelumnya yaitu masa colonial, penulisan sejarah sangat Eropa sentris karena yang melakukan penulisan tersebut adalah orang-orang eropa yang mempunyai sudut pandang bahwa orang eropa merupakan yang paling baik.  Pada masa kemerdekaan ini penulisan sejarah telah dilakukan oleh bangsa sendiri yang mengenal baik akan keadaan Negara ini, jadi dapat dipastikan bahwa isi dari penulisan tersebut dapat dipercaya. Penulisan sejarah yang Indonesia sentris memang sudah dimulai jauh pada masa kerajaan-kerajaan, tetapi kemudian ketika bangsa barat masuk ke Indonesia maka era penulisan sejarah yang Indonesia sentris  mulai meredup dan digantikan oleh historiografi yang eropa sentris.

Ada pada abad 20 M sampai dengan  sekarang. Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia maka masalah sejarah nasional mendapat perhatian yang relatif besar terutama untuk kepentingan pembelajaran di sekolah sekaligus untuk sarana pewarisan nilai-nilai perjuangan serta jati diri bangsa Indonesia, Ditandai dengan:

 

  1. Mulai muncul gerakan Indonesianisasi dalam berbagai bidang sehingga istilah-istilah asing khususnya istilah Belanda mulai diindonesiakan selain itu buku-buku berbahasa Belanda sebagian mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
  2. Mulai Penulisan sejarah Indonesia yang berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan bangsa dan negara Indonesia dengan sudut pandang nasional.
  3. Orang-orang dan bangsa Indonesialah yang menjadi subjek/pembuat sejarah, mereka tidak lagi hanya sebagai objek seperti pada historiografi kolonial.
  4. Penulisan buku sejarah Indonesia yang baru awalnya hanya sekedar menukar posisi antara tokoh Belanda dan tokoh Indonesia.

Jika awalnya tokoh Belanda sebagai pahlawan sementara orang pribumi sebagai penjahat, maka dengan adanya Indonesianisasi maka kedudukannya terbalik dimana orang Indonesia sebagai pahlawan dan orang Belanda sebagai penjahat tetapi alur ceritanya tetap sama.

Keadaaan yang demikian membuat para sejarawan dan pengamat sejarah terdorong untuk mengadakan ”Kongres Sejarah Nasional” yang pertama yaitu pada tahun 1957.  Tahun ini dianggap sebagai titik tolah  kesadaran sejarah baru, ( Jurnal of Southheast Asian History, Vol. VI, No.1 1965). Sementara itu, kurun historigrafi tradisional  dianggap berakhir dengan tulisannya buku Cristische  Bescchouwing van de sadjarah van Banten oleh Hoesein Djajadiningrat pada tahun 1913 (Djajadiningrat, 1913). Buku itu dengan cara kritis mengkaji tradisi penulisan babad dalam khasana sastra. Historiografi Indonesia  barulah untuk pertama kalinya muncul dalam seminar sejarah nasional pertama. Agenda dari seminar itu  meliputi filksafat nasional, periodisasi sejarah Indonesia dan pendidikan sejarah. Dari sinilah dimulainya nasionalisasi atau untuk menggunakan istilah saat ini pribuminisasi historiografi Indonesia, (Kuntowijoyo, 2003).

Pada tahun 1970, terjadi perdebatan dikalangan sejarawan pada khususnya yaitu tentang  bagaimana meletakkan  tekanan pada peranan sejrah orang Indonesia dalam sejarah nasional. Alasan ini tidak lain karena semua kepustakaan sejarah lebih condong  pada peranan orang-orang Eropa (historiografi kolonial) dan melihat sejarah Indonesia sebagai sejarah ekspansi  Eropa  di Indonesia . jadi pada tahun inilah terjadi banyak perubahan pada tahun-tahun setelah 1970 tidak saja dalam arti pemikiran bagaimana sejarah seharusnya ditulis.

 

Oleh karena itu penulisan sejarah yang seharusnya adalah:

  1. Sebuah penulisan yang tidak sekedar mengubah pendekatan dari eropasentris menjadi indonesiasentris, tetapi juga menampilkan hal-hal baru yang sebelumnya belum sempat terungkap.
  2. Penulisan sejarah dengan cara yang konvensional (yang hanya mengandalkan naskah sebagai sumber sejarah) yang bersifat naratif, deskriptif, kedaerahan, serta tema-tema politik dan penguasa diganti dengan cara penulisan sejarah yang kritis (struktural analitis)
  3. Menggunakan pendekatan multidimensional.
    Caranya yaitu dengan menggunakan teori-teori ilmu sosial untuk menjelaskan kejadiaan sejarah sesuai dengan dimensinya dengan menggunakan sumber-sumber yang lebih beragam daripada masa sebelumnya.
  4. Mengungkapkan dinamika masyarakat Indonesia dari berbagai aspek kehidupan yang kemudian dapat dijadikan bahan kajian untuk memperkaya penulisan sejarah Indonesia.

Jadi jika kita telusuri usaha penulisan sejarah nasional Indonesia telah menempuh berbagai jalan antaranya:

1)      Adanya keinginan  untuk menuliskan sejarah Indonesia yang nasionalistik sebagaimana dicanangkan  dalam seminar sejarah nasional I di yogyakarta pada tahun 1957. keinginan tersebut telah banyak melahirkan buku-buku pelajaran sejarah Indonesia yang sesuai dengan cita-cita kemerdekaan dan nasionalisme.

Bersamaan  dengan kecendrungan kearah dekolonisasi dalam penulisan sejarah Indonesia itu, dikalangan penulis-penulis sejrah tentang Indonesia timbul gagasan untuk berpindah  dari penulisan sejarah yang Europe-centric ke sejarah yang asia- centric.

2)      Keinginan untuk  adanya suatu sejarah Indonesia yang ilmiah seperti dinyatakan dalam seminar Sejarah Nasional II di yogyakarta pada tahun 1970. Pada seminar Sejarah Nasional II di yogyakarta pada tahun 1970, Dr. Sartono Kartodirdjo memberikan pendapat  tentang ciri-ciri historiografi Nasional yaitu pertama, mampu memperhatikan berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Kedua, menggunakan pendekatan dari berbagai ilmu (multidimensional approach), ketiga menerapkan sejarah analitis dan ke empat, tidak mengabaikan sejarah lokal.

keinginan tersebut telah memperluas  ruang lingkup penulisan sejarah  dengan masuknya pendekatan-pendekatan baru.  Sekalipun gema dari seruan sejarah ilmiah itu kebanyakan masih terbatas pada penulisan-penulisan skripsi dan tesis diperguruan-perguruan tinggi. Kiranya kesadaran baru tentang penulisan sejarah sudah mendapatkan momentumnya.

Masih dalam dekade tahun 1970-1n ada usaha untuk menyelenggarakan suatu program sejarah lisan yang dikelolah oleh arsip nasional bekerjasama dengan para sejarawan dan perguruan tinggi. Hasil dari usaha terakhir ini  sudah tampak sekalipun belum banyak benar.

Usaha yang ditempuh oleh sejarawan dalam menuliskan sejarah nasional Indonesia terdiri dari  6 jilid, dimana pembagian sejarah Nasional tersebut  menampilkan beberapa periodisasi antara lain:

  1. Jilid I tentang zaman prasejarah Indonesia
  2. Jilid II tentang zaman kuno (awal M-1500M)
  3. Jilid III tentang zaman pertumbuhan  dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia (±1500-1800).
  4. Jilid IV tentang abad ke sembilan belas (±1800-1900)
  5. Jilid V tentang zaman kebangkitan nasional dan masa akhir Hindia Belanda (±1900-1942).
  6. Jilid VI tentang zaman Jepang dan zaman Republik Indonesia (±1942-1984).

3)      Perkembangan selanjutnya  adalah penyelenggaraan seminar sejarah Nasional  III di jakarta (1981), pada saat itu sejarawan Indonesia sudah sadar perlunya teori dan metodologi dalam penulisan. Arah penulisannya berdasarkan pendekatan ilmu-ilmu sosial. Selanjutnya pada seminar sejarah nasional Indonesia IV (1985) di yogyakarta diputuskan bahwa pada penulisan sejarah Indonesia di lakukan berdasarkan periode dan tema. Sebagai contoh, periode revolusi dan periode kemerdekaan dengan tema sejarah lokal dan sejarah sosial.

 

 

BAB III

PENULISAN SEJARAH LOKAL DI INDONESIA

Penulisan Sejarah Lokal Di Indonesia terdiri dari 5 tipe yaitu:

  1. sejarah local tradisional

sejarah local bisa dikatakan merupakan tipe sejarah yang pertama-tama muncul di Indonesia. Sifat lokalitas dengan sendirinya mudah dimengerti, karena belum berkembangnya akan kesatuan etnik, yang meliputi seluruh Indonesia seperti sesudah kebangkitan nasionalisme pada permulaan abad ke 20.

Penulisan sejarah local tradisonal ini berupa babad, hikayat, tambo, lontara dan sebagainya. Tentu saja penulisan sejarah tradisional ini tidak bisa dibandingkan dengan penulisan sejarah modern. Karena yang terpenting adalah kepedulian masyarakat sebelumnya  mengabdikan pengalaman-pengalaman sesuai dengan pikiran masyarakat tradisionalnya.

  1. sejarah local dilentatis (amatir)

penulisan sejarah yang dilakukan oleh para peminat sejarah, tetapi tidak mempunyai basic akademik sejarah. Tetapi lebih menekankan pada rekreatif atau hiburan atau memenuhi rasa estetis individual atau keingin tahuan pribadi. Dalam melakukan penelitian sejarah ini yang terpenting adanya kesadaran sejarah dilingkunan masyarakatnya yang mungkin bisa dijadikan motivasi dalam rangka pembangunan masyarakat secara keseluruhan.

nilai rekreatifnya artinya sejarah dapat memberikan kesenangan kepada kita yaitu pada kesenagan estetik dan kesenagan “perlawatan-spritual- intelektual”  dari kisah sejarah. Kisah sejarah yang disusun dengan kiat yang tinggi akan memebrikan getar-getar rasa keindahan  bagi pembacanya seperti ketika menikmati sebuah karya sastra. Tumbuhnya rasa estetis pada gilirannya akan membentuk kehalusan budi manusia.

Disamping kesenagan estetis. Cerita sejarah juga mengajak kita menempuh “perlawatan-spritual-intelektual”  ketempat-tempat yang jauh, baik yang jauh tempatnya maupun yang jauh waktunya dari jaman kita sekarang. Dan secara intelektual lawatan sejarah mampu juga mengajak kita meneladani dan mampu mencontoh orang-orang bijak pada masa lampau baik itu para filsuf dan Nabi, dll.

Jadi kegunaaan rekreatif dalam sejarah ini dapat mengajak kepada masa silam yang telah terlewati sekian lamanya dengan bernostalgia disetiap relung-relung kejadian peristiwa tersebut. Selain bernostalgia menyelami masa silam lewat sebuah karya sejarah, maka seorang pakar sejarah bapak Sartono Kartodirdjo bahwa seorang sejarawan adalah “wisatawan profesional dalam dunia lampau” (1990:26).

Karya sejarah sebagai wisata sejarah disini tidak lain adalah mengajak para penikmat sejarah dan sejarawan itu sendiri dalam menyelami masa silam. Apabila ingin mengetahui kejadian tentang pembacaan proklamasi 17 Agustus 1945 dijakarta yang dibacakan oleh Soekarno dengan dihadiri ribuan masa yang jelas pembaca tidak harus memutar waktu dengan kembali pada tahun tersebut “rasanya mustahil” inilah letak kunikan dari sejarah Unique event”. Tetapi dengan membaca hasil karya sejarah pembaca atau sejarawan itu sendiri dapat dengan bernostalgia sambil menyelami liku-liku peristiwa tersebut

 

  1. Edukatif Inspiratif

Sejarah local Edukatif Inspiratif adalah jenis sejarah local yang memang disusun  dalam rangka mengembangkan kecintaan sejarah terutama pada sejarah lingkungannya yang kemudian menjadi pangkal bagi timbulnya kesadaran sejarah dalam artian luas (kesadaran sejarah lingkungan dalam rangkah kesadaran nasional).

Guna edukatif dari sejarah memberikan “wisdoms”, kearifan, kebijaksanaan, pemahaman jati diri sebagai bangsa sebagai ancangan pijakan merencanakan dan membangun masa depan yang lebih baik.

Peristiwa sejarah tidak pernah terulang dan hanya terjadi sekali saja tetapi “kesejajaran peristiwa atau kesemacaman peristiwa” mungkin terkadi lagi lewat pengenalan sejarah tentang Kudeta G30 S/PKI misalnya kita menjadi waspada untuk mencegah “kesemacaman” peristiwa kudeta tersebut. Misalnya dengan memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa, sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai pancasila secara lebih luas dan mendalam dan mampu mencegah konflik yang ditimbulkan oleh keberagaman SARA, menjinakkan dan menyalurkan konflik-konflik sosial pada kerjasama yang positif dan sebagainya.

Dimensi penting ini dipertemukan kita dalam pemahaman umun yang diketahui dan dinyatakan bahwa sejarah dapat memberikan nilai-nilai pendidikan bagi seseorang yang mempelajarinya. Memang dengan mengkaji sejarah dapat ditemukan berbagai banyak contoh. Dalam hubungan ini sebenarnya sejarah adalah guru kehidupan.

Guru yang akan membimbing kehidupan, guru yang mengarahkan tindakan, guru yang menunjukkan dan yang terutama pula guru juga dapat memberikan keteladanan sehingga pada akhirnya sikap arif dan bijaksana dapat dijadikan sebuah pegangan utama dalam kehidupan setelah dengan mendalam mendapat nilai edukatif sejarah.

Ini berarti masa lampau yang merupakan kajian sejarah tidak berhenti sampai pada ruang kelampauan semata, melaikan terus dikonstinuitaskan pada tataran kekinian. Masa lampau yang terputus dengan kekinian tidak dapat memberikan nilai edukatif apalagi kearifan sejarah. Padahal kearifan adalah suatu contoh. Kearifan sebagai suatu sikap dan perilaku yang mendasar dapat dikuatkan melalui sejarah. Bahkan bisa dibentuk dengan mencermati, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai sejarah.

Meskipun kearifan sendiri merupakan hal yang langkah, tetapi dengan mempelajari sejarah  dapatlah memberikan nilai guna yang siknifikan dalam aspek pendidikan. artinya dengan mempelajari sejarah nilai-nilai kearifan dapat ditanamkan sedini mungkin kepada peserta didik.

 

  1. sejarah local colonial

sejarah local ini merupakan  suatu kategori tersendiri dalam tipologi sejarah local, terutama beberapa karakteristik yang dimilikinya.

Karakteristik pertama adalah sebagian besar dari penyusunannya adalah pejabat-pejabat pemerintah colonial seperti Residen, Asisten Residen, Kontrolir atau pejabat-pejabat pribumi, tetapi atas dorongan dari pemerintah klonial Belanda.

Karakteristik kedua  adalah berupa laporan-laporan  dari pejabat-pejabat colonial di daerah-daerah. Laporan ini bisah berupah serah jabatan, laporan khusus kepada pemerintah pusat di Batavia tentang suatu perkembangan khusus di daerah kekuasaan atau laporan-laporan yang menceritakan wilayah-wilayah yang diincar di Indonesia.

  1. sejarah local kritis analitis

isi penulisan sejarah dilakukan secara professional (ditangani oleh sejarawan professional) dengan menggunakan metode penulisan sejarah. Penulisan sejarah ini terdiri dari 4 corak yaitu;

  1. studi peristiwa khusus

misalnya tulisan Sartono Kartodirjho tentang pemberontakan petani di Banten.

  1. studi yang lebih menekankan kepada struktur

misalnya tulisan ahli antopologi Clifford Geertz tentang suatu kota kecil di jawa Timur, yang ditekankan kepada menemukan struktur sosial.

  1. studi tematis

maksudnya mengambil perkembangan aspek tertentu dalam kurun waktu tertentu dari masa ke masa. Misalnya  pembahasan satu tema yang dicerminkan suatu aspek serta proses sosial tertentu yang kemudian dicarikan penjelasannya.

  1. studi sejarah umum

yang menguraikan pada daerah tertentu (Propinsi, Kota , Kabupaten) dari masa kemasa, terutama lebih mengarah kepada penulisan sejarah local yang lebih popular, yang tekanannya lebih kearah penyusunan lukisan peristiwa enyeluruh.

 

BAB IV

HUBUNGAN SEJARAH LOKAL

DAN  TRADISI LISAN

Kita memang sudah cukup memiliki sumber tertulis, tetapi dalam sejarah local tetap pada umumnya tetap membutuhkan keahlian tambahan untuk mengkaji sejarah local. Arah baru dalam penelitian sejarah ialah menggunakan bukti-bukti lisan yang umumnya digunakan oleh sejarawan dan juga disiplin ilmu sosial lainnya. Sejarah lisan secara sederhana dapat dipahami sebagai peristiwa-peristiwa sejarah terpilih yang terdapat di dalam ingatan hampir setiap individu manusia. Dengan pemahaman seperti itu, menjadi jelas ada di mana sebenarnya sejarah lisan.

Tradisi penyusunan sejarah tidak bisa dilepaskan dari budaya suatu daerah. Pernyataan ini bisa dihubungkan dengan pendapat Sartono Kartodirdjo, apabila dia mengatakan bahwa “ penulisan sejarah  sebagai salah satu tempat perwujudan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan kultur dank arena itu senantiasa hidup dan bergerak (1968;20). Jadi usaha-usaha dalam  memahami serta menjelaskan realitas lingkungan itu di suatu jaman tertentu.

Kalau dalam cara berfikir rasional, mite, legenda maupun dongeng itu umumnya dianggap sebagai uraian non factual (non sejarah) bahkan uraian khayalan belaka, bagi masyarakat pendukung unsure-unsur budaya tersebut adalah merupakan sejarahnya sendiri.

Fungsi tradisi lisan bagi masyarakat pemiliknya sebagai alat menemonik yang intinya untuk merekam, menyusun, menyimpan pengetahuan guna pengajaran dan pewarisannya. Isi cerita dalam tradisi lisan lama makin lama dibumbui  dengan imbuhan  yang disesuaikan dengan  alam pikiran yang bersifat magis religius dan tokoh-tokohnya biasanya memiliki kesaktian..

 

Sejarah lisan ada di dalam memori manusia. Untuk itu, agar sejarah lisan dapat digunakan sebagai sumber sejarah, perlu ada upaya untuk mengeluarkannya dari memori individu manusia. Tanpa itu, bisa jadi sejarah lisan tidak akan pernah bisa digunakan sebagai sumber sejarah dan akan menjadi hak milik abadi sang pemilik kisah. Dalam kaitannya dengan upaya untuk mengeluarkan sejarah lisan dari memori individu manusia maka akan sampailah pada pembicaraan tentang cara, teknik, atau metode untuk mengeluarkannya. Cara, teknik, atau metode untuk mengeluarkan sejarah lisan ini untuk mudahnya bisa disebut sebagai metode sejarah lisan.

Ada dua kategori sumber lisan;

  1. sejarah lisan (oral histori) ingatan lisan (oral reminiscence) yaitu ingatan tangan pertama yang ditututurkan secara lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan. Sejrah lisan ini banyak digunakan di inggris dan Negara-negara barat  terutama untuk sejarah sosial seja tahun 1960-an. Tetapi di Indonesia tidak hanya terbatas pada sejarah sosial saja, melainkan sejarah lokal.
  2. Tradisi lisan (oral tradition) yaitu narasi dan deskripsi  dari orang-orang atau peristiwa-peristiwa pada masa lalu yang disampaikan dari mulut-mulut  selama  beberapa generasi. Dinegara-negara maju, tradisi lisan ini bisa dikatakan lenyap, tetapi dinegara-negara yang sedang berkembang dimana melek huruh dapat sama sekali menggantikan dengan budaya lisan, tradisi ini bisa masih bertahan hidup.

 

Jadi dari gambaran diatas, sudah bisa kita bedakan antara tradisi tertulis, sejarah lisan  dangan tradisi lisan. Kalau tradisi tertulis dimana penyampaiannya disampaikan dalam bentuk tertulis (teks).

 

  • Tradisi lisan menurut Jan Vansina, menurut jenisnya sebagai berikut:
  1. petuah-petuah : sebagai rumusan kalimat yang dipandang khusus bagi kelompok
  2. kisah tentang kehidupan-kehidupan dilingkungan baik senagai personal tradition dan group tradition.
  3. cerita kepahlawanan: sebagai kepahlawanan yang mengagumkan bagi kelompok pemiliknya.
  4. dongeng: umumnya bersifat fiksi untuk kesenagan dan penghibur.

 

  • Menurut James Damandjaja, tradisi lisan sama dengan foklor
  1. bahasa rakyat : logat, julukan, title kebangsawanan
  2. ungkapan tradisional ; peribahasa, pepatah,
  3. pertanyaan tradisional: teka-teki
  4. puisi rakyat : pantun, gurindam, syair
  5. cerita prosa rakyat: mite, legenda, dongen
  6. nyanyian rakyat; nyanyian tradisional.

 

 

  • FOKLORE
  1. hakekat /pengertian folklore

merupakan terjemahan dari kata folklore (Inggris) sebagai kata majemuk yang berasal dari dua kata dasar “folk dan lore”.

folk berarti:

-       cellectivity (kelompok) yakni sekompok orang/masyarakat yang memiliki cirri-ciri pengenal bisa berupa fisik, sosial dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya.

-       cirri-ciri yang paling penting adalah mereka memiliki cirri-ciri yang sama yaitu kebudayan yang telah mereka warisi secara turun temurun (1-2 generasi) yang dapat mereka akui sebagai milik bersama.

-       Mereka sadar akan identitas mereka sendiri dengan mengenal fisik yang sama untuk warna kulit, rambut, postur tubuh dlll. Sehingga mempunyai kesadaran sebagai suatu kesatuan bangsa.

Lore berarti: tradisi sekelompok orang (folk) yakni sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun, baik secara lisan, gerak dan tulis.

 

Di Eropa : folklore terbatas  hanya sebagai kebudayaan petani di desa-desa bahkan hanya sebagai kebudayaan primitive (di Inggris) sedangkan di Indonesia: folklore lebih luas karena folk diartikan sebagai kolektivitas yang bermacam-macam (petani,nelayan, pedagang, suku, dsb) jadi folklore di Indonesia obyeknya adalah sangat luas.

 

  1. ciri-ciri folklore
  2. penyebaran dan pewarisannya secara lisan dengan tutur kata dari mulut kemulut
  3. bersifat tradisional dalam penyebarannya, artinya relative tetap dari beberapa generasi.
  4. terjadi banyak fariasi dan versi yang berbeda pula
  5. bersifat anonym( nama pencipta tidak jelas)
  6. biasanya mempunyai bentuk rumus atau berpola. Misalnya  penekanan ganmbar yang berlebih-lebihan, seperti kecantikan rupa gadis yang digambarkan  sebagai bulan empat belas hari (purnama)
  7. berfungsi penting dalam kehidupan kolektifitas yang dimilikinya. Misalnya senagai alat pendidikan, protes sosial, proyeksi keinginan terpendam atau sekedar penghibur lara.
  8. pada umumnya bersifat polos dan lugu atau proyeksi emosional yang paling jujur dimanifestasikan.

 

  1. bentuk-bentuk foklore

Menurut Harold Brunvan (USA), folklore terbagi kedalam tiga tipe yang meliputi :

  1. foklor lisan

bentuknya memang murni lisan, sebab diwariskan secara lisan yang termasuk kedalam kelompok ini adalah logat bahasa, misalnya:

  1. bahasa rakyat
  2. ungkapan tradisional
  3. pertanyaan tradisional
  4. puisi rakyat
  5. crita prosa rakyat
  6. nyanyian rakyat

 

  1. foklor sebagaian lisan

bentuk merupakan campuran unsure lisan dan bukan lisan, misalnya:

  1. kepercayaan rakyat: takhayul
  2. permainan rakyat : bermain dan bertanding
  3. logat bahyasa (dialek) dan bahasa tabu, ungkapan tradisional dalam bentuk pribahasa dan sindiran, puisi rakyat yang meliputi mitos legenda, dongeng .

 

  1. foklor bukan liasan

bentuknya memang bukan lisan, tetapi cenderung memang berupa material/barang: misalnya makanan rakyat yang memang dianggap sebagai kolektif yang memiliki makna tersendiri bagi suatu kolektif yakni:

  1. sebagai ungkapan ikatan sosial
  2. sebagai solidaritas kelompok
  3. makanan dapat menurunkan ketegangan jiwa
  4. simbolisme

 

  • § MITOs

Dalam prosa rakyat dikenal dengan yang namanya mitos, legenda dan dongeng .mitos adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh masyarakatnya. Mitos pada umumnya mengisahkan tentang dewa, penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan awal. Beberapa contoh mitos adalah : Leak di Bali, Rorokidul di Jawa, Dewi Sri (dewi padi), dll.

 

  • LEGENDA

Legenda biasanya diartikan cerita rakyat yang berisi tentang terbentuknya (terjadinya ) suatu wilayah. Menurut Halrod Brunvand ada 4 macam :

  1. legenda keagamaan berisi tentang cerita orang-orang yang dianggap suci atau saleh dengan tambahan segala macam keajaiban, kesaktian dan benda-benda keramat, contoh : Wali Sanga, Sunan Kali Jaga, Syekh Siti Jenar, dll.
  2. legenda alam gaib adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan dan takhayul yang berhubungan dengan keghaiban. Biasanya menceritakan tentang hantu, genderewo, sundel bolong atau mahluk jadi-jadian. Contohnya cerita Si Manis Jembatan Ancol (Betawi), Kisah Harimau menjelma Raja Siliwangi (Sunda), kisah orang Bunian (Sumatera), kuntilanak, dll.
  3. legenda lokal adalah cerita tentang asal mula terjadinya (terbentuknya) nama suatu tempat , danau, gunung,bangunan dll. Contohnya : cerita terbentuknya Danau Toba (Sumut) , kisah Sangkuriang (Sunda), Roro Jongrang (Jateng), terbentuknya gunung Batok dan nama Tengger (Jawa),dll.
  4. legenda perseorangan adalah cerita rakyat tentang tokoh-tokoh yang dianggap dan  diyakini oleh suatu masyarakat pernah ada. Pada umumnya mengisahkan tentang kepahlawanan, kesaktian atau kisah cinta dari tokoh tersebut. Contohnya : kisah Si Pitung, Nyai Dasima (Betawi), Sabai Nan Aluih, Si Pahit Lidah (Sumbar), cerita Panji Warok Suro Menggolo (Jatim), Joko Tingkir, Roro Mendut (Jateng), Lutung Kasarung Mundinglaya di Kusuma (Jabar), Jayaprana dan Layon Sari (Bali).

 

  • § DONGENG

Dongeng adalah cerita rakyat yang bersifat khayal, sama sekali tidak pernah terjadi dan hanya bersifat hiburan tetapi di dalamnya mengandung pesan moral, petuah dan sindiran. Dongeng dapat digolongkan ke dalam bentuk dongeng binatang, dongeng manusia dan dongeng jenaka.

Pada umumnya dongeng binatang disebut Fabel, di Jawa dan Bali dinamakan Tantri . di Indonesia tokoh binatang yang paling terkenal adalah kancil yang digambarkan sebagai binatang yang cerdik dan banyak akal. Selain itu adalah tokoh kera, kura-kura, buaya, harimau, keong, kerbau, anjing, kucing, tikus, dll.

Dongeng manusia biasanya menceritakan tokoh manusia dengan segala macam kisah suka dukanya. Di beberapa daerah dongeng manusia kadang-kadang bertema sama yang membedakan hanya nama dan lokasinya saja. Dongeng dengan tema seorang pemuda mencuri pakaian bidadari yang sedang mandi adalah Jaka Tarup (Jatim). Pasir Kujang (Jabar), Raja Pala (Bali). Dongeng tentang penderitaan anak gadis karena ulah saudara dan ibu tirinya adalah bawang merah bawang putih (Betawi).

Dongeng jenaka adalah dongeng yang tokohnya bersifat bodoh, lugu, pander, jenaka tapi banyak akalnya. Tokoh dongeng jenaka adalah : Si Kabayan (Sunda), Lebai Malang, Pak Belalang (Melayu)

  • Nyanyian (Lagu) Rakyat

Nyanyian rakyat (folksong) adalah bentuk puisi yang dinyanyikan sehingga kata syair dan lagu nada merupakan satu kesatuan. Menurut materinya lagu rakyat di bedakan atas lagu anak, lagu umum, lagu religius. Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi : lagu mengiringi tarian, lagu untuk mengiringi permainan dan lagu untuk dinyanyikan.

Lagu anak banyak pula yang digunakan untuk mengiringi tarian atau permainan, contoh : cublak-cublak suweng, cingcangkeling, pokame-ame, dll. Lagu umum ada pula yang dinyanyikan untuk mengiringi tarian atau dinyanyikan biasa seperti kicir-kicir, jail-jali (Betawi) ampar pisang (Kalimantan). Lagu religius umumnya berisi pujian terhadap tuhan , dinyanyikan pada upacara yang berhubungan dengan kehidupan seperti kelahiran, perkawinan, panen, dll. Ada pula yang dipakai untuk mengiringi tarian seperti tari saman dan seudati (Aceh).

Di Jawa Tengah dan Timur salah satu bentuk nyanyian rakyat dikenal dengan nama gending seperti sinom, pucung, asmarandana, dll. Sedangkan di Jawa Barat yang seperti itu dinamakan dengan pupuh

 

  • Adat Kebiasaan

Upacara adat biasanya didasari oleh sebuah kepercayaan, upacara yang dilakukan dimaksudkan untuk mendapatkan sebuah kebaikan atau menghindarkan diri dari malapetaka dalam kehidupan masyarakat yang melakukannya. Contohnya upacara larung samudro di pantai selatan Jawa, pesta laut di pantai utara Jawa, kasodo di Tengger (Gunung Bromo), Seketan, Grebeg (Yogyakarta dan Surakarta) panjang jimat (Cirebon). Selain yang berhubungan dengan mitos dan legenda, banyak pula upacara adat yang berhubungan dengan siklus kehidupan mulai dari masa kehamilan, kelahiran, sunatan, perkawinan, dan Kematian.

Untuk mengumpulkan sumber-sumber lisan yaitu dengan menggunakan metode wawancara. Para peneliti dengan melibatkan diri terjun langsung pada subyek yang ditelitinya. wawancara adalah percakapan dua orang yang dimulai dengan tujuan kusus memperoleh keterangan yang sesuai dengan penelitian yang dipusatkan oleh isi yang dititik beratkan pada tujuan diskripsi, prediksi dan penjelasan sistematis mengenai penelitian ini. Pengumpulan data dilapangan, peneliti menggunakan metode wawancara mendalam, yang sifatnya terbuka.

Pelaksanaan wawancara tidak hanya sekali atau dua kali, melainkan berulang – ulang dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang  diteliti. Peneliti dalam melakukan wawancara menggunakan alat bantu yaitu pedoman wawancara yang nantinya berfungsi untuk mengarahkan agar materi wawancara tidak keluar dari data yan digali oleh peneliti.  Teknik wawancara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari para informan adalah wawancara bebas mendalam

Banyak orang yang masih skeptis dengan penelitian lisan. Hanya saja meskipun sumber-sumber ini lazim digunakan oleh para ahli ilmu-ilmu sosial lain tetapi sebenarnya metode ini telah mempunyai sejarah yang amat panjang yang digunakan oleh sejarawan yunani Herodutus (kk. 484-425 sm) dan Thucydides (kk.460-400 sm). Begitu pula penulis-penulis abad pertengahan juga tergantung pada kesaksian lisan. Baru setelah penulisan sejarah berganti pada kearah akademis ilmiah yang  modern maka pada abad ke 19 penggunaan sumber-sumber lisan diganti dengan menitik beratkan pada dokumen-dokumen tertulis (zaman Ranke).

 

  • Fungsi tradisi lisan bagi sejarah local:

seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Sejarah lisan ada di dalam memori manusia. Untuk itu, agar sejarah lisan dapat digunakan sebagai sumber sejarah, perlu ada upaya untuk mengeluarkannya dari memori individu manusia. Tanpa itu, bisa jadi sejarah lisan tidak akan pernah bisa digunakan sebagai sumber sejarah dan akan menjadi hak milik abadi sang pemilik kisah. Jadi keberadaan adanya sumber lisan ini sangat membantu sekali dalam pengkajian sejarah local itu sendiri.

Perlu kita ketahui bersama bahwa ada keterbatasan-keterbatasan dalam menggunakan sumber lisan sebagai sumber sejarah, hal ini dengan pertimbngan:

  1. sifat anakronisme  dari urutan peristiwanya tidak diperhatikan  ueutan-urutan waktunya terjadinya peristiwa secara benar. Hal ini tidak mengherankan karena mereka mempunyai  waktu yang berbeda.
  2. adanya unsure subjektivitas yang lebih besar  jika dibandingkan dengan sumber tertulis. Seperti kita ketahui bersama bahwa  tradisi lisan mengandung pesan-pesan lisan yang diwariskan secara turun-menurun dari generasi satu ke generasi berikutnya. Maka makin banyak unsure subyektivitas yang masuk.

Selain keterbatasan-keterbatasan yang ada dalam tradisi lisan, tetapi ada beberapa hal yang menjadi nilai positif dari tradisi lisan ,yaitu:

  1. tradisi lisan sebenarnya banyak memuat informasi yang lebih luas tentang kehidupan sosial komunitas dengan berbagai aspek.
  2. sebagai informasi dari dalam (internal information). Jadi apabila kita ingin mengetahui suatu masyarakat atau komunitas dengancara bagaimana masyarakat atau komunitas itu sendiri memandang  segala persoalan yang mereka hadapi.

Penggunaan teknik-teknik lisan yang maju bersamaan dengan pemakaian sumber-sumber tertulis dimaksudkan untuk menjaring informasi-informasi dalam merekonstruksi terutama sejarah lokal. Jadi penggunaan Sejarah lisan dalam sejarah lokal sangat berguna dalam pendataan dan mendapatkan sumber-sumber sejarah setempat. Dengan penerapan sejarah lisan dalam sejarah lokal tentunya cara ini dianggap mempunyai kecendrungan demokratis atau populis karena memberikan kesempatan bersuara tidak saja kepada orang-orang kaya dan vocal tetapi juga kepada orang-orang biasa. Dengan mendengar suara dari bawah  maka berkembang sejarah sosial dan sejarah lokal yang membahas sejarah masyarakat secara keseluruhan termasuk problema kehidupan yang mereha hadapi.

Tahapan –Tahapan Kerja pengalian sejarah lokal dengan menggunakan sumber Lisan (sejarah lisan):

Untuk mengumpulkan sumber-sumber lisan yaitu dengan menggunakan metode wawancara. Para peneliti dengan melibatkan diri terjun langsung pada subyek yang ditelitinya. wawancara adalah percakapan dua orang yang dimulai dengan tujuan kusus memperoleh keterangan yang sesuai dengan penelitian yang dipusatkan oleh isi yang dititik beratkan pada tujuan diskripsi, prediksi dan penjelasan sistematis mengenai penelitian ini. Pengumpulan data dilapangan, peneliti menggunakan metode wawancara mendalam, yang sifatnya terbuka.

Pelaksanaan wawancara tidak hanya sekali atau dua kali, melainkan berulang – ulang dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang  diteliti. Peneliti dalam melakukan wawancara menggunakan alat bantu yaitu pedoman wawancara yang nantinya berfungsi untuk mengarahkan agar materi wawancara tidak keluar dari data yan digali oleh peneliti.  Teknik wawancara yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari para informan adalah wawancara bebas mendalam

a. Tahap Persiapan

Ada delapan langkah kegiatan yang perlu mendapat prioritas perhatian. Kedelapan langkah kegiatan tersebut, meliputi, perumusan topik penelitian, penetapan judul penelitian, pembuatan kerangka penelitian, pembuatan kendali wawancara, inventarisasi dan seleksi pengkisah, kontak dengan pengkisah, pengenalan lapangan, dan persiapan alat rekam. Urut-urutan langkah kegiatan yang akan diuraikan di bawah ini tidaklah bersifat kaku, bisa jadi karena pertimbangan situasi dan kondisi, langkah kegiatan yang satu lebih didahulukan dibanding langkah kegiatan lainnya.

 

1. Perumusan Topik Penelitian

Pada dasarnya sebuah kegiatan penggalian sejarah lisan baru dapat dilakukan dengan baik manakala telah diperoleh kejelasan tentang topik yang akan diteliti. Untuk menentukan topik penelitian, setidaknya ada empat pertimbangan yang perlu dilakukan, yaitu :

  • Manageable topic, topik yang diteliti ada dalam jangkauan kemampuan intelektual, finansial, dan ketersediaan waktu.
  • Obtainable topic, pengkisah yang diperlukan untuk menggali sejarah lisan yang sesuai dengan topik yang telah dirumuskan masih hidup dan relatif mudah untuk dijangkau.
  • Significance of topic, topik cukup penting untuk diteliti. Pengukuran kepentingan topik dalam penggalian sejarah lisan dapat pula dilihat dari nilai rekonstruksi yang akan dihasilkan. Bila sebuah rekonstruksi sejarah melalui sejarah lisan akan mampu mencerahkan pemahaman sejarah masyarakat tentang suatu peristiwa yang tengah menjadi bahan pembicaraan atau masih gelap alurnya bisa pula kiranya dikedepankan untuk diberi prioritas.
  • Interested topic, topik menarik untuk diteliti. Pertimbangan keempat dalam memilih topik ini benar-benar diarahkan kepada ketertarikan peneliti terhadap topik yang dipilihnya.
  1. 2. Pemahaman Masalah

Memahami masalah yang akan diteliti sebagaimana tercermin dalam judul penelitian perlu dilakukan agar sebelum penggalian sejarah lisan dilakukan, penggali sejarah lisan telah memiliki bekal awal tentang peristiwa atau materi yang akan ditelitinya. Upaya memahami masalah dapat dilakukan melalui pendekatan konvensional dan pendekatan non konvensional. Pendekatan konvensional dilakukan dengan melacaknya terlebih dahulu melalui sumber-sumber tertulis, baik yang ada di lembaga-lembaga kearsipan maupun perpustakaan-perpustakaan. Pendekatan non konvensional dilakukan dengan melacak materi atau peristiwa yang akan diteliti melalui internet. Dari perumusan masalah akan dihasilkan kerangka penelitian yang penting untuk dibuat karena dapat menjadi petunjuk tentang informasi sejarah lisan yang diperlukan.

  1. 3. Pembuatan Kendali Wawancara

Kendali wawancara memiliki fungsi sebagai alat pancing untuk memperoleh informasi sejarah lisan sebagaimana yang diinginkan. Dengan demikian, kendali wawancara selalu memiliki keterkaitan erat dengan kerangka sementara. Apa yang sudah diuraikan dalam kerangka sementara kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam kendali wawancara.

Tampilan kendali wawancara sebagai penjabaran lebih lanjut dari kerangka sementara tidak lain berupa daftar pertanyaan. Penting kiranya untuk diperhatikan, pertanyaan-pertanyaan yang dimuat dalam kendali wawancara haruslah dibuat sesederhana mungkin tetapi jelas dan mudah dipahami. Terlebih bila pertanyaan-pertanyaan tersebut ditujukan kepada para pemilik sejarah lisan yang berasal dari komunitas masyarakat yang sederhana dan kurang atau bahkan tidak terdidik. Untuk itu semua, sudah selayaknya bila pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dimulai dengan 5 W (who,what,when, where, why) dan 1 H (how).

  1. 4. Inventarisasi dan Seleksi Pengkisah

Gambaran awal tentang keberadaan para pemilik sejarah lisan atau pengkisah sebenarnya sudah harus diperoleh sejak topik dirumuskan. Oleh karenanya, pada langkah kegiatan ini, inventarisasi dipahami sebagai proses penyusunan daftar pengkisah sesuai dengan derajat perannya dalam peristiwa sejarah serta perluasan daftar pengkisah yang akan digali sejarah lisannya. Akan menjadi baik kiranya bila daftar pengkisah ini dibuat sebanyak mungkin. Adapun yang dimaksud pengkisah (interviewee) adalah saksi hidup yang menceriterakan kesaksiannya melalui wawancara yang direkam dalam alat rekam. Kesaksian lisan dari tangan pertama, bisa berupa peristiwa tertentu yang dialami sendiri, dirasakan sendiri, didengar sendiri, dilihat sendiri, atau dipikirkan sendiri secara langsung oleh pengkisah. Setelah inventarisasi dilakukan, maka dilakukanlah seleksi pengkisah. Seleksi pengkisah yang paling sederhana menyangkut dua hal, yaitu usia dan kesehatan mental.

5.  Kontak dengan Pengkisah

Setelah diperoleh daftar pengkisah terseleksi, langkah selanjutnya mengadakan kontak dengan pengkisah. Kontak dengan pengkisah dimaksudkan untuk memperkenalkan diri, menyampaikan maksud dan tujuan, serta sekaligus membuat janji wawancara. Ada baiknya sebelum kontak dilakukan, pewawancara berupaya mengenal terlebih dahulu profil calon pengkisah, baik melalui orang-orang yang mengetahui tentang jati diri pengkisah maupun melalui bacaan-bacaan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengadakan kontak awal dengan pengkisah, mulai dari datang langsung ke tempat tinggal pengkisah, mengirim surat, berkomunikasi lewat telepon rumah atau handphone, hingga berkomunikasi melalui SMS atau e-mail. Kesemua pilihan untuk membuat kontak dengan pengkisah tersebut sifatnya tentu sangat kondisional sekali. Faktor etika dan kesantunan perlu dipertimbangkan manakala akan menentukan media komunikasi untuk mengontak pengkisah. Di antara kesemua pilihan, bila pengkisah yang akan dikontak telah berumur atau lebih tua dari peneliti ada baiknya mendatangi langsung kediaman pengkisah menjadi prioritas pilihan pertama.

  1. 6. Pengenalan Lapangan

Pengenalan lapangan di sini dimaksudkan sebagai upaya mengenal medan tempat wawancara akan dilakukan. Ada dua hal yang menjadi dasar perlunya pengenalan lapangan di lakukan. Pertama, bila kontak awal dengan pengkisah dilakukan dengan tidak mendatangi langsung tempat tinggal pengkisah. Kedua, bila ternyata dari kontak awal yang dilakukan, pengkisah memutuskan bahwa wawancara tidak diadakan di tempat tinggal pengkisah tetapi di tempat lain yang telah ditentukan, misalnya di kantor tempat pengkisah bekerja atau bila pengkisah seorang petani, wawancara diadakan di pematang sawah atau di kebun, atau bila pengkisah seorang nelayan, wawancara diadakan di tempat pelelangan ikan atau di atas perahu. Dalam situasi seperti itu, pengenalan lapangan perlu dilakukan agar pada saat wawancara akan dilakukan, peneliti sudah mengetahui dengan baik tempat yang akan dituju, termasuk memperkirakan waktu tempuh yang diperlukan agar si penggali sejarah lisan dapat terhindar dari keterlambatan tiba di lokasi saat wawancara akan dilakukan.

  1. 7. Pengenalan Alat Rekam

Fungsi alat rekam bagi seorang penggali sejarah lisan dalam kegiatan penggalian sejarah lisan tidak jauh berbeda dengan fungsi senjata bagi seorang prajurit yang akan turun ke medan perang. Untuk itu, jelaslah merupakan suatu conditio sine qua non bagi penggali sejarah lisan untuk mempersiapkan dengan baik alat rekam beserta segala perangkat pendukungnya, seperti kaset dan baterei.

Alat rekam yang baik adalah alat rekam yang jernih daya tangkapnya, bentuknya sederhana, mudah dibawa, dan untuk menjalankannya dapat menggunakan energi listrik maupun baterei. Sangat dianjurkan agar sebelum memulai menggali sejarah lisan, penggali sejarah lisan mencoba terlebih dahulu alat rekam tersebut dalam berbagai posisi dan jarak. Tujuannya, untuk mengetahui kelaikan alat rekam tersebut, sekaligus untuk mengetahui seberapa jauh daya tangkap alat rekam tersebut.

b. Tahap Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan kegiatan penggalian sejarah lisan juga dapat dibagi lagi dalam beberapa langkah kegiatan yang terdiri dari lima tahap, meliputi pembuatan label wawancara, pembukaan wawancara, menjaga suasana wawancara, membuat catatan, dan mengakhiri wawancara.

1. Membuat Label Wawancara

Fungsi label dalam wawancara sejarah lisan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan fungsi keterangan pengarang, tahun, judul, tempat terbit, dan penerbit yang ada pada sebuah buku. Oleh karena itu, jelaslah pembuatan label ini mutlak harus dilakukan dalam kegiatan penggalian sejarah lisan. Label wawancara untuk kegiatan penggalian sejarah lisan ini dibuat pada awal dan akhir wawancara, ada yang berbentuk lisan dan ada pula yang berbentuk tulisan. Adapun keterangan yang termuat dalam label wawancara, meliputi, nama pengkisah, nama pewawancara, tanggal dan tempat wawancara, waktu wawancara, dan topik atau judul penelitian.

Untuk memudahkan, ada empat jenis label wawancara yang perlu dibuat oleh pewawancara dalam kegiatan penggalian sejarah lisan.

  1. Label yang terekam dalam kaset pada awal wawancara. Sebagai contoh, label yang terekam dalam kaset ini misalnya berbunyi, “Pada hari ini, Selasa tanggal 24 Mei 2008, saya, Haidir Aulia, mengadakan wawancara dengan Bapak Masrion. Wawancara ini diadakan di tempat kediaman pengkisah di Bandung berkaitan dengan penelitian yang berjudul, ‘Insiden Sabtu Kelabu di Gedung AACC Bandung, 9 Februari 2008’. Wawancara dimulai pada pukul 16.00 WIB. Adapun isi wawancara sebagai berikut”.
  2. Label yang terekam dalam kaset pada akhir wawancara. Bunyi label wawancara di akhir wawancara misalnya, “demikian wawancara dengan Bapak Masrion, wawancara ini berakhir pada pukul 17 .13” atau “demikian wawancara pertama dengan Bapak Masrion, wawancara ini berakhir pada pukul 17.13. Wawancara selanjutnya direncanakan akan berlangsung hari Selasa tanggal 31 Mei 2008”.
  3. Dua label wawancara lainnya berbentuk tulisan, yakni yang tertulis di kulit kaset dan yang tertulis di kertas pembungkus kaset. Kedua label wawancara yang berbentuk tulisan ini berisi keterangan tentang topik atau judul penelitian, nama pengkisah, nama pewawancara, tempat wawancara, tanggal wawancara, waktu wawancara, dan isi kaset, misal :

Judul Penelitian : Insiden Sabtu Kelabu di Gedung AACC Bandung
9 Februari 2008
Nama Pengkisah : Bapak Masrion
Nama Pewawancara : Haidir Aulia
Tanggal Wawancara : 24 Mei 2008
Waktu Wawancara : 16.00 – 17.13 WIB
Tempat Wawancara : Bandung
Isi Kaset : Sisi A dan Sisi B

Berbeda dengan label wawancara yang berbentuk lisan, kedua label wawancara yang berbentuk tulisan ini di samping berfungsi untuk memberikan identitas pada kaset hasil penggalian sejarah lisan juga berfungsi untuk memudahkan melacak identitas sebuah kaset saat dilakukan pengolahan hasil penggalian sejarah lisan.

2. Pembukaan Wawancara

Bagian terpenting dari tahapan pelaksanaan metode sejarah lisan adalah saat pembukaan wawancara. Seyogyanya pembukaan wawancara dibuat sebaik mungkin agar mampu memberi kesan yang nyaman bagi pengkisah. Oleh karenanya, sangat disarankan kalau pembukaan wawancara dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang santai, ringan, dan menyenangkan bagi pengkisah, misalnya tentang riwayat hidup pengkisah, termasuk di dalamnya kenangan-kenangan manis pengkisah semasa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Sasaran utama pembukaan wawancara adalah untuk menyegarkan ingatan pengkisah akan peristiwa-peristiwa sejarah terpilih yang terdapat di dalam memorinya. Upaya lain dapat pula dilakukan dengan mengadakan dialog santai terlebih dahulu sebelum wawancara diadakan.

  1. 4. Menjaga Suasana Wawancara

Setelah pembukaan wawancara berjalan dengan lancar dan baik, hal lain yang harus segera diperhatikan adalah menciptakan rapport atau suasana psikologis berupa rasa saling percaya dan keterbukaan hubungan antara pewawancara dan pengkisah. Untuk itu, berikan kesempatan kepada pengkisah untuk memberikan informasi dan pengetahuannya secara panjang lebar dan hindarkan kesan dalam diri pengkisah bahwa seolah-olah ia tengah diinterogasi. Rapport biasanya akan mudah tercipta bila antara pewawancara dan pengkisah sebelumnya telah saling mengenal, misalnya karena hubungan kerja atau hubungan pertemanan.

Dalam kondisi seperti itu, wawancara pun biasanya akan semakin hidup karena dapat diisi dengan pembicaraan yang bersifat pleasantries, yakni kelakar-kelakar yang sebagian merupakan nostalgia terhadap pengalaman pada masa silam.

Terlepas dari ada tidaknya hubungan personal yang telah terbangun antara pewawancara dan pengkisah, untuk membangun rapport yang baik, hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Pertanyaan disampaikan satu per satu dan mulailah pertanyaan dengan kata-kata siapa, apa, dimana, kapan, mengapa, atau bagaimana (5W, 1H).
  • Usahakan pertanyaan tidak terlalu panjang apalagi berputar-putar sehingga membingungkan pengkisah. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang mudah dipahami dan mudah ditangkap oleh pengkisah, terutama bila pengkisah berasal dari lingkungan masyarakat yang sederhana dan kurang terdidik.
  • Jangan sekali-kali memotong pembicaraan pengkisah, termasuk apabila pewawancara menilai bahwa peristiwa yang diceriterakan pengkisah tidak benar, baik menyangkut tempat peristiwanya, tokoh peristiwa, ataupun waktu terjadinya peristiwa. Dengan kata lain, jangan menggunakan wawancara untuk mempertontonkan pengetahuan pribadi atau kehebatan pewawancara.
  • Jadilah pendengar yang baik selama pengkisah menyampaikan keterangannya dan berikanlah “pesan” yang jelas kepada pengkisah bahwa pewawancara sangat tertarik dengan keterangan-keterangannya . “Pesan” ketertarikan dapat berbentuk bahasa tubuh atau komentar lisan.
  • Apabila keterangan pengkisah dipandang kurang jelas, jangan segan-segan untuk bertanya kembali untuk memperjelas pemahaman atas jawaban pengkisah.
  • Bersikaplah fleksibel dan jangan terpaku hanya pada pertanyaan-pertanyaan yang termuat dalam kendali wawancara, terutama manakala ditemukan keterangan-keterangan baru dari pengkisah tentang topik yang tengah diteliti.
  • Kalau tidak terpaksa sekali, hindarkan kehadiran pihak ketiga selama wawancara
  • Hindarkan keterangan off the record yang bersifat “abadi”. Artinya, kalaupun pengkisah menyatakan bahwa keterangannya bersifat off the record maka hendaklah diupayakan bahwa hal tersebut tidak berlangsung selamanya tetapi ada kurun waktu, misalnya sifat off the record-nya hanya selama pengkisah masih hidup. Setelah pengkisah meninggal, informasi yang diberikannya menjadi terbuka untuk dipublikasikan.

Hal lain yang tidak kalah penting yang perlu dilakukan dalam tahapan ini adalah berupaya agar pengkisah mau dan dapat mengeluarkan sebanyak mungkin pengetahuannya tentang peristiwa-peristiwa sejarah terpilih yang tersimpan dalam memorinya. Seringkali untuk mengeluarkan ingatan dari diri seseorang tidaklah semudah yang dibayangkan. Kadang-kadang diperlukan berbagai alat pembantu pengingat (mnemonic device) untuk memancingnya. Bisa jadi pewawancara perlu mengawalinya dengan menceriterakan terlebih dahulu peristiwa yang hendak ditanyakan sehingga si pengkisah dapat menempatkan ingatannya pada setting yang sesuai. Cara lain, dapat ditempuh dengan mengajukan pertanyaan yang dirumuskan secara “salah”. Apapun upaya pancingan yang dilakukan untuk membuat pengkisah mampu mengeluarkan ingatannya, semuanya tidak akan berarti banyak bila rapport belum bisa diwujudkan.

Dalam kaitannya dengan upaya menciptakan rapport, ada persyaratan khusus yang sebenarnya perlu dimiliki pewawancara. Menurut Willa K. Baum (1982), seorang pewawancara (interviewer) haruslah orang yang mampu duduk tenang dan mendengarkan, yang bersedia mendengarkan pendapat yang berlawanan dengan pendapatnya tanpa merasa wajib menyanggah atau mendidik pengkisah, yang tidak takut untuk sesekali mengajukan pertanyaan atau komentar menuntun pengkisah, yang cukup tegas untuk mengakhiri wawancara tepat pada waktunya, serta menjaga agar wawancara tersebut tetap berlangsung dalam batas-batas penyelidikan sebagai yang telah direncanakan semula, yang bersikap cukup awas dan berpengetahuan cukup luas untuk mengetahui apabila pengkisah menyinggung subyek yang tidak direncanakan namun sangat berharga, dan yang mampu menelusuri subyek baru tersebut dengan pertanyaan-pertanyaan.

Dengan persyaratan tersebut, secara otomatis ada dua karakter yang tidak boleh dimiliki seorang pewawancara, pertama, orang yang selalu merasa wajib untuk berbicara. Kedua, orang yang selalu merasa wajib untuk mengatur orang lain.

  1. 5. Membuat Catatan

Pembuatan catatan sewaktu wawancara berlangsung di antaranya dimaksudkan untuk mencatat kata-kata yang dinilai kurang jelas atau kata-kata yang dianggap penting, misalnya mengenai nama orang, nama tempat, atau istilah-istilah tetentu yang bersumber pada bahasa asing atau bahasa daerah setempat. Adapun koreksi terhadap kata-kata yang dicatat tersebut dilakukan segera setelah wawancara selesai atau bila dipandang perlu dapat ditanyakan sewaktu wawancara masih berlangsung. Di luar itu, pembuatan catatan juga perlu dilakukan untuk menyikapi kemungkinan munculnya pertanyaan baru di luar yang tertulis dalam kendali wawancara.

  1. Mengakhiri Wawancara

Keputusan untuk mengakhiri wawancara sangat ditentukan oleh kejelian pewawancara dalam memahami permasalahan serta dalam membaca suasana wawancara. Apabila data yang diperlukan dari pengkisah sudah memenuhi target yang diinginkan hendaknya wawancara segera diakhiri untuk mencegah masuknya informasi-informasi yang tidak relevan dengan topik atau judul penelitian dalam kaset. Demikian pula apabila pengkisah kelihatan sudah lelah atau banyak ngelantur dalam menuturkan kisahnya sebaiknya wawancara pun segera dihentikan untuk dilanjutkan pada waktu yang lain.

  1. 1. Membuat Surat Pernyataan

Surat pernyataan wawancara perlu dibuat untuk memperkuat kredibilitas hasil penggalian sejarah lisan sebagai sumber sejarah serta untuk memberi rasa aman pada kedua belah pihak bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, seperti pemutarbalikan fakta oleh pewawancara maupun pengkisah ataupun pengingkaran telah memberikan keterangan tertentu oleh pengkisah. Oleh karenanya, agar aspek legalitas hukum juga dapat terjaga dengan baik, surat pernyataan sebaiknya dibuat di atas kertas segel atau kertas bermeterai sesuai peraturan yang berlaku.

Surat pernyataan wawancara pada dasarnya dapat dibuat dalam dua model. Pertama, surat pernyataan yang dibuat segera setelah wawancara dilakukan. Dengan demikian, keterangan dalam pernyataannya hanya berisi keterangan bahwa pengkisah benar-benar telah diwawancarai oleh pewawancara berkaitan dengan judul penelitian yang telah ditentukan, serta waktu dan tempat yang telah ditentukan pula. Kedua, surat pernyataan yang dibuat setelah transkripsi dibuat. Surat pernyataan model kedua ini dibuat setelah pengkisah membaca dengan seksama hasil transkripsi wawancara. Selanjutnya apabila isinya sesuai dengan yang terekam dalam kaset, pengkisah menandatangani transkripsi tersebut dan membuat surat pernyataan yang isinya keterangan telah diwawancarai serta kebenaran bahwa hasil wawancara sesuai dengan yang tertulis dalam hasil transkripsi.

  1. Tahap Pembuatan Indeks dan Transkripsi

Pembuatan indeks dan transkripsi dalam metode sejarah lisan dapat dikatakan sebagai tahapan akhir proses penggalian sejarah lisan. Tujuananya untuk mempermudah penggunaan hasil penggalian sejarah lisan sebagai sumber sejarah. Kedudukan indeks dalam penelitian sejarah lisan dapat dikatakan hampir sama dengan kedudukan daftar isi pada sebuah buku. Sementara itu, pembuatan transkripsi dimaksudkan untuk mempermudah pengolahan hasil penggalian sejarah lisan. Dengan melakukan transkripsi, yang inti kegiatannya berupa pengalihan bentuk lisan ke bentuk tulisan, proses pengolahan sejarah lisan sebagai sumber sejarah diharapkan menjadi lebih mudah dan lebih cepat.

  1. Pembuatan Indeks

Sejalan dengan fungsinya, pembuatan indeks haruslah diupayakan mampu memberi gambaran yang jelas dan utuh tentang isi kaset hasil penggalian sejarah lisan. Untuk itu, perlu ada penguraian yang cermat dan cerdas tentang isi hasil penggalian sejarah lisan ke dalam bagian-bagian tertentu, misalnya, bila penggalian sejarah lisan berupa wawancara dengan Bapak Masrion tentang “Insiden Sabtu Kelabu di Gedung AACC BAndung, 9 Februari 2008”, maka uraian di dalam indeks dapat terdiri dari, riwayat hidup pengkisah, masa pendidikan dasar, masa pendidikan menengah, masa pendidikan atas, masa hidup berkeluarga, masa memiliki anak, masa anak menjadi dewasa, masa-masa ketika anak menjadi korban insiden, sikap dan pandangan terhadap insiden, dan dilema dalam menyikapi Insiden Sabtu Kelabu.

Secara teknis, setidaknya ada dua alternatif pilihan dalam pembuatan indeks, yaitu :

  • Pembuatan indeks dengan berdasarkan pada pembagian waktu atau ke dalam satuan menit dan jam. Misalnya, Sisi A, 00 riwayat hidup pengkisah, 06 masa pendidikan dasar, 21 masa pendidikan menengah, 28 masa pendidikan atas, 34 masa hidup berkeluarga, 39 masa memiliki anak; Sisi B, 00 masa anak menjadi dewasa, 12 masa-masa ketika anak menjadi korban insiden, 27 sikap dan pandangan terhadap insiden, 33 dilema dalam menyikapi Insiden Sabtu Kelabu.
  • Pembuatan indeks berdasarkan angka yang terdapat pada tape (tape counter). Umumnya setiap tape counter memiliki tiga digit angka. Dengan demikian, bila pembuatan indeks dilakukan dengan menggunakan tape counter maka pembagiannya misalnya menjadi, 000 riwayat hidup pengkisah, 035 masa pendidikan dasar, 079 masa pendidikan menengah, 177 masa pendidikan atas, 276 masa hidup berkeluarga, 354 masa memiliki anak, dan seterusnya.
  1. 4. Pembuatan Transkripsi

Kaset hasil penggalian sejarah lisan pada dasarnya sudah memadai untuk digunakan sebagai sumber sejarah. Namun, manakala berbicara tentang kemudahan untuk mengolahnya maka pembuatan transkripsi mau tidak mau harus dikedepankan sebagai jawabannya. Sejarah lisan tanpa transkripsi sering dikatakan sebagai kelemahan yang khas dari sejarah lisan, karena dipandang tidak praktis dalam pemanfaatannya. Dengan demikian, pengalihan dari bentuk lisan ke bentuk tulisan tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan kejernihan (clarity) dan untuk menggampangkan (readability).

Kejernihan yang diharapkan dari pembuatan transkripsi tidak lain adalah kejelasan tentang apa yang terekam di dalam kaset. Seringkali karena suara pengkisah yang tidak jelas, kondisi alat rekam yang kurang baik, tempat wawancara yang bising, atau munculnya suara-suara yang tidak terduga selama wawancara mengakibatkan hasil wawancara kurang begitu jelas terdengar. Dalam kondisi demikian, biasanya hanya pewawancaralah yang lebih bisa mengenali dengan relatif lebih baik apa yang disampaikan oleh pengkisah, termasuk segala bunyi yang ada di dalam hasil rekaman, dan sebaliknya hampir sulit bagi orang lain untuk dapat menangkapnya dengan jelas.

Pembuatan transkripsi hasil penggalian sejarah lisan juga diharapkan dapat menggampangkan proses pengolahan. Makna menggampangkan di sini tidak lain berkait erat dengan efektifitas dan efisiensi mengolah sumber. Dalam bentuk lisan, waktu yang dibutuhkan untuk mengolahnya bisa jadi sama dengan waktu pelaksanaan penggalian sejarah lisan itu sendiri karena harus mendengar secara lengkap hasil rekaman. Sebaliknya, apabila telah dibuatkan transkrispsi, proses pengolahan akan lebih cepat dan lebih mudah karena hasil penggalian sejarah lisan dapat dibaca dalam bentuk tulisan dan itu berarti waktu mengolahnya akan lebih mudah dan lebih singkat.

 

BAB V

SUMBER-SUMBER SEJARAH LOKAL

Dimuka telah diketengahkan dengan jelas mengenai pengertian sejarah baik secara etimologis maupun secara difinitif yang memberikan gambaran bahwa kehidupan manusia itu berjalan dalam hamparan peristiwa diatas tempat dan kurun waktu. Kehidupan manusia sehari-hari terus menatap masa depan  dengan meninggalkan jejak masa lampau yang terhampar begitu luas sekali, sehingga sulit untuk mengingat kembali apa yang pernah dilakukan  oleh manusia sebagai mahluk sosial; apa lagi akan menceritrakan secara terinci . maka sering sekali dikaitkan masa lampau itu gelap untuk mengungkapkan masa lampau yang gelap adalah tugas ilmu sejarah. M Rostovzeff menemukakan bahwa tugas ilmu sejarah yaitu membuka kegelapan masa lampau manusia, memaparkan kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya  dan mengikuti perkembanganya. Dari masa paling tua sampai hari ini. ( dalam artikel Sugianto dalam majalah ilmiah  pancaran pendidikan No 3 ,Januari, 1991:49 ).

Sejarah mengajarkan manusia menjadi bijaksana, karena ilmu sejarah menerangkan kegelapan masa lampau umat manusia. Sedangkan dibelakang perjalanan hidup manusia terhampar jejak peristiwa kejadian masa lampau yang sulit diitung walu dengan teknologi canggih, tepi ilmu sejarah harus dapat menerangkan masa lampau? Sebab ilmu sejarah berpijak pada dokumen sebagai bagian dari obyek penilaian yang memuat kejadian dan peristiwa masa lampau yang serba unik dan hanya sekali terjadi. Karena semua itu tidak bisa diulang kembali. Dengan demikian kita tidak bisa menyaksikan apa saja yang terjadi  atau berlalu dan juga tidak bisa mengamati secara langsung sebagai obyek. Meskipun demikian apa yang disebut telah lampau telah lenyap secara keseluruan, walau tinggal kepingan  atau kesanya saja. Kejadian atau  peristiwa  totolitas tidak mungkin ditangkap seluruhnya oleh umat manusia. Memang manusia tidak memerlukan secara kesluruan, hanya memerlukan bagian-bagian tertentu yang dipandang  penting atau mempunyai arti.

Kejadian atau peristiwa  yang menyangkut kehidupan manusia, yang telah lenyap itu bisa sampai ke kita atau  kegenerasi penerus karena meninggalkan jejak atau dokumen. Oleh karena itu dokumen atau jejak atau sebagai sumber  sejarah mempunyai  nilai yang sangat penting sekali.

Seorang sejarawan dalam usahanya mendapatkan sumber-sumber sejarah atau dimanfaatkan dalam hal bidang penelitian sejarah tentunya sumber-sumber sejarah tersebut merupakan hal yang amat penting untuk menunjangnya. Kegiatan dalam pengumpulan sumber tersebut seringkali dikatakan sebagai heuristik sejarah (pengumpulan sumber sejarah). Banyak cara yang didapatkan dalam pengumpulan sumber-sumber sejarah, misalnya di museum jika bahan-bahannya bersifat arkeologis, epigrafis atau numismatis. Jika bahan-bahan tersebut  berupa dokumen-dokumen resmi, maka seorang sejarawan dituntut untuk mendapatkan di gedung arsip, pengadilan-pengadilan, perpustakaan pemerintah, jika bahan-bahan itu merupakan dokumen-dokumen pribadi yang  tidak terdapat dalam koleksi resmi, maka dituntuk untuk mendapatkan diantaranya dolumentasi perusahaan-perusahaan, milik berharga kolektor.

Seorang sejarawan atau peneliti akan mudah menemukan sumber-sumber yang diinginkan manakalah mempertimbangkan atau adanya batasan-batasan mengenai perorangan, waktu, wilayah, fungsi (yakni aspek-aspek politik, intelektuilnya, diplomasi dan aspek-aspek yang lain), maka semakin besar kemungkinan sumber yang dinginkan sesuai dan terdapat hubungan dengan subyek.

 

sumber-sumber tulisan dan lisan dibagi atas dua jenis: yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah kesaksian dari pada seorang saksi dengan mata kepala sendiri atau saksi dengan panca indra yang lain atau dengan alat mekanis seperti diktafon yakni orang atau alat yang hadir pada peristiwa yang diceritakannya atau selanjutnya dapat dikatakan sebagai saksi pandangan mata.

Jadi, sumber primer dengan demikian harus dihasilkan  oleh seorang  yang sejaman  dengan peristiwa  yang dikisahkan. Sumber primer itu tidak perlu asli. Sumber primer hanya perlu asli dalam arti kesaksian tidak berasal dari sumber lain, melainkan dari tangan pertama.

Sebuah sumber sejarah  (catatan harian, surat kabar, buku) adalah autentik dan asli jika itu benar dianggap sebagai pemiliknya. Perbedaan asli dan autentik tidak selalu sinonim.sumber asli artinya sumber yang tidak palsu sedangkan sumber autentik adalah sumber yang melaporkan dengan benar mengenai suatu subjek yang tampaknya benar.

Contoh: sumber sejarah yang asli tapi tidak autentik (misalnya: seorang jurnalis menulis suatu artikel tentangsuatu kerusuhan yang tidak disaksikan sendiri). Sebaliknya sumber sejarah yang autentik tapi tidak asli (misalnya:teks ketikan proklamasi yang ditandatangani oleh Soekarno-Hatta dan dibacakan pada tanggal 17 agustus 1945, dapat disalin oleh seorang pemalsu dan disajikan sebagai suatu yang asli).

Asli mempunyai kata yang mempunyai begitu banyak arti yang berbeda-beda, sehingga lebih baik dihindarkan didalam pembicaraan sejarah yang diteliti. Suatu dokumen boleh dikatakan asli apabila mempunyai kriteria sebagai berikut:

  1. karena mengandung gagasan yang segar  dan kreatif
    1. tidak diterjemahkan  dari bahasa yang diprgunakan untuk menuliskannya
    2. berada dalam tahapan yang palang awal atau sumber paling awal dan belum diupam
    3. teksnya merupakan teks yang disetujui, yang tidak diubah-ubah dan tidak diganti-ganti

Sumber sekunder merupakan kesaksian daripada siapapun yang bukan merupakan saksi pandangan mata, yakni dari seorang yang tidak hadir pada peristiwa yang dikisahkan( oral tradition).seringkali sejarawan harus bertumpuh kepada karya-karya sekunder (tangan kedua)oleh karena itu seorang sejarawan yang cermat harus berhati-hati terhadap karya-karya sukunder. Seorang sejarawan menggunakan sumber sekunder dengan tujuan 4 (empat) macam, Yaitu;

  1. untuk menjabarkan latarbelakang yang cocok dengan bukti yang sejaman  mengenai subyeknya,tetapi harus bersiap sedia untuk menyangsikan dan meluruskan pertelaan sekunder;
  2. untuk memperoleh petunjuk mengenai data bibliografi yang lain;
  3. untuk memperoleh kutipan atau petikan dari sumber-sumber sejaman atau sumber-sumber lain dan senantiasa dengan sikap skeptis terhadap sikap akuratnya, terutama jika diterjemahkan dari bahasa yang lain; dan
  4. untuk memperoleh interpretasi dan hipotesis menganai masalah tersebut, tetapi hanya dengan tujuan untuk menguji atau untuk memperbaiki dan jangan dengan maksud menerima secara total.

 

Sebagai penjabaran mengenai sumber primer dan sumber sekunder juga akan dijelaskan mengenai bentuk dari sumber-sumber masa lampau yang telah meninggalkan jejak, maka jejak menjadi dokuman penting  yang tak bisa ditinggalkan  dalam upaya merekontruksikan masa lampau sebab jejak mengandung informasi yang dapat menjadikan bahan penyusun kisah yang dapat diwariskan .

sumber primer dan sumber sekunder

Dilihat sampai jejak-jejaknya kepada kita Soeri Soeharto  membedakan sebagai berikut :

  1. jejak yang tidak dengan sengaja ditinggalkan oleh mereka yang mengalami kejadian untuk diketahui dan digunakan ;
  2. jejak yang secara sengaja  dan sadar dipelihara  dan diteruskan untuk menjadi bahan informasi kepada pariwara.

Adapun yang termasuk kategori jejak pertama  (a) alat-alat yang berupa artifact. Maupun alat-alat atau peninggalan besar lainya seperti gua dan beneteng. Sedangkan kelompok jejak kedua (b)  ialah yang sampai kepada kita karena orang telah memiliki kesadaran akan manfaatnya. Sehingga jejak yang merupakan bagian atau rekaman atau kejadian-kejadian dipelihara, disimpan baik-baik supaya bila dimaanfaatkan oleh pihak–pihak yang berkepentingan dalam upaya merekonstruksikan masa lampau.

Menurut jenisnya jejak historis  bisa dibedakan menjadi tiga jenis:

  1. imakarial, diantaranya ialah ketentuan-ketentuan yang hidup atau yang didapat dalam masyarakat seperti lembaga-lembaga sosial, kepercayaan, adat kebiasaan,  norma-norma etika yang berlaku tradisi legenda  dan lain-lain. Ini jejak yang tidak dapat dilihat  dan tidak bisa diraba, hanya bisa diketahui atau dipahami karena terdapat dan berlaku  dalam hidup bermasyarakat dan memilki pengaruh yang cukup berarti:
  2. material, yaitu jejak dari aktivitas ornag yang hidup dimasa lampau  dan berujud. Biasanya jejak itu sampai sekarang berfungsi, misalnya masjid,candi,monumen, dll.
  3. Jejak tertulis yang lazim disebut dokumen  (ibid,:51-52 ). Jejak ini bisa berupa: prasati, tulisan diatas lontar,dll, yang selanjutnya akan dibahas  dalam urayan berikutnya.

 

Bahwa dokumen bisa mngajarkan sesuatu tentang kita apa yang terkandung didalamnya batas-batas tertentu. Oleh karena itu perlu dikemukakan tiga pengertian  yang terkandung dalam kata  dokumen :

Dokumen ialah segala sesuatu , tertulis dan tidak tertulis yang memberikan keterangan tentang masa lampau berupa informasi kepada kita  (dokumenum, dokero= yang pengajar) begitu penting dokumen itu untuk memberikan keterangan tentang masa lampau, sehingga ada ungkapan yang berbunyi; no dokuments no histori ”;

Dokumen dalam pengertian lebih terbatas berarti catatan (writton records ) baik itu resmi atau tidak resmi, baik tercetak atau tertulis tangan. Dokumen dalam arti yang sempit ialah catatan tulisan yang asli baik bersifat resmi  atau umum dari pemerintah  atau badan-badan resmi, baik swasta maupun hukum, bisa berupa surat-surat, laporan-laporan, keputusan-keputusan,dll. (ibid)

Dengan tiga pengertian itu penjabaranya dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tipe  bahan dokumenter, Prof. Dr. Sarono Kardodirjdo, dalam buku pemikiran  dan perkembangan Historigrafi Indonesia. Suatu alternatif  bahan dokumenter menurut  keadaanya dibagi dalam beberapa seni yaitu (1982 :102 - 112).

a.   Otobiogrfi

Otobiografi sudah lazim orang membedakan  tiga macam otobiografi yaitu : 1) otobiografi komprehensif ialah otobiografi yang panjang dan bersegi banyak: 2) otobiografi topikal ialah yang pendek isinya dan sangat khusussifatnya: 3)  otobografi yang diedisikan yaitu yang disusun oleh pihak lain.

b.   Surat-Surat Pribadi, Catatan Suatu Buku Harian dan Memoirs

salah satu kumpulan surat yang penting bagi penyelidikan masyakat Indonesia pada awal abad ini ialah surat-surat  RA Kartini kepada Nyonya Abendanon yang tekumpul dalam buku  yang berjudul ”Habis Gelap Terbilah Terang”disamping itu untuk memperlancarkan emansipasi  yang termuat didalam buku itu jaga soal-soal tradisi kuno dalam lingkungan keluarga Bupati. Norma-norma sosial yang berlaku, cara pendidikan pada umum nya dan pendidikan anak perempuan pada khususnya, kehidupan wanita dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Dokumen yang bersifat pribadi yaitu buku harian. Contoh buku harian yang langkah, Jakarta diary oleh Mochtar Lubis yang dimuat dalam Indonesia raya.

Nemoirs,pada umumnya berisi urayan soal-soal umum. Pada umumnya yang dikarang  oleh orang Indonesia yang merupakan kisah perjalanan. Contoh: Negara Kertagama karangan Prapance, yang dapat digunakan untuk merekontrusikan struktur masyarakat pada abad XIV, terdapat dalam karya Pigeau ”java in the fourteenth gentury”. Yang dalam bahasa Indonesia oleh Prof.Dr, Slamet Mulyono, Negara Kartagama Tafsir dan sejarahnya ”penggunaan bahan tersebut memerlukan aproach filologi, dengankritik tekstualnya  karena menggunakan bahas jawa kuno.kemudian pada dewasa  itu juga dapat informasi keadaan sosial dan politik pada sekitar kemerdekaan RI contoh :Mohamad Hatta Momeir.

 

c.   Surat Kabar, Majalah, dan Bulletin

surat kabar disamping sebagai informasi juga media yang baik untuk meletakan pengaruh pada politik. Contoh .surat kabar pada jaman revolusi  diIndonesia yaitu kedaulan rakyat,berita antara front national ,Indonesia merdeka;secarasingkat dapat dikatakan bawa penggunaan surat kabar  sebagai sumber perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: v1)menetukan warnanya ;terutam pengaruhnya dalam memperoleh peristiwa-peristwa ; 2) norma ketelitianya ; 3)sumber-sumber informasinya; 4) identifikasi  pribadi beberapa dari pengarangnya.

 

d.   Dokumen Pemerintah

kepercayaan pada dukeman ini sebagai saksi dari peristiwa-peristwa serta keadaan masa lampau berdasarkan taida kepentingan pribadi, kebodohan dan biasa, maka dokumen pemerintah termasih dapat dipercaya. Contoh dokumen pemerintah Kolonial ”Staatsbladen Vas Naderlandsch Indie” (Staatsblad thn 1834, no 22: memuat ketentuan ketentuan pokok sistem tanam paksa ). Ini bisa digunakan untuk peneliti pelakasaan tanam paksa. Khususnya di Jawa , diantara dokumen-dokumen pemerintahan beberapa katagori yang perlu disebut, antara lain: 1)missive, ialah surat resmi dari asisten residen atau residen kepada Gubenur Jendral.; 2 ) keputusan keputusan pemerintah ; 3) mamoranda ialah lporan pada waktu melakukan serah terima jabatan; 4) militair journal catatan harian yang dari kesatusn militer yang melakukan operasi; 5) surat kawat: 6) laporan-laporan rapat; 7) proses verbel(berita acara )dari persidangan pengadilan.

c.   ceritera roman ini adalah imigrasi ,dalam menulisnya dengan tidak sengaja menggunakan data yang menyangkut keadaan sosial yang menyangkut cerita itu terjadi.contoh Maxhaelear.oleh multatuli ;damar wulan ;dan untung suropati.

Dimuka telah dijelaskan  diuraikan dengan macam dan jenis dokumen . Dalam kaitanya dengan kegiatan penelitian dokumen sanagt diperlukan . Adapun fungsi dokumen Prof.Dr. Sartono Kartodirdjo,adlah:

  1. membentuk dann memperbaiki alat konsepsual kita. Proses penelitian konduktif yang otentik memang memerlukan bahan dokumen yang banyak. Bahwa penelitan ilmiah memerlukan konseptualisasi. Dengan demukian bahan dokumen turut membantu menyusun kontruksi konseptual serta penyempurnaanya;
  2. menyerahkan hipotesa baru, hipotesa merupakan suatu perumasan generalisasi sementa,oleh karena itu, persoalan hepotesa memerlukan data maka untuk verifikasi (pembuktian )diperlukan dokumen yang banyak.
  3. Dokumen menyajikan data untuk menguji dan memberi ilustrasi pada teori;
  4. Dokumen memberikan fakta untuk memperoleh pengertian historis tentang fenomena yang unik.

Berdasarkan gambaran diatas mengenai sumber-sumber sejarah yang berupa sumber primer dan sumber sekunder adalah sama-sama penting bagi sejarawan karena mengandung unsure-unsur primer (atau setidak-tidaknya menyampaikan kepada unsure-unsur primer). Unsur unsure yang disampaikan dapat dipercaya bukanlah buku dan artikel atau laporan yang mengandung, melaikan karena yang mengkisahkannya dapat dipercaya sebagai saksi daripada unsure-unsur tersebu

 

BAB VI

METODELOGI PENELITIAN DAN PENULISAN SEJARAH LOKAL

Ilmu Pengetahuan Sejarah mempunyai sifat yang berbeda dengan ilmu –  ilmu yang lain yang tatanan Ilmu yang yang bersifat partikularistik artinya yang mengutamakan kepentingan khusus dari pada kepentingan umum maka sangat perlu menggunakan metode kusus yang disebut metode sejarah atau metode penelitian sejarah. Tentu saja menyangkut masalah prosedur kerja yang harus diikuti sejarawan atas dasar prinsip-prinsip dari metodologi ilmu sejarah. Metode Penelitian sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau ( Louis Gottschalk,1986:32)

Menurut Nugroho Notosusanto (1978 : 17) metode prosedur kerja sejarawan dapat dikelompokan menjadi 4 (empat) kegiatan yaitu:

1.  Heurisitik

Langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian sejarah adalah berupa pengumpulan data atau sumber-sumber / bahan-bahan serta jejak masa lampau yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Aktivitas mencari sumber – sumber sejarah inilah yang disebut heuristik, dari kata “ Heuriskein” yang berarti menemukan. Jadi kegiatan ini ditujukan untuk menemukan serta mengumpulkan jejak-jejak dari peristiwa sejarah yang sebenarnya mencerminkan berbagai aspek aktivitas manusia dimasa lampau

Klasifikasi Jejak sejarah dimasa lampau yang dikenal sejarawan adalah :

  1. Jejak yang ditinggalkan “tidak dengan Sengaja “ (Unpremeditated) oleh manusiadalam kehidupanya sehari-hari , missal jenis alat (artifacts)
  2. Jejak yang ditinggalkan “ Dengan Sengaja” (Intetional) oleh manusia dalam kehidupanya dengan sengaja dibuat untuk jaman kemudian seperti Surat wasiat, daftar silsilah keluarga , prasasti dll

Cara mengklasifikasikan jejak sejarah tersebut diatas adalah pembagian jejak sejarah menjadi jejak “ Historis” dan “Nonhistoris” memang pengklasifikasian ini bersifat relatif, selanjutnya dari jejak histories Kyvig dan Marty jejak histories ini dikelompokan menjadi empat (4) Jenis yaitu:

  • Jejak Non Material
  • Jejak Material
  • Jejak tertulis
  • Jejak Representational ( Kyvig & Marty 1984 : 59) yang pertama berupa berbagai lembaga masyarakat,adat, kepercayaan, tradisi, hal – hal goib, dongeng , bahasa dll.

Jejak material dengan sendirinya bersifat kongkrit terdiri dari berbagai macam benda, sedang jejak yang berupa sumber tertulis bisa dibedakan  bentuk tulisan tangan, dan cetakan, kadang-kadang jejak tertulis ini merupakan bagian dari jejak material missal prasasti

Jenis jejak historis yang keempat sebenarnya bisa dimasukan sebagai jejak material, hanya karena sifatnya kusus diberi istilah kusus oleh Kyvig dan Marty sebagai jejak “Reprersentasional” artinya jejak yang mampu mewakili jejak yang lain contoh Potret atau lukisan

Masih ada satu jenis Jejak yang cukup penting dalam penulisan sejarah lokal yaitu jejak Informasi Lisan Dari Pelaku atau saksi sejarah. Kyvig dan Marty memasukan jejak  lisan ini kedalam jejak tertulis yang disebut dengan istilah “ Dokumen Lisan” (Oral Ducumment), terutama atas dasar kenyataan bahwa meskipun bersumber pada informasi lisan tapi pada waktu digunakan menyusun sejarah ini sudah berupa informasi tertulis atau dokumen.Satu dukumen kusus yang juga sangat diperlukan dalam penulisan sejarah lokal    oleh Kivig dan Marty disebut “Ephemera” sebagai dokumen “Gado-gado” yang sering disebut kurang berarti, padahal bisa  punya arti penting untuk mengetahui situasi kusus sehari-hari dari masyarakat  Ephemera ini bisa berasal dari berbagai sumber dan mempunyai sifat dan tujuan macam-macam, ini misalnya bisa berupa brosur, Pamplet, Advert, dll  Menurut Kkivig dan Marty “ Peta “ juga bisa dimasukan sebagai dokumen , ada beberapa jenis petasesuai dengan tujuan atau kepentingan tertentu pada masyarakat

2. Kritik

Langkah kedua adalah melakukan kritik yaitu kegiatan menganalisa dan meneliti terhadap data atau sumber-sumber yang didapat . Disinilah peneliti dituntut ketrampilan sikap yang kritis dan jujur dan berpegang teguh pada prinsip keilmuan / Ilmiah  yang dalam lingkungan studi sejarah sebagai “ Kritik sejarah “ .

Kritik Sejarah ini dibedakan menjadi kritik Eksteren dan Kritik Interen

Kritik Ekstern bertujuan menjawab 3 pertanayaan pokok yang menyangkut jejak yang telah ditemukan yaitu :

  1. Adakah Jejak sejarah yang ditemukan itu jejak yang Outentik ?
  2. Kalau jejak itu tiruan adakah terjadi perubahan / penyimpangan dari aslinya
  3. Kalu memang terjadi perubahan / penyimpangan seberapa jauh perubahan/penyimpangan itu

Kritik Interen terutama ditujukan kepada sumber dokumen ,karena ini menyangkut informaasi dengan peristiwanya. Maka dari itu kritik Interen terutama mempertanyakan 2 hal pokok yaitu :

  1. Apakah pembuat kesaksian “Mampu” memberi kesaksian.apakah dia ikut /melihat terlibat atau mendengar dari orang lain, demikian juga derajat kewenangan dalam peristiwa (tentu saja berbeda sumber informasi sebagai tokoh atau sebagai orang biasa)
  2. Menyangkut pertanyaan apakah pemberi informasi “Mau” memberi informasi yang benar, apakah pemberi informasi ini menutup-nutupi peristiwa yang sebenarnya. Sebab ini bisa terjadi untuk menutup-nutupi atau melebih-lebihkan dari apa yang sebenarnya terjadi. Ini bisa terjadi karena bisa juga hanya untuk kepentingan pribadi. Jadi pada dasarnya Kritik Intern ini untuk menyering kwalitas dari informasi yang didapat dari jejak atau sumber sejarah dengan membanding-bandingkan kesaksian pelbagai sumber, dimana kesaksiaan dari pelbagai sumber dijejer-jejerkan dan saling dicek secara silang (Cross Ecamination)

Dari uraian diatas kita ketahui bagaimana melalui kritik sejarah jejak-jejak sejarah itu kemudian bisa diwujudkan sebagai fakta sejarah , yaitu sesudah jejak itu lolos dari pengujian kritis. Dengan Demikian , Fakta Sejarah itu sebenarnya adalah keterangan atau kesimpulan yang kita peroleh dari jejak-jejak sejarah setelah disaring atau diuji kebenaranya melalui kritik sejarah

(Notosusanto,1964:67)

  1. 3. Interpretasi

Dengan terwujudnya fakta sejarah ini kegfiatan sejarawan belum berakir sebab fakta sejarah ini belum bisa disebut sejarah dalam arti ceritera tentang apa yang telah dialami oleh manusia diwaktu lampau

Fakta sejarah yang telah ditemukan perlu dihubung-hubungkan dan dikait-kaitkan dengan satu sama lain sehingga antara fakta dengan fakta lainya kelihatan sebagai satu rangkaian yang masuk akal.dalam arti menunjukan kecocokan satu sma lainya. Kegiatan tersebut diatas inilah disebut membuat Interpretasi, dengan demikian berarti ada fakta yang dibuang atau diabaikan karena dirasakan tidak klop dengan gambaran cerita yang sedang disusun. Disinilah memungkinkan timbulnya subyektivitas yang berlebihan dari sejarawan, namun dikalangan Sejarawan Profesional sebenarnya telah ada satu standart etis yang mestinya menghalanginya untuk berbuat seperti dikemukakan diatas.

Menurut Nugroho Notosusanto Interpretasi adalah menetapkan makna yang saling berhubungan antara factor- factor yang telah dihimpun (1971:17) Lebih lanjut beliau mengatakan dari berbagai yang lepas satu sama lain itu harus dirangkai dan dihubung-hubungkan sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan logis (1978 : 23). Kesemuanya itu untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam memahami kenyataan-kenyataan sejarah

Oleh karena itu peneliti merangkai secara kronologis dan factual yang sistematis (serta bersifat kausalitas sehingga menjadi data dan sumber suatu kisah sejarah yang benar )

  1. 4. Historiografi

Kegiatan terakir ini adalah merekonstruksi secara imajinatif dari masa lampau berdasarkan data yang diperoleh ( Louis Gottschalk, 1983 : 32).

Fakta sejarah yang terkumpul kemudian disusun secara sistematis menjadi ceritera sejarah yang logis.Dipertegas oleh Nugroho Notosusanto historiografi yaitu penulisan sejarah yang bertujuan untuk merangkai fakta-fakta menjadi kisah sejarah ( 1978 : 12 ).

Apabila sejarawan sudah bisa membangun ide-ide tentang hubungan fakta satu dengan fakta lainnya (melalui kegiatan Interpretasi sejarah) maka kegiatan sejarawan sampai pada langkah akhir dari p5rosedur kerjanya, yaitu penulisan ceritera sejarah, tentu saja sebagai ceritera, sejarah bukanlah ceritera yang disusun secara sembarangan , ada cara-0cara tertentu yang perlu diperhatikan oleh sejarawan dalam menyususn ceritera  sejarah memerlukan kemampuan –kemampuan khusus untuk menjaga standart mutu ceritera sejarahnya, seperti missal prinsip serialisasi (Cara membuat urut-urutan peristiwa) yang mana memerlukan prinsip-prinsip lanjutan seperti kronomogi (urut-urutan waktu) , prinsip kausasi (hubungan sebab akibat) dan sebagaianya, dalam menyusun ini juga diperlukan kemampuan kusus lain seperti : yaitu kemampuan Imajinasi, tidak lain kemampuan membuat analogi antara peristiwa dimasa lampau dengan tindakan diwaktu sekarang.

Kelihatanya dalam salah satu seginya sejarawan juga dituntut kemampuanya untuk mengarang atau membuat susunan ceritera yang menarik, dengan kata lain akan lebih baik apabila seseorang sejarawan adalah juga seorang pengarang yang baik, yang mampu menyajikan fakta-fakta yang kering dalam bentuk ceritera yang menggugah pembacanya (Notosusanto 1964 : 60)

Pertama-tama yang perlu disadari bahwa dalam kegiatan heuristik ditingkat lokal di Indonesia, sulit mengharapkan tersedianya sumber-sumber sejarah lokal yang begitu bervariasi. Misalnya sulit diharapkan adanya dokumen-dokumen tentang peristiwa dimasa lampau yang tersimpan sebagai arsip –arsip yang siap digunakan dalam penulisan sejarah lokal , demikian juga adanya perpustakaan-perpustakaan yang kusus menyimpan koleksi berbagai macam dokumen yang ada kaitanya dengan masa lampau suatu daerah tertentu. Pokoknya apa yang digambarkan diatas tadi (tentang berbagai jejak sejarah yang bisa membantu sejarawan lokal) lebih mencerminkan situasi dinegara-negara barat dimana perhatian serta fasilitas terhadap studi sejarah lokal sudah sangat berkembang.

Tetapi juga harus kita akui didaerah-daerah tertentu yang memiliki sumber sumber sejarah lokal yang relatif lebih baik dari situasi pada umumnya di Indonesia. Secara kesuluruhan sering terjadi bahwa sumber-sumber lokal yang tersedia terutama berupa tradisi-tradisi suatu ceritera-ceritera setempat, baik yang sudah tertulis maupun bersifat lisan dengan turun temurun. Bahkan dalam beberapa kasus sering terjadi bahwa sumber yang ada hanyalah orang-orang , baik yang langsung mengalami peristiwanya atau dekat dengan peristiwanya sehingga bisa dianggab telah mendengar lebih banyak tentang suatu peristiwa itu. Dalam situasi seperti itu berarti kita berhadapan dengan apa yang bisa disebut sumber lisan.

Oleh karena sumber-sumber jenis itu ditulis atau diceriterakan memang bukan semata-mata sebagai sumber dalam aertian modern (bukan untuk sumber sejarah kritis), maka tidak mengherankan didalamnya sering tampak mencapuradukan atara kenyataan dengan dongeng atau mitologi dari masyarakat dimana sumber itu muncul. Hal ini memang bisa dimengerti atas dasar alam pikiran yang melatarbelakangi penuturan kisah peristiwanya. Yang penting pada pihak sejarawan sendiri diperlukan sikap kritis yang tinggi, sehingga mampu memisah-misahkan mana unsur faktanya dan mana unsur dongengnya. Sehingga gambaran sejarah yang dihasilkanya bisa dipertanggungjawabkan.

Untuk meningkatkan daya kritis dari gambaran sejarah lokal Taufik Abdullah menekankan perlunya dikembangkan prosedur kerja yang kusus yaitu : terutama berupa Pembuatan  “ Structural Model” melalui semacam model, percobaan ini maka gambaran sejarah yang telah disusun ,diverifikasi beberpa kali melalui fakta-fakta baru . dengan cara kerja demikian, maka diharapkan bisa disusun gambatran sejarah yang mencerminkan apa-apa yang benar-benar terjadi diwaktu yang lampau (Abdullah 1985 : 19 – 20).

 

 

 

BAB VII

RANCANGAN PENELITIAN SEJARAH LOKAL

I. PENDAHULUAN

Metode penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dengan kata lain, metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah sebagai kisah (history as written). Dalam ruang lingkup Ilmu

Sejarah, metode penelitian itu disebut metode sejarah. Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian, pada prinsipnya bertujuan untuk menjawab enam pertanyaan (5 W dan 1 H) yang merupakan elemen dasar penulisan sejarah, yaitu what (apa), when (kapan), where (dimana), who (siapa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Pertanyaanpertanyaan itu konkretnya adalah: Apa (peristiwa apa) yang terjadi? Kapan terjadinya? Di mana terjadinya? Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu? Mengapa peristiwa itu terjadi? Bagaimana proses terjadinya peristiwa itu? Dalam proses penulisan sejarah sebagai kisah, pertanyaan-pertanyaan dasar itu dikembangkan sesuai dengan permasalahan yang perlu diungkap dan dibahas. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus menjadi sasaran penelitian sejarah, karena penulisan sejarah dituntut untuk menghasilkan eksplanasi (kejelasan) mengenai signifikansi (arti penting) dan makna peristiwa.

 

II. PROSES PENELITIAN SEJARAH

2.1 Pemilihan Topik Penelitian

Suatu penelitian ilmiah tentu berawal dari pemilihan topik yang akan diteliti. Dalam bidang sejarah, topik penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan.

  1. Topik itu harus menarik (interesting topic), dalam arti menarik sebagai obyek penelitian. Dalam hal ini termasuk adanya keunikan (uniqueness topic).
  2. Substansi masalah dalam topik harus memiliki arti penting (significant topic), baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi kegunaan tertentu.
  3. Masalah yang tercakup dalam topik memungkinkan untuk diteliti (manageable topic). Persyaratan ini berkaitan dengan sumber, yaitu sumber-sumbernya dapat diperoleh. Meskipun topik sangat menarik dan memiliki arti penting, namun bila sumber-sumbernya, khususnya sumber utama tidak diperoleh, masalah dalam topik tidak akan dapat diteliti. Oleh karena itu calon peneliti harus memiliki wawasan luas mengenai sumber, khususnya sumber tertulis.

 

2.2 Studi Pendahuluan

Setelah topik penelitian ditentukan, segera lakukan studi pendahuluan. Cari sumber-sumber acuan utama, yaitu sumber-sumber yang diduga memuat data atau informasi yang relevan dengan topik penelitian. Dengan menelaah sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat memahami ruang lingkung penelitian, baik ruang lingkup masalah maupun ruang lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) obyek penelitian.

Ruang lingkup penelitian itu kemudian dituangkan dalam rencana kerangka tulisan (laporan penelitian). Sementara itu, telaah pula bibliografi/daftar pustaka pada setiap sumber acuan utama yang berupa buku ilmiah. Hal itu dimaksudkan untuk mendapat tambahan informasi sumbersumber yang diduga memuat data tentang masalah yang akan diteliti. Catat identitas sumber-sumber itu menjadi bibliografi kerja.

2.3 Metode Pengumpulan Data

Dari metode yang penulis gunakan tersebut diatas yang dimaksud adalah :

Metode Dokumenter

mempunyai pengertian dokumen merupakan sumbertertulis yang dapat digunakan untuk mengungkap peristiwa masa lampau. Bahan dokumen tidaklah tersedia secara kusus bagi penelitian sejarah saja secara laluasa dapat digunakan dalam penelitian Ilmu kemasyarakatan yang lain, seperti sosiologi dan antropologi ( Sartono Kartodirdjo, 1982 : 92 ).

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa metode dokumenter sebagaai bahan utama dari penelitian sejarah (1982 : 92 ).

Bahan-bahan dokumenter perlu dianalisa secara kritis histories apakah dokumen itu otentik (asli) atau tidak. Dengan kata lain Kritik Ekstern dan kritik Intern memegang peranan penting dalam Heuristik (Ilmu pengumpulan sumber–sumber histori ) (Sartono Kartodirdjo,1982: 98 ).

Kemudian Beliau melanjutkan dokumen memiliki 2 (dua) arti yaitu: (1) Dokumen dalam arti sempit yakni kumpulan data-data verbal yang berbentuk tulisan, (2). Dokumen dalam arti luas Meliputi artefact, Foto-foto, dan sebagainya. (Sartono Kartodirdjo,1982: 98 ).

Pendapat ahli lain tentang metode dokumenter telah dipergunakan oleh sejarawan dan ini mengandung banyak pengertian antara lain : (1). Dokumen berarti sumber tertulis bagi informasi sejarah sebagai kebalikan dari pada kesaksian lisan, artefact, peninggalan-peninggalan tertulis dan petilasan-petilasan, arkeologis; (2). Dokumen berarti hanya diperuntukan bagi surat-surat resmi dan surat-surat negara seperti surat perjanjian ; Undang-Undang; Hibah konsesi dan lain-lain. (3). Dokumen berarti setiap proses pembuktian setiap jenis sumber apapun baik yang bersifat tulisan, Lisan, Gambar, atau arkeologis. Demi kejelasan dari pengertian dokumen menurut banyak sejarawan menggunakan pengertian Nomor 3 ( Tiga ), sebab mengandung makna yang paling luas, dengan demikian istilah dokumen sinonim dengan istilah sumber, baik tulisan atau tidak, primer atau tidak. ( Louis Gottschalk, 1986 : 38 ) dari uraian diatas, dapat diambil pengertian bahawa metode dokumenter adalah metode pengumpulan data yang digunakan sebagai sumber sejarah yang perlu mendapat kritik ekstern dan kritik Intern dalam heuristik demi Validitas sumber tersebut menjadi akta sejarah.

 

Metode Observasi / Pengamatan

Menurut Bimo Walgito pengertian observasi adalah merupakan suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat Indera (terutama mata) terhadap kejadian–kejadian yang langsung ditangkap pada waktu terjadinya itu terjadi ( 1985 : 54 )

Oleh karena itu observasi dijalankan dengan menggunakan alat indera maka segala sesuatu yang dapat ditangkap dengan alat indera dapat diobservasi itu berarti menyangkut masalah yang komplek karena itu observer harus bersifat lebih sensitive dalam menangkap data yang diinginkan itu.

Adapun peneliti dalam observasi menggunakan metode bermacama-macam menurut Bimo Walgito macam-macam jenis observasi yang penulis gunakan adalah

  1. 1. Observasi yang berpartisipasi (Participant Observation) bentuk ini   Observer turut ambil bagian dalam perikehidupan atau situasi dari orang-orang yang diobservasinya.
  2. 2. Observasi Non Partisipan  (Non Participant Observation) merupakan kebalikan  dari teknik yang partisipan . pada taknik ini observer tidak ambil bagian secara langsung didalam situasi kehidupan yang diobservasi, tetapi dapat dikatakan sebagai penonton tidak sebagai pemain.
  3. 3. Kuasai Partisipasi yaitu apabila dalam observasi itu seolah-olah observer turut berpartisipasi, jadi sebenarnya hanya berpura-pura saja turut ambil bagaian didalam situasi kehidupan yang diobservasi, Dalam Observasi ini mamiliki klasifikasi dilihat dari peranan observer adalah :
    1. Observasi Sistematik: ini dilakukan dengan menggunakan rencana kerangkan terlebih dahulu.
    2. Observasi Non Sistematik: ini observasi yang belum disistematikakan mengenai hal-hal yang akan di observasi, tetapi bukan berarti bahwa observasi ini tidak berencana, hanya materi atau hal-hal yang mana yang akan diobservasi belum disistematikakan seperti sistem observasi yang sistematis (1985 : 55)

 

Metode Interview / Wawancara

Metode Interview / Wawancara ini adalah suatu metode yang penulis anggap metode pengumpulan data yang praktis dan sesuai dengan tujuan yang dibutuhkan yaitu dilakukan dengan Tanya jawab dari sabyek yang dianggap bisa dipakai sebagai informent.

Menurut Winarno Surahmad Metode Interview/Wawancara: adalah menghendaki komunikasi langsung antara penyelidik dengan obyek (1971 : 56) Kemudian dipertegas oleh J. Supranto Metode Interview/Wawancara adalah Tanya jawab antara petugas dengan responden, biasanya petugas membawa daftar pertanyaan  (Questionaire) untuk di isi dengan keterangan –keterangan yang diperoleh dengan wawancara ( 2003 : 85 )

Kemudian dilanjutkan oleh Winarno Surahmad ; adapaun petugas pengumpuldata yang baik dalam melakukan wawancara harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Petugas harus mampu membina hubungan baik dengan responden
  2. Petugas harus menguasai persoalan-persoalan yang akan diteliti
  3. Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyarankan atau memaksakan suatu  jawaban  (Suggestive Quiestion)
  4. Petugas harus berdisiplin kuat
  5. Petugas harus bersungguh-sungguh menjalankan tugasnya
  6. Petugas tidak boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan obyek penelitian. ( 2003 : 85-87 ).

2.4 Metode Analisa Data.

Dalam tahapan yang terakir dalam metode pengumpulan data penulis dengan menggunakan metode yang disebut Metode Analisa Data. Metode ini dimaksud penulis lakukan analisa sejarah (Analisis Historik) didalam aktivitas analisis ini dilakuakan dengan kegiatan : meneliti , berupaya merangkai – rangkai, menghubung-hubungkan, membanding-bandingkan Mensintensiskan, berbagai fakata yang didapat sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis, sistematis, dan rasional dan sitesis sejarah dikenal dengan analisis sejarah (Kuntowijoyo, 1995 )

2.5  Pendekatan penelitian sejarah

 

Pendekatan sejarah menjelaskan dari segi mana kajian sejarah hendak dilakukan, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang diungkapkannya, dan lain sebagainya. Deskripsi dan rekonstruksi yang diperoleh akan banyak ditentukan oleh jenis pendekatan yang dipergunakan. Oleh sebab itu ilmu sejarah tidak segan-segan melintasi serta menggunakan berbagai bidang disiplin atau ilmu untuk menunjang studi dan penelitiannya, yang di dalam ilmu sejarah sudah sejak awal telah dikenalnya dan disebut sebagai Ilmu-ilmu Bantu Sejarah (sciences auxiliary to history).


1. Pendekatan Manusia

Penelitian sejarah selalu berarti penelitian tentang sejarah manusia. Fungsi dan tugas penelitian sejarah ialah untuk merekonstruksi sejarah masa lampau manusia (the human past) sebagaimana adanya (as it was).Harus disadari sepenuhnya bahwa betapapun cermatnya suatu penelitian sejarah, dengan tugas rekonstruksi semacam itu seorang sejarawan akan masih tetap menghadapi sejumlah problem yang tidak mudah. Dengan memberikan aksentuasi ”sejarah manusia” untuk mengingatkan bahwa penelitian dan rekonstruksi sejarah hendaknya lebih berperspektif pada konsep manusia seutuhnya. Manusia adalah makhluk rohani dan jasmani. Rohani dengan manifestasinya dalam bentuk akal, rasa, dan kehendak, yang menjadi sumber eksistensi kemanusiaannya, namun eksistensi hanya nyata dalam realitas di dalam alam jasmani. Perkembangan rohani manusia menjadi nampak dalam wadah agama, kebudayaan, peradaban, ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Manusia juga beraspek individu sekaligus sosial, unik (partikular) sekaligus umum (general). Keduanya sekaligus merupakan keutuhan (integritas), kesatuan (entitas), dan keseluruhan (to Manusia adalah makhluk rohani dan jasmani. Rohani dengan manifestasinya dalam bentuk akal, rasa, dan kehendak, yang menjadi sumber eksistensi kemanusiaannya, namun eksistensi hanya nyata dalam realitas di dalam alam jasmani. Perkembangan rohani manusia menjadi nampak dalam wadah agama, kebudayaan, peradaban, ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Manusia juga beraspek individu talitas). Rekonstruksi sejarah pun hendaknya utuh dan menyeluruh.

2. Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial

Melalui pendekatan ilmu-ilmu sosial dimungkinkan ilmu sejarah memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai makna-makna peristiwa sejarah. Thomas C. Cochran, misalnya, telah menerapkan konsep peranan sosial (social role) dalam melaksanakan eksplorasi dan eksplanasi mengenai berbagai sikap, motivasi serta peranan tokoh masyarakat Amerika pada Abad XIX. Konsep mobilitas sosial (social mobility) telah membuktikan sangat berguna dalam studi berbagai segi masyarakat masa lampau.

a. Pendekatan Sosiologi

Pendekatan sosiologi dalam ilmu sejarah, menurut Max Weber, dimaksudkan sebagai upaya pemahanan interpretatif dalam kerangka memberikan penjelasan (eksplanasi) kausal terhadap perilaku-perilaku sosial dalam sejarah. Sejauh ini perilaku-perilaku sosial tersebut lebih dilekatkan pada makna subjektif dari seorang individu (pemimpin atau tokoh), dan bukannya perilaku massa.
Pendekatan sosiologi dalam ilmu sejarah menghasilkan sejarah sosial. Bidang garapannya pun sangat luas dan beraneka ragam. Kebanyakan sejarah sosial berkaitan erat dengan sejarah sosial-ekonomi. Tulisan Marc Bloch mengenai French Rural History, Sartono Kartodirdjo tentang Peasants’ Revolt of Banten. Kelas sosial, terutama kaum buruh, menjadi bidang garapan juga bagi sejarah sosial di Inggris. Demikian pula proses transformasi sosial dengan berkembangnya pembagian kerja sosial yang kian rumit dan diferensiasi sosial yang menjadi sangat bervariasi dan terbentuknya aneka ragam institusi sosial juga tidak pernah luput dari pengamatan sejarwan sosial. Tema-tema seperti : kemiskinan, perbanditan, kekerasan dan, kriminalitas dapat menjadi bahan tulisan sejarah sosial. Di pihak lain seperti kesalehan, kekesatriaan, pertumbuhan penduduk, migrasi, urbanisasi, transportsasi, kesejahteraan, dan lain-lain telah banyak dikaji dan semakin menarik minat para peneliti sejarah (Kuntowijoyo, 1993 : 42-43).

b. Pendekatan Antropologi

Pendekatan antropologi mengungkapkan nilai-nilai, status dan gaya hidup, sistem kepercayaan dan pola hidup, yang mendasari perilaku tokoh sejarah (Sartono Kartodirdjo, 1992 : 4).

Antropologi dan sejarah pada hakikatnya memiliki objek kajian yang sama, ialah manusia dan pelbagai dimensi kehidupannya. Hanya bedanya sejarah lebih membatasi diri kajiannya pada peristiwa-peristiwa masa lampau, sedang antropologi lebih tertuju pada unsur-unsur kebudayaannya. Kedua disiplin ilmu itu dapat dikatakan hampir tumpang tindih, sehingga seorang antropolog terkemuka, Evans-Pritchard, menyatakan bahwa ”Antropologi adalah Sejarah”. Hal yang sama dikemukakan pula oleh Arnold J. Toynbee (1889-1975) yang menyatakan bahwa tugas seorang sejarawan tidak jauh berbeda dari seorang antropolog, ialah melalui studi komparasi berusaha mempelajari siklus kehidupan masyarakat, kemudian dari masing-masing kebudayaan dan peradaban mereka ditarik sifat-sifatnya yang universal (umum).

Fakta yang dikaji dari kedua disiplin ilmu, antropologi dan sejarah, adalah sama pula. Terdapat tiga jenis fakta, ialah : artifact, socifact, dan mentifact. Fakta menunjuk kepada kejadian atau peristiwa sejarah. Sebagai suatu konstruk, fakta sejarah pada dasarnya sebagai hasil strukturisasi seseorang terhadap suatu peristiwa sejarah. Maka artifact sebagai benda fisik adalah konkret dan merupakan hasil buatan. Sebagai proses artifact menunjuk hasil proses pembuatan yang telah terjadi di masa lampau. Analog dengan hal itu maka socifact menunjuk kepada peristiwa sosial yang telah mengkristalisasi dalam pranata, lembaga, organisasi dan lain sebagainya. Sedang mentifact menunjuk kepada produk ide dan pikiran manusia. Ketiganya, artifact, socifact, dan mentifact, adalah produk masa lampau atau sejarah, dan hanya dapat dipahami oleh keduanya, antropologi dan sejarah, dengan melacak proses perkembangannya melalui sejarah. Studi ini jelas menunjukkan titik temu dan titik konvergensi pendekatan antropologi dan pendekatan sejarah .

Secara metodologis pendekatan antropologi memperluas jangkauan kajian sejarah yang mencakup (Sartono Kartodirdjo, 1992 : 156) :

1). kehidupan masyarakat secara komprehensif dengan mencakup pelbagai dimensi kehidupan sebagai totalitas sejarah;

2) . aspek-aspek kehidupan (ekonomi, sosial, politik) dengan mencakup nilai-nilai yang menjadi landasan aspek-aspek kehidupan tersebut;

3) . golongan-golongan sosial beserta subkulturnya yang merupakan satu identitas kelompoknya;

4) . sejarah kesenian dalam pelbagai aspek dan dimensinya, serta melacak ikatan kebudayaan sosialnya;

5) . sejarah unsur-unsur kebudayaan : sastra, senitari, senirupa, arsitektur, dan lain sebagainya;

6). pelbagai gaya hidup, antara lain : jenis makanan, mode pakaian, permainan, hiburan, etos kerja, dan lain sebagainya.

Pendek kata segala bidang kegiatan manusia dapat dicakup dalam sejarah kebudayaan. Dalam sejarah kebudayaan dimensi politik tidak termasuk di dalamnya, meskipun menurut definisi yang luas kehidupan politik pun termasuk dalam kebudayaan.

c. Pendekatan Ilmu Politik

Pengertian politik dapat bermacam-macam sesuai dari sudut mana memandangnya. Namun pada umumnya definisi politik menyangkut kegiatan yang berhubungan dengan negara dan pemerintahan. Fokus perhatian ilmu politik, karenanya, lebih tertuju pada gejala-gejala masyarakat seperti pengaruh dan kekuasaan, kepentingan dan partai politik, keputusan dan kebijakan, konflik dan konsesnsus, rekrutmen dan perilaku kepemimpinan, masa dan pemilih, budaya politik, sosialisasi politik, masa dan pemilih, dan lain sebagainya. Apabila politik diartikan sebagai polity (kebijakan), maka definisi politik lebih dikaitkan dengan pola distribusi kekuasaan. Jelas pula bahwa pola pembagian kekuasaan akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sosial, ekonomi, dan kultural. Posisi sosial, status ekonomi, dan otoritas kepemimpinan sesorang dapat memberi peluang untuk memperoleh kekuasaan.

Otoritas kepemimpinan senantiasa menjadi faktor kunci dalam proses politik. Max Weber membedakan tiga jenis otoritas :

(1) Otoritas karismatik, yakni berdasarkan pengaruh dan kewibawaan pribadi;

(2) Otoritas tradisional, yakni berdasarkan pewarisan; dan

(3) Otoritas legal-rasional, yakni berdasarkan jabatan serta kemampuannya.

Semula politik menjadi tulang punggung sejarah. Politics is the backbone of history. Pernyataan ini menunjukkan peranan politik dalam penulisan sejarah pada masa lampau. . Pada saat sekarang sejarah politik nampak masih menonjol, namun tidak sedominan seperti dahulu. Maka ungkapannya pun bergeser menjadi ”History is past politics, politics is present history.” Sejarah adalah politik masa lalu, politik adalah sejarah masa kini.

Pendekatan politik dalam penulisan sejarah menghasilkan sejarah politik. Sejarah politik dapat menggunakan berbagai pendekatan sesuai dengan topik yang dipilih. Setidaknya terdapat 8 (delapan) macam pendekatan, meskipun antara pendekatan yang satu dengan lainnya sering saling tumpang-tidih (Kuntowijoyo, 1993 : 177-182) . Ialah :

1). Sejarah intelektual .

Aspirasi pokok sejarah intelektual ialah adanya Zeitgeist (jiwa zaman) dan pandangan sejarah idealistik yang berpendapat bahwa pikiran-pikiran mempengaruhi perilaku. Contoh tulisan Herbert Feith dan Lance Castle yang berjudul : Pemikiran Politik Indonesia, 1945-1965. (Jakarta : LP3ES, 1988).

2). Sejarah konstitusional.

Dari konstitusi suatu bangsa dapat diketahui filsafat hidup, dasar pemikiran waktu membangun bangsa, dan struktur pemerintahan yang dibangun. Dalam konstitusi juga terlihat kepentingan, konsensus, dan konsesi yang diberikan kepada masing-masing kepentingan. Contohnya ialah buku Herbert Feith. (1962). The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia (Ithaca : Cornell University Press).

3). Sejarah institusional.

Isinya mengenai sistem politik dengan perangkat (lembaga, struktur, institusi), baik negara (kabinet, birokrasi, parlemen, militer) dan non Negara (ormas, orsospol, LSM). Paling banyak ditulis orang mengenai partai. Contoh : Ahmad Syafii Maarif. (1988). Islam dan Politik Indonesia pada Demokrasi Terpimpin. (Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga Press).

4). Sejarah behavioral.

Ialah mengenai perilaku (behavior) negara dan partai-partai politik dalam sosialisasi gagasan, rekrutmen pemimpin/anggota, dan pelaksanaan tindakan politik termasuk dalam sejarah perilaku. Contoh : tulisan Clifford Geertz. (1960). The Religion of Java. (Glencoe : The Free Press).

5). Sejarah komparatif.

Isinya mengenai kajian komparatif tentang kehidupan politik di Indonesia. Contoh : tulisan R. William Liddle. (1972). Culture and Politics in Indonesia.(Ithaca : N.Y. Cornell University Press).

6). Sejarah sosial :

Berisi sejarah kelompok-kelompok sosial (ulama, santri, pengusaha, petani, mahamahasiswa, dan pemuda) dengan aspirasi politiknya sesuiai dengan kepentingannya. Misalnya : Heru Cahyono. (1992). Peranan Ulama dalam Golkar. (Jakarta : Sinar Harapan).

7). Studi Kasus.

Ialah mengenai studi kasus-kasus politik. Contoh : Laboratorium Ilmu Politik FISIP UI. (1997). Evaluasi Pemilu Orde Baru. (Bandung :Mizan).

8). Biografis.

Tentang biografi politik. Contoh : J.D. Legge. (1972). Sukarno : A Political Biography. (London :The Pinguin Press.

  1. 4. Pendekatan Psikologi dan Psikoanalisis

Dengan menggunakan pendekatan psikologi dan psikoanalis studi sejarah tidak saja sekedar mampu mengungkap gejala-gejala di permukaan saja, namun lebih jauh mampu menembus memasuki ke dalam kehidupan kejiwaan, sehingga dapat dengan lebih baik untuk memahami perilaku manusia dan masyarakatnya di masa lampau.

Terobosan pertama yang paling terkenal dalam menerapkan psikologi dalam (depth psychology) pada studi ilmu sejarah dilakukan oleh Erik H. Erikson. Ternyata konsep-konsep mengenai krisis identitas di masa remaja dapat digunakan untuk mengeksplanasi perilaku tokoh-tokoh sejarah terkemuka. Mengenai mengapa Martin Luther tampil sebagai reformator, Mahatma Gandhi menjadi seorang pemimpin gerakan anti kekerasan (non violence) di India, dan Adolf Hitler tanmpil sebagai seorang yang anti Semitis, serta Sukarno sebagai orang anti kolonialisme dan imperialisme, dapat dilacak kembali melalui analisis kehidupan tokoh-tokoh tersebut di masa remaja mereka. Dengan demikian pendekatan psycho history yang dirintis oleh Erik H Erikson telah membuka suatu dimensi baru dalam studi sejarah.

Pendekatan psycho history juga dapat dikembangkan menjadi konsep psikologi sosial (sociopsychological) untuk menjelaskan perilaku sekelompok anggota masyarakat. Tentu saja permasalahannya menjadi semakin kompleks. Richard Hostadter, misalnya, dalam karya tulisannya The Age of Reform (1955) berupaya menjelaskan bangkitnya gerakan-gerakan sosial pada Abad XIX dan XX di Amerika. Menurunnya status dan prestise masyarakat kelas menengah di Amerika pada peralihan menuju Abad XX mendorong tampilnya pemimpin-pemimpin gerakan progresif. Mereka bergerak dan melakukan perlawanan terhadap orang-orang industrialis kaya baru dan boss-boss mereka yang cenderung korup (Allan J.Lichtman, 1978 : 138).

 

  1. 5. Pendekatan Kuantitatif

Pendekatan kuantitatif adalah upaya untuk mendeskripsikan gejala-gejala alam dan sosial dengan menggunakan angka-angka. Quantum, quantitas dalam bahasa Latin berarti jumlah. Oleh sebab menggunakan angka-angka, maka pendekatan kuantitatif mempersyaratkan adanya pengukuran (measurement) terhadap tingkatan ciri-ciri tertentu dari suatu gejala yang diamati. Pengamatan kuantitatif berupaya menemukan cirri-ciri tersebut, untuk kemudian diukur berdasarkan kriteria-kriteria pengukuran yang telah ditentukan. Hasil pengukuran itu berupa angka-angka yang menggambarkan kuantitas atau derajat kualitas dari kenyataan dan eksistensi gejala alam yang diukurnya. Data-data angka hasil pengukuran dari gejala-gejala alam yang diamati itulah yang kemudian dianalisis, dicari derajat kuantitas, atau kualitasnya, dipelajari hubungannya antara gejala yang satu dengan lainnya, dikaji pengaruhnya terhadap suatu gejala, hubungan seba-akibatnya, pendek kata dianalisis sesuai dengan tujuan penelti.
Pendekatan kuantitatif dalam penelitian dan penulisan sejarah menghasilkan apa yang disebut sejarah kuantitatif (quantitative history). Sejarah kuantitatif pertama-tama dikenal di Perancis sekitar tahun 1930-an, yang mulai berkembang pada tahun 1949 dan 1950-an. Studi Crane Brinton (1930) mengenai keanggotaan partai Yakobin dalam revolusi Prancis, analisis Donald Greer (1935) tentang korban-korban masa Pemerintahan Teror pada dasarnya merupakan usaha-usaha kuantifikasi penulisan sejarah sosial (Harry Ritter, 1986 : 351-0352).

Menjelang tahun 1960-an sejarah kuantitatif mulai merembes ke Amerika Serikat dengan pertama-tama mengambil bentuk sejarah ekonometrik (econometric history) yang dirintis oleh sejarawan Lee Benson (1957, 1961) yang penulisannya diilhami dan didasari pada penerapan orientasi statistic dari-dari teori behaviorisme dsalam ilmu-ilmu sosial-politik. Beberapa penelitian mulai memperluas penggunaan analisis statistic, tidak saja dalam sejarah-sejarah ekonomu, politik dan sosial, melainkan juga dalam sejarash-sejarah cultural dan intelektual dengan menggunakan metode seperti halnya content analysis. Sejak saat itu karya-karya sejarah mulai dihiasi dengan gambar-gambar grafik, chart, table, persentase, bahkan kadang-kadang memasukkan komputasi statistic Kai-Kuadrat dan regresi.

Metode sejarah hingga sekarang lebih cenderung menggunakan pendekatan kualitatif. Harus diakui pendekatan kualitatif mengandung banyak kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu adalah bersumber pada tiadanya kriteria yang jelas dalam penyusunan instrumentasi yang digunakan untuk mengukur kebenaran data dan fakta, serta tiadanya kaidah-kaidah umum, apalagi khusus, dalam metode dan teknik menganalisis hubungan antar berbagai peristiwa sejarah, hingga dengan demikian dalam menganlisis hubungannya, lebih banyak ditentukan oleh intuisi dan imaginasi peneliti yang kadar kebenarannya tidak dapat diuji secarsa empirik. Generalisasi sejarah tak pernah mendasarkan diri pada infeerensi dari hubungan antara besarnya sampel dengan jumlah populasi.

Penggunaan pendekatan kuantitatif dalam metode sejarah dapat memperkecil kelemahan-kelemahan tersebut di satu pihak, dan dapat memperbesar bobot ilmiahnya dalam analisis peristiwa-peristiwa sejsarah di lain pihak. Penalaran berdasarkan tata-fikir dan prosedur statistik setidak-tidaknya dapat mengendalikan (mengontrol) analisis dan interpretasi berdasarkan pada pendapat-pendapat pribadi. Lebih jauh tata-fikir dan prosedur statistik dalam metode sejarah dapat membantu metodologi sejarah dalam mengefektifkan tugas-tugas ilmiahnya, ialah untuk memberikan penjelasan (eksplanasi), meramalkan (prediksi), dan mengendalikan (kontrol) terhadap gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa sejarah. Dalam melakukan generalisasi, dengan demikian, sejarawan harus menjadi lebih berhati-hati dan dalam menganalisis hubungan kausal yang kompleks dan rumit dari berbagai peristiwa kiranya tidak mungkin lagi dapat diselesaikan dengan baik tanpa bantuan pendekatan kuantitatif. Pendek kata penggunaan pendekatan kuantitatif dapat mempertajam wawasan metode sejarah.


BAB VIII

PENGAJARAN LOKAL:

EKSPLORASI SEJARAH LOKAL SEBUAH UPAYA PENANAMAN NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

 

8.1 Pendahuluan

Dewasa ini, mata pelajaran sejarah sering dianggap sebuah mata pelajaran yang kurang disukai oleh peserta didik. Indikasi kurang tertariknya peserta didik terhadap mapel ini dapat dilihat pada banyaknya peserta didik yang jenuh dan bosan ketika mengikuti kegiatan belajar sejarah di sekolah. Umumnya kebencian mereka terletak pada materi ajar sejarah yang terkait dengan hafalan angka-angka tanggal, tahun, nama peristiwa, nama tempat, artefak, dan tokoh yang bagi peserta didik sangat tidak menarik dan menjemukan.

Ada lagi yang menganggap bahwa letak kejemuan mereka lebih pada figur guru yang kurang profesional dalam mengajar sejarah. Banyak guru menyampaikan materi secara texbook, tanpa variasi, monoton, kurang humor, dan tetap menggunakan metode ceramah yang membosankan. Banyak guru yang belum mempergunakan fasilitas media mengajar. Mereka tidak mempergunakan peta, foto, replika candi, artefak, fosil, sampai tidak mengoptimalkan fungsi teknologi pembelajaran yang berbasis internet atau multi media. Di tambah lagi, guru sejarah sering memberikan soal dan pertanyaan yang sulit-sulit.

Di sisi lain ada kemungkinan ketidaktertarikan peserta didik pada mapel sejarah lebih pada tema-tema sejarah nasional yang kurang menyentuh rasa kedaerahan mereka, sehingga rasa keterlibatan dan emosionalnya tidak terbentuk secara alamiah. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengembalikan rasa keberminatan peserta didik terhadap pelajaran sejarah adalah menciptakan pola pembelajaran sejarah yang terkait dengan situasi lingkungannya. Kegiatan pembelajaran sejarah lokal perlu dijadikan medium untuk mengembangkan rasa kepedulian dan ketertarikan akan ranah kedaerahan mereka, untuk selanjutnya menggali lebih mendalam lagi tentang apa yang pernah ada dalam lintasan masa lalu di daerahnya.  Untuk itu, tulisan ini ingin mengangkat persoalan bagaimana sebenarnya kegiatan eksplorasi sejarah lokal tersebut dapat menjadi suatu sumber dan bahan ajar yang menarik di sekolah, dan tulisan juga ingin mengupas lebih jauh bagaimana pembelajaran sejarah lokal yang berbasis CTL tersebut dipergunakan untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan bangsa tanpa nuansa primordialisme dan etnosentrisme yang ditakutkan selama ini.

 

8.2 Sejarah Lokal

Sebelum lebih jauh membahas tentang pembelajaran sejarah berbasis CTL, terlebih dahulu akan dibahas secara singkat tentang pengertian sejarah lokal. Menurut Taufik Abdullah sejarah lokal adalah suatu peristiwa yang terjadi di tingkat lokal yang batasannya dibuat atas kesepakatan atau perjanjian oleh penulis sejarah. Batasan lokal ini menyangkut aspek geografis yang berupa tempat tinggal suku bangsa, suatu kota, atau desa (Abdullah, 1982). Ahli lain mengatakan bahwa sejarah lokal adalah bidang sejarah yang bersifat geografis yang mendasarkan kepada unit kecil seperti daerah, kampung, komunitas atau kelompok masyarakat tertentu (Abdullah, 1994: 52). suatu peristiwa yang terjadi di daerah yang merupakan imbas atau latar terjadinya peristiwa nasional.

Sebaliknya, Wasino (2009: 2) mengatakan bahwa sejarah lokal adalah sejarah yang posisinya kewilayahannya di bawah sejarah nasional. Sejarah baru muncul setelah adanya kesadaran adanya sejarah nasional. Namun demikian bukan berarti semua sejarah lokal harus memiliki keterkaitan dengan sejarah nasional. Sejarah lokal bisa mencakup peristiwa-peristiwa yang memiliki keterkaitan dengan sejarah nasional dan peristiwa-peristiwa khas lokal yang tidak berhubungan dengan peristiwa yang lebih luas seperti nasional, regional, atau internasional.

Dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa sejarah lokal adalah bidang kajian mengenai masa lalu dari suatu kelompok atau masyarakat yang mendiami unit wilayah yang terbatas.

 

8.3 Pembelajaran Sejarah

Membicarakan upaya penanaman nilai-nilai kepahlawanan melalui model eskplorasi atau penggalian sejarah lokal dengan pendekatan CTL akan lebih sistematis bila menyinggung terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan konsep pembelajaran sejarah. Pembelajaran sejarah adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk melangsungkan persiapan, pelaksanaan, dan pencapaian hasil belajar yang menyangkut bidang studi sejarah. Dalam konteks pembelajaran konvensional mapel sejarah seringkali diberikan pada anak didik dalam bentuk ceramah. Banyak orang akhirnya menganggap bahwa karakteristik sejarah memang materi yang penuh dengan hafalan saja.

Pandangan ini jelas keliru. Dalam KTSP sudah diberikan keleluasaan pada guru untuk memberikan materi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Guru dapat memberikan tambahan materi berdasarkan apa yang sesuai dengan konteks lingkungan sekolah masing-masing. Namun demikian apa yang diharapkan pemerintah melalui kurikulum terbaru tersebut belum mampu diterjemahkan dengan baik oleh para guru yang ada di lapangan.

Guru sejarah harusnya mampu menggiring anak untuk berpartisipasi secara penuh dalam setiap kegiatan belajar. Guru sejarah hendaknya menggunakan metode CTL (contextual teaching Learning) dalam mengarahkan hakikat sebuah peristiwa masa lalu. Anak didik dapat diajak untuk menemukan sesuatu secara mandiri dengan cara menyelidiki dan menggali sendiri informasi yang menyangkut peristiwa masa lalu tersebut (Wasino, 2007: 1-2).

Dalam CTL yang terkait konstruktivisme ini, guru tidak dengan sendirinya memindahkan pengetahuan kepada anak didik dalam bentuk yang serba sempurna. Anak didik harus membangun suatu pengetahuan berdasarkan pengalamannya masing-masing. Pembelajaran adalah hasil usaha peserta didik itu sendiri. Hal ini terkait dengan aktivitas mental anak didik sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan pengabstrakan. Pikiran anak didik tidak akan menghadapi kenyataan dalam bentuk yang terasing dalam lingkungannya sendiri. Realita yang dihadapi anak didik adalah realita yang mereka bina sendiri. Untuk itu, guru harus memperkirakan struktur kognitif yang ada pada mereka. Jika pengetahuan baru sudah mampu diserap dan dijadikan pegangan mereka, baru guru dapat memberikan informasi pengetahuan yang melimpah (Utomo, 2007: 4)

 

8.4 Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pendekatan CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong mahasiswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Dengan konteks ini diharapkan hasil pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik (Depdiknas, 2002: 1).

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme, inquiry, bertanya, masyarakat belajar, modeling, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL ini jika telah menerapkan tujuh pilar ini secara simultan dalam kegiatan pembelajaran (Trianto, 2007: 105-114).

Oleh karena itu, ada beberapa prinsip yang perlu dipahami dalam CTL. Pertama, membuat hubungan yang bermakna antara sekolah dan konteks kehidupan nyata. Kedua, melakukan pekerjaan yang signifikan. Ketiga, pembelajaran mandiri yang membangun minat individual mahasiswa untuk bekerja sendiri ataupun kelompok. Keempat, bekerjasama untuk membantu mahasiswa bekerja secara efektif dalam kelompok, serta membantu mereka untuk mengerti bagaimana berkomunikasi dengan yang lain (Wasino, 2007: 1-2).

 

8.5 Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Lokal

Pada dasarnya pembelajaran sejarah lokal agak berbeda dengan sejarah lokal itu sendiri. Sejarah lokal berarti proses kegiatan belajar di lingkungan pendidikan formal yang sasarannya adalah keberhasilan proses itu sendiri dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dalam kurikulum. Sebaliknya, pembelajaran sejarah lokal adalah kegiatan dalam rangka pencapaian pengetahuan tentang peristiwa sejarah yang dijadikan sasaran studi dengan mengutamakan proses belajar yang punya sasaran-sasaran khusus yang jelas (Suharso, 2009: 6-7). Bahkan menurut Doudi, pengajaran sejarah lokal mampu menerobos batas antara dunia sosiologis-psikologis ketika peserta didik secara langsung mengenal dan menghayati lingkungan masyarakatnya di mana mereka bagian dari komunitas lingkungannya (1967: 7-8).

Dalam pengajaran sejarah lokal peserta didik akan mendapatkan contoh-contoh dan pengalaman-pengalaman dari berbagai tingkat perkembangan lingkungan masyarakatnya. Pendeknya, mereka akan lebih mudah menangkap konsep waktu atau perkembangan yang menjadi kunci penghubungan masa lampau, masa kini, dan masa mendatang.

Jika melihat kurikulum KTSP, model pembelajaran sejarah lokal ini sangat terkait dengan semangat di dalamnya. Berdasarkan beberapa pilar CTL, maka jelas bahwa pembelajaran sejarah sangat relevan dengan teori-teori yang ada seperti teori J. Bruner tentang konsep pendekatan proses. Sesuai dengan sifat materi dan sumber sejarah lokal, maka peserta didik akan menjadi lebih peka terhadap lingkungan sosial dan budayanya. Peserta didik lebih pula terdorong mengembangkan ketrampilan khusus seperti mengobservasi, wawancara, mengumpulkan dan menyeleksi sumber, mengadakan klasifikasi dan mengidentifikasi konsep, serta melakukan generalisasi, yang mana semuanya ini mendorong bagi berkembangnya proses belajar yang bersifat inquiry (Suharso, 2009: 9 dan Widodo, 2009: 4-6).

Di samping kelebihan dan beberapa hal mendasar yang terkait dengan pembelajaran sejarah lokal, ada pula kelemahan-kelemahan yang terlihat ketika pengajar melaksanakan program pembelajaran sejarah lokal. Kelemahan-kelemahan itu adalah: pertama, sulitnya sumber dan bahan-bahan yang dapat dijadikan sebagai sasaran studi sejarah lokal. Setiap daerah mempunyai tingkat kesukaran yang berbeda mengingat kejadian-kejadian apa yang pernah terjadi di daerahnya juga tidak sama. Kabupaten Semarang jelas akan memberikan banyak informasi, bahan, dan sumber sejarah dibandingkan Kabupaten Kendal mengingat keterlibatan manusia di di wilayahnya yang lebih intensif pada peristiwa-peristiwa masa lampau. Kedua, keterlambatan peserta didik menyelesaikan tugas penulisan laporan karena dibatasi kurikulum dan silabus. Seringkali pengajar harus mengalami kerepotan karena peserta didik tidak mengumpulkan tugas tepat pada waktunya. Kurikulum yang memberikan alokasi waktu yang terbatas tidak bisa memberikan peluang bagi peserta didik untuk berlama-lama. Di sisi lain peserta didik ingin memberikan laporan penulisan yang ideal dan berkualitas. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran sejarah lokal menuntut pada pengajar untuk memiliki kedisiplinan dalam mengorganisasi kegiatannya seperti proses perencanaan, penentuan topik, persiapan, pelaksanaan kegiatan, dan penyusunan laporan hasil kegiatan. Hal ini berarti menuntut kemampuan dan kerja keras baik dari pengajar maupun peserta didik.

 

8.6 Bentuk dan Model Kegiatan Pembelajaran Sejarah Lokal

Sebagai kegiatan pembelajaran yang menarik, seorang pengajar dapat memilih model mana dari eksplorasi sejarah lokal yang dapat digunakan. Seperti diketahui bahwa pengembangan metode pengajaran sejarah lokal ini mempunyai beberapa alternatif pilihan.

Pertama, tipe penyajian informasi sejarah lokal dari pengajar kepada peserta didik tanpa mengharuskan peserta didik berada di lapangan. Model dan tipe ini masih konvensional seperti metode pembelajaran sejarah lainnya yang mungkin membuat peserta didik tetap merasa jenuh dan bosan.

Kedua, pengajar dapat membuat model penjelajahan lingkungan sekitar. Tipe ini dapat diterapkan pada peserta didik baik yang masih di sekolah dasar maupun sekolah menengah atas, walau dengan intensitas kedalaman materi dan riset yang berbeda.

Ketiga, pengajar dapat menerapkan model lawatan sejarah sebagai upaya mengeksplorasi kekayaan sejarah lokal dan budaya yang dimilikinya. Menurut Susanto Zuhdi lawatan sejarah adalah suatu program penjelajahan masa lalu melalui kunjungan ke tempat-tempat bersejarah. Tempat bersejarah tersebut dapat berupa makam tokoh, tempat pengasingan, komunitas masyarakat, dan juga pusat-pusat kegiatan ekonomi (Lestariningsih, 2007: 3). Selain itu, pengajar dapat memanfaatkan museum daerah terdekat sebagai sasaran lawatan sejarah. Di dalam museum jelas sekali terdapat berbagai artefak peninggalan masa Hindu-Buddha dan beberapa diorama penyajian peristiwa bersejarah masa prasejarah maupun Indonesia modern (Hartatik, 2007: 9).

Keempat, pengajar dapat memilih model wisata sejarah sebagai sarana mengunjungi situs bersejarah. Model ini mirip sekali dengan lawatan sejarah. Pada model wisata sejarah, peserta didik menikmati obyek sejarah layaknya mereka sebagai turis dan berkesan rekreatif. Nuansa penikmatan terhadap panorama keindahan alam lebih ditonjolkan daripada unsur studinya (Nurjanto, 2007: 5).

Kelima, pengajar dapat memilih model studi sejarah murni. Artinya, seorang pengajar memberi beban penugasan penelitian sejarah murni kepada peserta didik dengan pembatasan-pembatasan yang sudah diprogramkan sebaik-baiknya. Namun sebelumnya agar tidak terjadi kebingungan peserta didik dan pemborosan waktu, sebaiknya pengajar memberikan dahulu tentang materi riset dan dasar-dasar penelitian sejarah (Widodo, 2009: 4-8).

Keenam, pengajar memilih model kemah budaya untuk mengeksplorasi tema-tema sejarah lokal. Kemah budaya adalah sebuah kegiatan bersama-sama yang dilaksanakan di sebuah tempat bersejarah dengan cara peserta didik diajak untuk hidup dan tinggal bersama masyarakat setempat (Muslichin, 2007: 8).

Model kemah budaya ini menjawab paradigma bahwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan masa lalu saja. Kemah budaya justru mampu mengingatkan apa yang dapat kita hindarkan dan mana yang dapat kita pupuk terus sebagai sumber motivasi membangun kebersamaan. Dalam konteks sejarah, kebersamaan justru prioritas dibangun melalui komitmen dan tindakan nyata, seperti halnya dahulu ketika bangsa kita mengusir penjajah (Nurjanto, 2007: 5 & Lestariningsih, 2007: 3).

Kemah budaya merupakan alternatif pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Kemah budaya adalah upaya menjadikan sejarah sebagai kata kerja. Sejarah sebagai praktik tentu akan lebih menyenangkan bagi mahasiswa untuk belajar apalagi diimbangi dengan berwisata. Guru dapat mengajak anak didik mengunjungi situs dan monumen sejarah (Zuhdi, 2007: 4).

 

8.7 Penanaman Nilai-Nilai Kepahlawanan dalam Pembelajaran Sejarah Lokal

Pengajaran sejarah mempunyai beberapa fungsi yang sangat berperan dalam proses transformasi pengetahuan kemasyarakatan yang pernah ada di masa lampau. Di samping itu, pengajaran sejarah memiliki fungsi yang terkait dengan peristiwa masa kekinian. Pengajaran sejarah memberikan muatan-muatan pendidikan budi pekerti (edukatif), menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme, dan memberikan kesadaran reflektif bagi anak bangsa akan masa lalunya.

 

Dengan sendirinya, pembelajaran sejarah lokal berarti menyadarkan pada peserta didik bahwa mereka mempunyai masa lalu sendiri. Mereka memiliki suatu kebanggaan bahwa jauh sebelum mereka dilahirkan ada beberapa tokoh yang berperan dalam membentuk keadaan yang terkait dengan masa sekarang. Kesadaran kontunuitas dan lokalitas ini dapat menjadi bekal pada peserta didik untuk menunjukkan identitas historis, sosial, dan budayanya. Semakin jauh peserta didik terlibat dalam eksplorasi sejarah lokal berarti semakin tinggi pula jati diri dan kebanggan akan masa lalu kelompok, daerah, dan kebudayaannya.

Kesadaran terhadap masa lalu daerahnya ini jangan sampai merusak kultur dan budaya yang sudah positif di masyarakat. Artinya jangan sampai peserta didik mempunyai kebanggaan berlebihan sehingga aspek primordial kesukuan dan kedaerahannya lebih ditonjolkan. Hal ini justru akan merusak semangat persatuan dan kebersamaan yang saat ini sudah tercapai dengan baik.

Semakin muncul kesadaran terhadap identitas pelaku sejarah dan peristiwa sejarah harusnya peserta didik tidak terjebak pada spirit primordial yang negatif. Justru dengan menyelami semangat juang sang tokoh, maka peserta didik dapat memahami bagaimana rasa merdeka pelaku sejarah dalam mempertahankan wilayah atau negerinya melawan unsur-unsur kebudayaan dan pemerintahan asing yang menindas.

Dengan sejarah lokal yang diajarkan dalam kelas maupun luar kelas, berarti peserta didik mengenal secara langsung bagaimana pribadi dan biografi hidup sang pelaku sejarah. Mereka dapat menanyakan sisi kehidupan sang pelaku sejarah. Dengan tehnik tanya jawab yang baik peserta didik dapat mengenali dan mentauladani jiwa-jiwa kepemimpinan sang pelaku sejarah secara arif dan bijak. Bagaimana mereka mengorbankan apa saja demi tegaknya sebuah kemerdekaan inilah yang perlu diapresiasi oleh peserta didik dalam pembelajaran sejarah lokal.

Pembelajaran sejarah lokal memberikan peluang lebih aktif bagi peserta didik untuk menggali informasi secara mandiri terhadap sasaran yang sudah direncanakan. Melalui informasi juru kunci, pamong budaya, dan petugas kebudayaan peserta didik menjadi lebih mengenali karakter sosial dari pelaku sejarah. Bagaimana pelaku sejarah memperjuangkan nilai-nilai ideologi yang mulia dan sesuai dengan konteks kebersamaan dalam hidup masa itu akan memberi inspirasi bagi peserta didik untuk mengamalkan hal yang sama pada kehidupan masa sekarang.

Pembelajaran sejarah lokal juga memberikan banyak informasi tentang kebudayaan apa yang berkembang di wilayahnya pada masa lalu. Melalui relief, patung, dan artefak peninggalan Hindu-Buddha yang tersisa peserta didik dapat melihat bagaimana posisi geografis dan peran sosial ekonomi-politik daerahnya pada waktu itu. Apakah wilayahnya mempunyai peran sosial yang cukup penting ataukah daerahnya menjadi kawasan peripherial saja dari struktur kekuasaan Hindu-Buddha yang berporos Kedu-Bagelen. Kesadaran historis ini dapat menghasilkan semangat untuk melakukan perubahan dalam perspektif yang positif pada masa sekarang. Ketika peserta didik melihat bahwa wilayahnya (lingkungannya) tidak mempunyai peran yang signifikan bagi pemerintahan pusat saat itu, mereka terinspirasi untuk melakukan perubahan. Dari beberapa peserta didik muncul daya upaya untuk merubah keadaan dengan menawarkan kekayaan-sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya sehingga eksistensi masyarakat dan daerahnya dapat diakui daerah-daerah lain. Berarti pula muncul kepercayaan diri peserta didik ketika mereka merefleksikan diri dari apa yang terdapat pada kekayaan historisnya.

Dengan pembelajaran sejarah lokal berarti peserta didik dapat mengambil hikmah gaya kepemimpinan pelaku sejarah yang dapat diterapkan oleh peserta didik pada saat mereka menempati posisi dan profesi pekerjaan masing-masing. Semangat pelaku sejarah yang mengutamakan musyawarah mufakat dalam memutuskan sesuatu hal memberikan dorongan bagi peserta didik dalam memutuskan suatu kebijakan kelak ketika mereka sudah bekerja. Semangat gotong royong memberikan inspirasi nyata bagi peserta didik untuk mendorong etos kerja dan produktivitas kerja ketika peserta didik sudah menempati posisi dalam pekerjaan dan perusahaan. Semangat rela berkorban dan mengutamakan kepentingan bersama jelas dapat diterapkan pada iklim dunia kerja tanpa membeda-bedakan latar sosial dan budaya agar perusahaan dapat mencapai prestasi kerja yang tinggi.

8.8 Kelebihan Dan Kelemahan Sejarah Lokal

Sesuai dengan tujuan keputusan menteri Pdan K no .0412/U/1987:3) tujuan diterapkannya  kurikulum muatan local itu adalah:

1. bahan pengajaran akan lebih mudah diserap oleh siswa

2. sumber belajar di daerah lebih muda  dimanfaatkan  untuk kepentingan pendidikan

3. murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan lingkungan buaadaya yang terdapat didalamnya

4.  murid dapat meningkatkan pengetahuan demi daerahnya

5. murid dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya

6. murid dapat menerapkan dan memecahkan permasalahan yang ditemukan didaerah sekitarnya

7. murid lebih akrab dengan lingkungannya sendiri.

Berbicara masalah kelebihan pengajaran sejarah local, ini terutama hendaknya diartikan senagai usaha mengidentifikasi apa yang menjadi kelemahan-kelemahan dalam pembelajaran sejarah local. Ada beberapa aspek positif dalam pengajaran sejarah, baik yang bersifat edukatif psikologis  maupun yang bersifat kesejarahan sendiri, antara lain:

1. pengajaran sejarah local jika dibandingkan dengan pengajaran yang konvensional sangat jauh sekali. Dalam sejarah local, peserta didik  bisa mempelajari tentang sejarah lingkunagan sekitarnya dan secara langsung mengenal  serta menghayati lingkungan masyarakatnya.

2. lebih mudah membawa siswa pada usaha untuk lebih dekat pada pengalaman masa lampau masyarakatnya dengan kondisi saat ini dan  juga pada arah masa depannya. Sehingga siswa dapat menghubungkan masa lampau,masa kini dan masa yang akan dating. Jika dikaitkan dengan teori belajar maka akan mengembangkan kemampuan murid berfikir kreatif dan inovatif.

 

Disamping kelebihan-kelebihan dalam pembelajaran sejarah local namun ada beberapa hal yang menjadi kendala-kendala dalam pembelajaran sejarah local, yaitu:

1. terbatasnya sumber-sumber sejarah local, karena murid dihadapkan pada kejadian atau kenyataan, jadi soorang guru dituntut untuk memahami dan harus mampu menguasai metodelogi dalam sejarah.

2. memadukan tuntutan pengajaran sejarah local dengantuntutan penyelesaian  target materi yang telah tertulis dalam silabus dengan waktu yang ditentukan dan dengan ketat pula.sebab sejarah local membutuhkan waktu yang relative banyak dengan pertimbangan pembelajaran dilakukan diluar kelas.

 

 

Penutup

Banyak sekali keunggulan dan kelebihan yang dapat diperoleh dari model kegiatan pembelajaran sejarah lokal. Keberhasilan pembelajaran sejarah lokal dapat didasarkan pada pilihan dari model pembelajaran sejarah lokal itu sendiri yang cukup beragam. Namun demikian, pembelajaran sejarah lokal membutuhkan kesiapan pengorganisasian yang cukup matang dari pengajar sehingga program yang bertujuan dan berdaya guna baik itu tidak sia-sia saja.

Di samping itu, pembelajaran sejarah lokal memenuhi kriteria pembelajaran berbasis CTL yang menjadi roh dari kurikulum KTSP. Kurikulum ini memberikan peluang baik bagi pengajar maupun peserta didik untuk aktif berkolaborasi mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan melalui unsur-unsur lokalitas yang terdapat di lingkungannya dengan pendekatan teori belajar konstruktivisme dan inquiry.

Oleh karena itu dengan mengenali aspek kesejarahan dari peristiwa lokal maka peserta didik memiliki kebanggaan pada wilayahnya sendiri tanpa harus kehilangan semangat menghormati kebudayaan dan sejarah miliki masyarakat lain. Dengan mendalami pelaku sejarah dan peristiwa sejarah yang lahir dari daerahnya sendiri berarti mereka mempunyai pembanding terhadap keberadaan sejarah nasional. Bahkan sejarah lokal daerahnya dapat memperkaya keberadaan sejarah nasional tanpa ada niatan untuk merusak tatanan sejarah nasional yang sudah terdokumentasikan dengan baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdulgani, Roeslan. 1963. Penggunaan Ilmu Sejarah. Prapanca: Jakarta.

Abdullah, Taufik dan A. Surjomiharjdo. 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi. PT. Gramedia: Jakarta.

Ali, R.Moh. 1965. Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia. Bratara: Jakarta.

Ankersmid, FR. 1987. Refleksi Tentang Sejarah, Pendapat-Pendapat Modern Tentang Filsafat Sejarah. Terjemahan Dick Hartoko. PT Gramedia: Jakarta.

Carr, Edward. 1962. What is History.Knops: New York.

Gasalba, Sidi. 1966. Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Bhratara:Jakarta.

Gottschalk, Louis. 1975.  Mengerti Sejarah, Terjemahan Nugroho Notosusanto. Yayasan Penerbit Universitas Indonesia: Jakarta.

Hardjosatoto,S. 1985. Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, Suatu Analisi Ilmiah. PT. Liberty:Yogyakarta.

Hadi, Sutrisno. 1982. Metodelogi Researc. UGM. Yogyakarta.

Hugiono dan Poerwantana. 1992. Pengantar Ilmu Sejarah.Rineka Cipta: Semarang.

IG. Widja. 1988. Pengantar Ilmu Sejarah, Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan. Stya Wacana: Semarang.

____________.1991 sejarah local suatu perspektif  dalam pengajaran sejarah. Angkasa. Bandung.

Kartodirdjo. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodelogi Sejarah. PT. Gramedia: Jakarta.

Kuntowijoyo. 1993. Metodelogi Sejarah. UGM. PT Tiara kencana: Yogyakarta.

Koentjaraningrat. 1980. Pengantar Ilmu Antropologi. Aksara Baru: Jakarta.

Moammad, Hatta. 1970. Pengantar Kedjalan Ilmu dan Pengetahuan. PT. Pembangunan: Djakarta.

Muhammad, Yamin. ____. 6000 Tahun Sang Merah Putih

Notosusanto, Nuhroho. 1964. Sedjarah dan Sedjarawan. Balai Pustaka: Jakarta

________________. Sejarah dan Metode Sejarah. Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata: Jakarta.

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodelogi Sejarah. Ombak: Yogyakarta.

Abdullah, Taufik. 1982” beberapa aspek penelitian sejarah local”Depdikbud. Jakarta.

Tamburaka. 1997. Pengantar Ilmu Sejarah, Teori Filsafat Sejarah, Sejarah Filsafat Dan Iptek. Rineka Cipta: Jakarta.

The Liang Gie. 1977. Suatu Pembahsan Mengenai Pengertian dan Ciri Ilmu:Yogyakrta.

Abdullah, Abdul Rahman Haji Abdullah. 1994. Pengantar Ilmu Sejarah. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Depdiknas. 2002.

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hartatik, Endah Sri, 2007. Pemanfaatan Museum, Monumen Perjuangan, Makam Pahlawan dan Saksi Sejarah sebagai Sumber Sejarah. Makalah Seminar Peningkatan Pembinaan Kesadaran Sejarah bagi Generasi Muda Subdin Kebudayaan Dinas P dan K Propinsi Jawa Tengah di Kopeng Kabupaten Semarang.

Lestariningsih, Amurwani Dwi. 2007. Lawatan Sejarah sebagai Program Strategis dalam Meningkatkan Kesadaran Sejarah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Semarang: Unnes.

Muslichin, 2007. Kemah Budaya sebagai Model Pembelajaran Multikultur dan Penanaman Nilai-nilai Sejarah pada Generasi Muda. Makalah Pendamping dalam Sarasehan Kemah Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal di Protomulyo Kaliwungu 30 s/d 2 desember
2007.

Nurjanto, 2007. Wisata Sejarah sebagai Salah Satu Upaya Menelusuri Perjalanan Sejarah Bangsa. Makalah Peningkatan Pembinaan Kesadaran Sejarah bagi Generasi Muda. Subdin Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.

Suharso, R. 2009. Bila Sejarah Lokal Masuk Kelas Sejarah. Makalah Sarasehan Koordinasi dan Curah Pendapat Penguatan Sejarah Lokal untuk Meningkatkan Wawasan Kebangsaan Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga. Patra Jasa
Semarang, 24 Maret 2009.

Utomo, Cahyo Budi. 2007. Lawatan Sejarah sebagai Model Pembelajaran Sejarah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Semarang: Unnes.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Wasino, 2007. Penelitian Sejarah di Kalangan Siswa sebagai Model Pembelajaran Sejarah di Sekolah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Semarang: Unnes.

Wasino. 2009. Pokok-Pokok Pikiran untuk Penulisan Sejarah Lokal. Makalah Sarasehan Koordinasi dan Curah Pendapat Penguatan Sejarah Lokal untuk Meningkatkan Wawasan Kebangsaan Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Kebudayaan, Pariwisata,Pemuda dan Olah Raga. Patra Jasa Semarang, 24 Maret 2009.

Widodo, Sutejo K. 2009. Metode Penulisan Buku Sejarah untuk Menunjang Pendidikan Guna Meningkatkan Wawasan Kebangsaan. Makalah Sarasehan Koordinasi dan Curah Pendapat Pe-nguatan Sejarah Lokal untuk Meningkatkan Wawasan Kebangsaan Deputi Menko Kesra Bi-dang Koordinasi Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga. Patra Jasa Semarang, 24
Maret 2009

Zuhdi, Susanto. 2007. Lawatan Sejarah sebuah Tawaran Metode Efektif untuk Pembelajaran Sejarah. Makalah Seminar Nasional (Tidak Diterbitkan). Semarang: Unnes.